Do What You Love And Love What You Do

PERJALANAN MENCAPAI US$1,200 PERTAMA DARI JUALAN FONT DALAM 1 BULAN SEKALIGUS MENJADI DESAINER FIVERR PRO PERTAMA DARI INDONESIA.

Image for post
Image for post

Bismillah…

Perkenalkan nama saya Rian Rahardi, lengkapnya Mohamad Rian Rahardi. Saya ingin berbagi cerita pengalaman saya selama mempelajari desain grafis. Tidak ada maksud pamer atau riya hanya ingin sekedar berbagi mudah-mudahan bisa menginspirasi buat yang lainnya.

Sudah lama saya ingin mendokumentasikan perjalanan karir saya yang dimulai dari seorang bankir yang akhirnya memutuskan untuk terjun bebas menjadi seorang fulltimer desainer grafis.

Oke sebelumnya saya akan menceritakan background saya dulu.

Sebenarnya saya tidak pernah mengambil pendidikan formal mengenai sekolah desain apalagi jurusan DKV. Saya justru lulusan ekonomi jurusan akuntansi dari Universitas Pancasila, dan pernah bekerja di bank asing Standard Chartered Indonesia bagian keuangan selama 12 tahun. Jadi jauh banget sama profesi saya yang sekarang sebagai graphic designer. Yang saya dapatkan sekarang ini karena proses belajar secara otodidak yang didasari dengan hobi jadi tidak ada beban dalam menjalaninya, jadi seperti sedang bermain-main saja tapi bisa menghasilkan. Asyik kan kalau hidup bisa seperti itu?!

THE PROCESS

Pada dasarnya desain itu memang hobi saya. Awalnya saya belajar desain waktu masih SMA kelas 1 sekitar tahun 1996 (ketauan deh tuanya …wakakakak) di SMU 1 Depok. Saat itu mulai belajar photoshop cuma pakai Pentium 1 yang speednya cuma 75 Mhz … kebayang kan lemotnya ..hahaha. Dan saat itu di toko buku belum ada buku-buku tutorial desain, alhasil, belajar photoshop cuma dari menu Help di softwarenya :D Selain belajar photoshop saat sekolah saya juga belajar Adobe PageMaker 6 buat peng-layout an yang cikal bakal dari Adobe InDesign untuk software layout yang sekarang. Disamping itu saat SMA saya masuk dalam ekstrakurikuler majalah dinding dengan nama PINK’S (Pusat Informasi N Kreativitas Siswa), jadi hobi desain saya bisa saya salurkan disini.

Nah pas kuliah tahun 1998, sebenarnya saya ingin masuk kuliah desain tapi saat itu belum ada jurusan DKV, jadi akhirnya milih ke ekonomi akuntansi deh yang katanya biar gampang nyari kerjanya, padahal saya lulusan IPA. Saat kuliah pun saya masih tetap belajar desain, tapi kali ini tambah belajar web desain. Saya mempelajari web desain mulai dari pake notepad aja, mulai dari html dan css. Abis itu mulai pakai text editor yang lebih advance lagi yaitu Macromedia Dreamweaver. Saat itu dreamweaver belum diakuisisi sama adobe masih di bawah macromedia.

Lanjut saya belajar web desainnya atau lebih tepatnya web programming kali ya yang lebih interaktif page makanya saya belajar bahasa pemrograman ASP. Sayangnya asp kurang banyak sourcenya. Lalu ada temen yang kasi tau untuk coba belajar bahasa pemrograman PHP. Akhirnya mulai lagi mempelajari php dan memang php sourcenya lebih banyak dan juga hostingnya lebih murah karena basenya linux dibanding asp yang basenya windows. Saat itu saya build halaman web pure php jadi belum mengenal platform CMS kaya Joomla dan Wordpress org.

Lulus kuliah April 2002, saya bekerja di Surveyor Indonesia bagian data entry. Setahun kemudian mulai kerja di bank asing Standard Chartered bagian keuangan, tapi hobi desain tetep jalan.

Image for post
Image for post
Saat masih kerja di bank tahun 2010

Nah pas tahun 2004, Bersama temen-temen kuliah (Doddy Lubis, Bayu Pancakusuma, Linda Ardirika) bikin bisnis bareng yaitu bisnis distro di Depok, tepatnya di belakang stasiun UI, kalau pernah ada yang denger namanya Fashion Freak. Kalau antara tahun 2004–2008 ada yang pernah kuliah di UI dan pernah kos di gang pepaya pasti pernah liat distro ini atau yang sering naik kereta dari stasiun UI pasti sering lewat gang pepaya yang dulu pintu aksesnya masih dibuka tapi sekarang udah ditutup aksesnya ke stasiun.

Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post

Awalnya cuma bisnis distro aja titip jual dari brand-brand distro lain, tapi akhirnya kita memutuskan bikin clothingan atau produksi baju sendiri. Nah disinilah saya mulai belajar desain yang lebih serius lagi soalnya desainnya untuk komersial.

Saat itu saya yang bertanggung jawab buat bikin desain-desain kaos yang akan kita jual. Sayangnya saat itu saya cuma bisa photoshop yang outputnya dalam format bitmap/jpeg, sementara di produksi para tukang sablon mintanya kebanyakan dalam bentuk vektor. Akhirnya saya mulai cari tau apa itu vektor dan referensi yang didapat mengarah ke corel draw, tapi saya ngerasa kurang nyaman sama interfacenya. Dan ternyata saya baru tau kalau Adobe juga punya software pengolah vektor yang interfacenya mirip sama photoshop namanya Adobe Illustrator yang akhirnya saya pakai buat belajar desain berbasis vektor. Dari situ saya mulai belajar desain-desain yang berhubungan sama percetakan seperti flyer, brosur, price tag, banner yang biasanya percetakan minta dalam format warna CMYK yang pasti warnanya akan lebih turun dibanding format warna RGB. Selain itu saya juga bertanggung jawab dalam pembuatan website Fashion Freak berbasis php dan juga desain logonya. Dan kaos-kaos kami selain dijual di distro sendiri juga di titip jual ke distro-distro sekitar Jabodetabek.

Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post

Seru juga sih pengalaman ini karena kami tuh ketemu sama owner-owner distro lain seperti Randy Vocuz, Rido unkl347 , Rynni Kuyagaya, Kiki Bloop, Arif Maskom Ouval Research, yang rata-rata masih pada kuliah sedangkan kami udah pada gawe saat itu, dan sering bolak balik ke Bandung, karena saat itu distro lebih menjamur di Bandung

Dan pada tahun-tahun tersebut bisnis distro & clothing sangat menggiurkan prospeknya terbukti saat 2 minggu sebelum lebaran omset distro kami mencapai 5 juta per harinya. Sangat tidak disangka-sangka padahal posisi distro kami di dalam gang yang sempit.

Karena pada saat itu kami masih pada kerja kantoran dan pada sibuk juga akhirnya bisnis distro ini kita tutup setelah 4 taun tepatnya pas taun 2008, disamping itu juga kami udah gak bisa lagi ngikutin perkembangan fashion. Tidak lupa ucapan terima kasih kepada kru-kru Fashion Freak yang udah bantuin banyak. Hai Iiz Iskandar, Overdue, Alda Melani, Tiyas Utami, Muhammad Arif Rahman, Willy Fredian, Ytsejam Black Syid, Andrew Remote. You are Awesome!

Setelah itu sempet juga bisnis frame foto masih di tahun 2008, juga interior desain tapi cuma sebentar tapi lumayan kliennya dapat kedutaan Finland. Saat itu projectnya memindahkan logo kedutaan ke dalam ruang tunggu dan pembuatan poster untuk 4 musim, lumayan profitnya bisa buat modal bisnis berikutnya.

Image for post
Image for post
Interior desain di kedutaan Finland

Masih di tahun 2008, bareng temen yang sama (Doddy), kali ini cuma berdua, bekas distro kita rubah jadi bisnis sewa komik, mungkin ada yang pernah dengar namanya Komikaze!. Modalnya dari hasil bisnis interior desain. Di bisnis ini saya juga masih handle desain logo, layout 3D, flyer dan juga websitenya. Selain sewa komik, Komikaze! juga waktu menyewakan internet lewat hostpot ke kamar-kamar kost-an sekitarnya. Perkiraan ada 100 kamar dan 95% penghuninya cewe…widihhh…hahaha… Tapi gak bertahan lama bisnis tutup di tahun 2012.

Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post

Pada tahun 2009, saya bertemu dengan komunitas PeRI yaitu komunitas Paper Replika Indonesia, yang mana seni mendesain dan membuat objek terkenal seperti action figure, bangunan yang dibuat dari kertas. Dari situ saya mulai belajar 3D desain dengan menggunakan aplikasi 3Ds max. Belajar cuma sehari ke rumah sesepuh desainer paper-replika.com om Julius Perdana, seminggu kemudian udah bisa bikin paper replika Bis Sekolah kuning dan diberi nama KertasCraft.com sebagai branding. Tidak lupa sungkem sama sesepuh builder paper replika om Rauf Raphanus yang merupakan founder dari komunitas PeRI. Lihat web Kertas Craft

Image for post
Image for post
Hasil dari belajar 3D desain menggunakan 3ds max
Image for post
Image for post
Bis Kuning UI
Image for post
Image for post
IDS Creative Festival 2010

Nah bisnis saya berikutnya lebih aneh lagi, saat itu Komikaze! baru jalan setahun. Tahun 2009, bersama Doddy ini kami memulai bisnis peternakan domba…aneh kan… kalau ada yang pernah denger namanya Saung Domba. Kantornya di Margonda Depok sedangkan peternakannya ada di Tajur Halang, Citayam. Silahkan akses web Saung Domba

Ini bisnis yang sulit buat dijalani soalnya merawat ternak hidup yang kadang sakit trus mati. Di awal bisnis aja dalam sebulan mati 30 ekor, sedangkan 1 domba harganya rata-rata 1,5 juta, bayangin tuh…

Awal jualan qurban aja tahun 2009 itu buka lapak di pinggir jalan Juanda Depok, hari pertama malamnya dirampok 10 ekor… udah rugi 10 jutaan …shock banget deh pokoknya .. tapi itulah bisnis apapun harus dihadapin.

Image for post
Image for post
Awal saat menjadi peternak domba

Di bisnis ini skill desain saya dituntut lebih tinggi lagi soalnya harus mendesain yang berkaitan dengan domba selalu. Bagaimana harus memvisualisasikan sosok domba menjadi lebih menarik buat dilihat dan dipelajari bagi orang awam sampai harus membuat websitenya buat mengedukasi domba itu kaya gimana sih, apa bedanya sama kambing, khususnya yang tinggal di jakarta dan sekitarnya. Disini saya bertindak sebagai Finance Director sekaligus Creative Director, pokoknya semua masalah desain saya yang handle, mulai dari logo, brosur, banner, desain layout proposal, slide power point dan website. Disamping itu juga handle mendesain buat produk-produk Saung Domba, seperti :

Aqiqah Saung Domba, yang melayani jasa masak buat acara aqiqah. Web Aqiqah Saung Domba

Waroeng Domba Domba, yang khusus menjual obat dan peralatan ternak. Web Waroeng Domba

Roemah Kebun Catering Kebun, jasa layanan buat catering nasi box buat acara-acara. Web Roemah Kebun

Tapi sekarang sepertinya produknya sudah lebih banyak lagi.

Image for post
Image for post
Salah satu desain untuk aqiqah
Image for post
Image for post

Dari belajar desain di bisnis peternakan ini hasilnya sangat luar biasa. Waktu 2009 buka lapak di pinggir jalan kerampokan, maka kami memutuskan untuk jualan qurban di kandang peternakan saja, jadi jika ingin membeli harus datang ke peternakan. Tapi hal itu merepotkan bagi calon pembeli. Maka dibuatlah desain semenarik mungkin dan dipasarkan melalui website kami. Hasilnya sangat luar biasa, biarpun pembeli tidak datang ke kandang tapi mereka percaya dengan info qurban yang kami infokan di website kami terbukti tahun 2010 terjual domba qurban sebanyak 250 ekor dan tahun 2011 terjual 325 ekor dan begitu juga dengan tahun-tahun berikutnya.

Image for post
Image for post
Banner qurban 1434 H
Image for post
Image for post
Banner qurban 1436 H
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post

Ternyata visual desain yang tepat sangat berpengaruh pada peningkatan penjualan produk bisnis kita. Dan pada bisnis ini banyak yang bisa dipelajari salah satunya mengadakan workshop pelatihan peternak domba di Hotel Bumi Wiyata Depok yang mana kita sendiri sebagai event organizer nya. Terima kasih Rasmono, Winda, Siti Yuma.

Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Salah satu prestasi kami dalam mengadakan workshop
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Bersama crew Saung Domba

Disamping itu saya sempat juga mendesain cover buku yang penulisnya dari CEO nya Saung Domba (Doddy) yang diterbitkan oleh penerbit Penebar Swadaya dengan judul Langkah Sukses Menjadi Peternak Domba & Kambing Secara Ototidak.

Image for post
Image for post

Dan salah satu prestasi terbaik diliputnya Aqiqah Saung Domba oleh TRANS7 untuk acara WARNA Trans7 pada Juni 2012.

Saat di Saung Domba kami mensupport Pondok Yatim Penghafal Al-Qura’an Daarul Multazam yang di bawah asuhan ayah Helmi Ariwibawa. Saya saat itu menghandle desain-desain kebutuhan pondok mulai dari flyer, brosur, proposal hingga website dan semuanya kami berikan secara gratis. Saat ini Daarul Multazam sedang membangun pondok yang lebih besar untuk bisa menampung lebih banyak para santri yatim penghafal Al-qur’an. Silakan kunjungi website Daarul Multazam untuk keterangan lebih lanjut.

Tahun 2014, saya dapat job dari kantor buat handle bikin video farewell nya CFO Standard Chartered. Wah seneng banget waktu itu. Dengan menggunakan konsep stop motion saya buat video itu selama 2 minggu setelah pulang kerja. Ternyata project itu memakai hampir 900 frame dengan total durasi 22 menit dan hanya menggunakan VideoPad.

Selanjutnya saya dipercaya juga handle desain Newsletter salah satu divisi di kantor.

Image for post
Image for post

Dari situlah akhirnya saya percaya diri untuk mendirikan Rahardi Creative dan sedikit demi sedikit mulai fokus mengembangkan bisnis saya yang baru ini. Kunjungi website Rahardi Creative

Pada November 2014, saya mencoba kembali peruntungan di bisnis kaos tapi kali ini dengan konsep jualan online. Bisnis saya ini saya beri nama Always Love Indonesia dengan mengangkat konsep cinta tanah air. Saya sendiri yang mendesain kaos-kaosnya sebanyak 10 desain dan produksi kaosnya ke vendor di daerah Pondok Labu. Tapi sayang dari 120 pcs stok yang ada hanya terjual 30%. Bingung dengan stok yang sisa akhirnya saya sumbangkan ke Daarul Multazam, saudara, tetangga dan teman-teman kantor.

Image for post
Image for post
Mencoba kembali peruntungan di bisnis kaos

Momen yang paling saya tidak lupakan adalah saat saya sedang bingung ingin fokus di dunia desain tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Akhirnya saat sedang facebook an menemukan banner workshop Pelatihan Desain Identitas Visual — Zero To Hero pada Februari 2015 yang diadakan oleh 2 anak muda yang hebat M Ryan Saputra & Syamendra Eko Putra Widya, yang saat itu materinya akan diisi oleh kang Fikri Fauzan Hasan founder Kyuuki. Nah bonusnya ini yang keren yaitu edutour ke agency desain iCreativeLabs dan bertemu sang founder om Anggi Krisna

Image for post
Image for post
Momen yang paling tepat

Jadi seminggu sebelum pelatihan dimulai kami para peserta dibikin WA grup perkelompok isinya 5 orang dan diberi studi kasus. Dan kelompok saya kebagian kasus produk lokal gula semut yang ingin di branding. Kami ditugaskan untuk membuat nama merek, logo dan kemasan menarik untuk dipresentasikan pada saat workshop berlangsung.

Pada hari H saya canggung juga karena saya sendiri yang paling tua sedangkan peserta yang lainnya rata-rata masih pada kuliah…hahaha. Tapi alhamdulillah ternyata presentasi dari tim kami yang dinyatakan sebagai pemenangnya dan berhak mendapatkan hadiah edutour ke iCreativeLabs.

Image for post
Image for post
Desain inilah yang mengantarkan kami menjadi pemenangnya
Image for post
Image for post
Para peserta workshop Zero To Hero 2015

Seminggu kemudian berangkatlah kami ke Bandung menuju markas iCreativeLabs yang saat itu lokasinya masih di Jalan Piit. Momen ini adalah momen yang paling menyenangkan bagi saya karena baru seumur hidup berkunjung ke agency desain. Sampainya disana kami disambut baik oleh om Anggi dan selanjutnya om Anggi memberikan semacam pelatihan bagaimana besarnya potensi desain yang sebenarnya hampir sekitar 3 jam an. Kemudian dilanjut pelatihan potensi desain di dunia marketplace yang dipresentasikan oleh om Sahirul Iman. Di sinilah saya mulai mengenal yang namanya Envato, marketplace desain terbesar di dunia. Pulang dari sana saya sangat senang sekali dengan pengalaman yang didapat dan langsung mempraktekkan dengan mengirim desain ke GraphicRiver dan hasilnya…. direject.. hahaha… dan males buat nerusinnya lagi.

Image for post
Image for post
Om Anggi sedang memberikan petuah-petuah bijak

Semakin ke sini saya merasa bisnis Saung Domba bukan bisnis yang saya mau, bisnis yang saya mau adalah bisnis yang sesuai dengan minat dan hobi saya yaitu desain. Karena itu pada Juli 2015 saya memutuskan untuk keluar dari bisnis Saung Domba dan memutuskan fokus di Rahardi Creative ini. Sampai sekarang Saung Dombanya masih jalan dan dijalankan oleh teman saya itu tapi saya udah tidak terlibat lagi di sana.

Tak disangka pucuk dicinta ulam pun tiba ….halah…hahaha… Pada November 2015 di kantor saya mendapatkan tawaran paket untuk pensiun dini, setelah dihitung ternyata cukup untuk melunasi hutang rumah, hutang mobil dan tabungan yang cukup untuk hidup anak istri sementara, maka saya memutuskan untuk resign dari bank tempat saya bekerja sekaligus untuk menghindari riba. Dan akhirnya fulltime di Rahardi Creative dengan mencoba hidup dari desain orderan.

Awal tahun 2016, saya sempat galau karena bisnis by orderan adalah bisnis yang tidak saya sukai karena harus bertemu orang sedangkan saya orang yang introvert, jadi bingung kalau ketemu orang. Sedang galau-galaunya tiba-tiba di timeline facebook ada yang share kaya gini…

Image for post
Image for post
IdEA National Meetup 3

Yup… IdEA : Indonesian Envato Authors National Meetup 3, komunitas para author marketplace Envato yang diadakan di puncak Bogor. Saya jadi ingat kembali mengenai Envato yang pernah dikenalkan oleh om Irul dan berhubung tempatnya dekat jadi saya memutuskan untuk join ke acara tersebut dan ini merupakan kesempatan saya untuk memulai bisnis di dunia marketplace. Dan ternyata dunia memang selebar daun kelor. Pak ketua IdEA om Fahmy Hidayat ternyata teman seangkatan saya waktu di SMU 1 Depok ….hahaha, gak jauh-jauh ternyata.

Di acara tersebut bulan April 2016 ternyata saya banyak bertemu orang-orang hebat yang penghasilannya sudah mencapai ribuan dollar per bulannya dari marketplace Envato. Saya jadi semangat untuk belajar dari mereka. Seperti tim Inspirasign, DeThemenya om Ardho, mastah Internet Marketer om Agus Muhammad, dan masih banyak lagi.

Image for post
Image for post
idEA National Meetup 3

Sepulang dari acara tersebut saya belum langsung terjun ke dunia marketplace karena masih harus menyelesaikan beberapa orderan dari klien yang rata-rata mengerjakan project web desain antara lain Abaperdi Indonesia, Hasanah Pin, MasukDapur, Trip Trik Travel, WhatsNewBali.com, WhatsNewJakarta.com. Untuk yang project 2 terakhir saya bekerjasama dengan mas Aris Setiawan.

Akhirnya di bulan Oktober 2016 saya memutuskan untuk tidak menerima orderan desain dan fokus pada produk desain terutama produk print template untuk marketplace GraphicRiver di Envato.

Selama tiga bulan itu semua desain yang saya kirim semuanya direject sampai akhirnya di akhir Desember ada desain saya yang di approved. Rasanya lega sekali…!!!

Image for post
Image for post
Salah satu print template saya di GraphicRiver
Salah satu print template saya di Creative Market

Awal tahun 2017 merupakan tahun fulltime saya berbisnis jualan di marketplace GraphicRiver spesialis print template. Tiga bulan kemudian dengan dibantu om Agus, bisa open shop di Creative Market dan mulai jualan desain print template di bulan Mei. Gak lama di bulan Agustus saya coba open shop lagi di Creative Market dan di approved tapi saya belum tau mau diisi apa shopnya. Alhamdulillah … selama 2017 kebutuhan istri dan 2 anak tercukupi dari hasil jualan di marketplace.

THE RESULT

Font Design

Awal tahun 2018, saya awalnya untuk tetap meneruskan membuat desain print template. Tapi tiba-tiba di timeline facebook muncul ebook cara membuat font versi ke 2 yang ditulis oleh mas Muhammad Sirojuddin. Sebenernya saya udah pernah baca ebook yang versi pertama yang dikeluarin tahun lalu dan awalnya saya sama sekali tidak tertarik untuk belajar mengingat pembuatannya yang bisa sampai sebulan untuk 1 font saja. Tapi begitu baca-baca lagi ebook versi 2 nya, kok saya tertarik ya… tertarik sama earningnya…hahaha… Ya iyalah pasti saya tertarik sama earningnya karena saya kan punya keluarga yang harus dipenuhi kebutuhannya setiap bulannya.

Akhirnya saya memutuskan untuk mempelajari bikin font lebih dalam lagi. Jalan satu-satunya yang paling cepat adalah ketemuan sama orang yang udah terjun ke dunia font. Dan yang paling dekat ke rumahnya om Priyo Bagus Panji Waluyo dari Micromove. Sebenernya gak dekat-dekat amat sih, rumah saya di Depok sedangkan rumah om Panji di Bekasi ….wakakakak….jauhhh. Tapi demi sesuap earning saya bela-belain datang ke sana naik motor dan pertama kalinya saya ke Bekasi naik motor. Dan di Januari 2018, akhirnya saya datang ke rumah om Panji buat belajar bikin font pake Fontself. Kenapa Fonself? Simple aja, karena murah….wakkakak.. dan lebih gampang dipelajarinya, belum sanggup buat beli FontLab ataupun Glyphs.

Image for post
Image for post
Lagi belajar bikin font pakai Fontself di rumah om Panji

Balik dari rumah om Panji, besoknya langsung bikin font perdana dan hasilnya jelek banget…. wakakakak… tapi gak apa-apa namanya juga baru belajar. Nama fontnya Little Jack dirilis akhir Januari 2018 dan saya upload di akun Creative Market saya yang dulu udah pernah open shop tapi belum pernah dipakai, dan nama shop font saya adalah Creatype Studio.

Image for post
Image for post
Font perdana rilis Januari 2018

Saya belajar font juga ke om Ferry Hadriyan dan om Hendra Pratama walaupun cuma nanya sedikit tapi ilmunya sangat berguna, terima kasih om. Dan juga banyak belajar font dari grup BELFONT (Belajar Bikin Font) asuhan om Aryo Pamungkas.

Bulan berikutnya saya terus belajar bikin font lebih intens lagi, terutama melihat font-font yang laris di market yaitu font dengan signature style. Kalau belajar menulis seperti signature style beneran pasti belajarnya akan lama. Akhirnya saya menemukan cara cepat bikin font signature style yaitu dengan menggunakan Pen Tool di Adobe Illustrator dan modifikasi pada brushnya dan … BOOOM… font signature style jadi kurang dari 2 hari dan terlihat natural.

Kenapa saya harus menemukan cara cepatnya? Karena saya mempunyai anak dan istri yang harus saya biayai jadi saya harus bisa cepat menghasilkan earning.

Dan saya terus memproduksi font-font dengan signature style, terkadang saya menggunakan Pen Tablet untuk membuat font. Tapi pen tablet saya ini udah jadul saya beli tahun 2004 dengan merek Wacom tipe Graphire yang belum sama sekali saya gunakan dari pertama beli dan baru tahun ini akhirnya saya gunakan, jadi udah 14 tahun nganggur tuh pen tablet…wakakakak. Jadi bukan alatnya yang menentukan bagus atau tidaknya suatu hasil tapi siapa yang menggunakan alat tersebut.

Image for post
Image for post
Pen tablet Wacom jadul

Selain upload font di Creative Market, saya upload juga ke FontBundles, The Hungry JPEG, dan Creative Fabrica. Selain itu saya share fontnya ke sosial media Instagram, Behance, Dribble, Dafont dan LinkedIn. Kenapa ke LinkedIn? Karena di sana rata-rata punya income yang potensial untuk membeli produk kita. Tinggal invite aja bule-bule dari USA, Eropa, Australia yang titlenya Graphic Designer, CEO, Owner, Manager. Jadi pada saat rilis font kita share font kita ke LinkedIn yang mana 70% friend LinkedIn kita bule semua.

Hasilnya…. hanya dalam 2 bulan, di bulan Maret, Alhamdulillah font saya terpilih untuk dijadikan Free Goods dan terdownload sebanyak 90,117 kali dan efeknya masuk ke Newsletter Creative Market 3 kali berturut-turut dalam seminggu saja dalam kategori Free Goods, Fresh Design Goods dan Trending Goods.

Image for post
Image for post
90 ribu download
Image for post
Image for post
3 newsletter sekaligus dalam seminggu

Dan ada efek lainnya juga yaitu masuk 2 bundle di bulan yang sama di The Hungry JPEG.

Image for post
Image for post
2 bundle sekaligus di bulan yang sama

Lalu efeknya ke earning gimana? Tentunya sangat signifikan. Untuk sales di Creative Market saja pada bulan pertama (februari 2018) earning yang saya dapat US$100 yang saat itu hanya ada 5 font saja. Dan sales di bulan Maret 2018 earningnya naik US$900 untuk 6 font saja. Artinya ada kenaikan earning sebesar 900% hanya dalam 2 bulan saja. Jadi masih sangat prospek jualan font di Creative Market.

Dan total earning yang saya dapatkan di bulan Maret 2018 dari Creative Market, Fontbundles dan Creative Fabrica totalnya US$1,250. Dan ini di luar earning dari bundle.

Image for post
Image for post
Hanya dalam 1 bulan earning sampai $1,250
Salah satu font terlaris saya di Creative Market

Mohon maaf ini bukan untuk pamer atau riya, tapi untuk sekedar memberi gambaran prospek jualan font dan untuk memotivasi agar semangat terus belajar membuat font yang bagus. Karena banyak yang PM saya menanyakan berapa earning yang didapat setiap bulannya.

Fiverr Pro

Nah kalau untuk Fiverr Pro sepertinya ini merupakan efek samping dari konsistensi saya dalam mendesain produk print template sebagus mungkin untuk dijual ke marketplace yang kemudian previewnya saya upload di akun Dribbble saya. Pada Februari 2018, tim Fiverr melihat portfolio saya dan kemudian mereka meng-invite saya melalui email untuk join ke Fiverr Pro untuk kategori Flyer & Brochure. Padahal sebelumnya saya belum pernah jualan di Fiverr.

Image for post
Image for post
Invitation join ke Fiverr Pro

Setelah kita setuju join maka akan ada interview lewat skype dengan durasi sekitar 10–15 menit menggunakan bahasa inggris. Yang ditanyakan seputar bisnis yang sedang kita jalani apa aja dan gimana prospeknya. Selebihnya dia yang menjelaskan tentang Fiverr Pro.

Jika proses ini telah selesai maka kita akan dikirimkan email yang berisi link khusus untuk mendaftar dan mengisi aplikasi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang lumayan sulit karena sebagian jawabannya ada yang berbentuk essay dan harus membuat contoh portfolio secara custom work bukan dari template.

Di bulan Maret 2018, seminggu kemudian ada email bahwa aplikasi saya di approved dan akun saya resmi menjadi Fiverr Pro.

Image for post
Image for post
Email bahwa aplikasi kita diapproved join Fiverr Pro

Setelah ini kita akan dihubungi oleh Successor Manager kita dan akan di interview kurang lebih 1 jam. Jadi setiap Fiverr Pro akan diberi 1 manager pendamping untuk membantu kita dalam menyiapkan gig, konsultasi, dan sebagai mediator jika kita ada masalah dengan buyer.

Lalu nantinya akan dikirimkan email berupa panduan dalam pengisian gig yang tidak boleh sembarangan dalam membuat gignya. Dan nanti gignya akan ada revisi dari manager kita agar gignya bisa menjual dari deskripsinya.

Image for post
Image for post
Gig pertama saya yang sudah diapproved tapi belum direvisi

Keuntungan dari Fiverr Pro antara lain :

  • Harga gig minimal $100 dan maksimal $50,000
  • Delivery time bisa lebih panjang minimal 8 hari
  • Lebih mementingkan kualitas dibanding kuantitas jadi kerjanya kita bisa slow
  • Dalam sebulan cukup terima 5 order saja sudah lebih dari cukup earningnya
  • Pembayaran bisa lebih terjamin karena didampingi oleh manager

Oke segitu aja cerita mengenai Fiverr Pro. O iya saya diberi kesempatan untuk meng-invite 2 orang kandidat yang tertarik untuk join ke Fiverr Pro, untuk syarat dan ketentuannya silakan baca dahulu DISINI.

CONCLUSION

Seperti pada judul Notes ini bahwa untuk mencapai sebuah impian kita harus melakukan apa yang kita sukai dan menyukai apa yang kita lakukan jadi semuanya dijalani seperti tanpa ada beban. Jika sekarang saya berada di posisi ini, itu karena saya sudah menjalani 22 tahun apa yang saya sukai dan minati. Mungkin dengan melihat pencapaian saya jualan font hanya dengan 2 bulan saja sudah bisa dapat $1000 terlihat mudah atau belum pernah jualan di Fiverr tiba-tiba bisa langsung dapat posisi Fiverr Pro. Padahal itu adalah efek panjang dari apa yang saya lalui dalam menekuni apa yang saya sukai bukan dari didapat secara instan.

Walaupun saya belum pernah belajar desain secara akademik tapi selama 14 tahun saya belajar dengan cara menerapkan langsung desain saya ke bisnis-bisnis saya dan Alhamdulillah terbukti dapat meningkatkan sales, karena belajar bisa dari mana saja selama kita ada kemauan.

Jadi saran saya, kalau kamu punya impian kejar terus, gagal gak papa, coba lagi, istilahnya habiskan jatah gagal kamu sampai akhirnya impian kamu terwujud.

INGAT! Orang sukses suka melakukan apa yang orang gagal tidak suka lakukan!

Semoga menginspirasi.

Terima kasih

Rian Rahardi

Written by

Husband, Father, Font Designer, Creative Designer, Digital Product Designer, Digitalpreneur. www.creatypestudio.co / www.rahardishop.com

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store