Kembali

Richo Bagas
Sep 8, 2018 · 2 min read

“Yah, aku pulang nanti habis magrib ya. Jogja hujan sore ini" ketikku cepat digrup whatsapp keluarga. Setelah itu ku mulai merapikan barang-barangku yang berceceran diatas kursi. Waktu menunjukkan pukul 14.47. Aku akan menunggu sebentar lalu mulai berkemas untuk pulang hari ini. Telah banyak jadwal yang aku reschedule untuk kepulangan kali ini. Orang tuaku cukup pengertian, Mereka hanya memintaku pulang bila aku ada waktu. Jarak rumahku ke kampus tidak terlalu jauh, hanya tiga jam perjalanan darat. Dan ini, kepulanganku pertama setelah tiga bulan.
Hujan mulai reda, aku bergegas untuk pulang. Menyusuri kanopi menuju parkir motor sembari menghirup aroma tanah sehabis hujan, membawa banyak kenangan tentang rumah. Ah aku ingat, pelangi dimanakah engkau? Mungkin malu karena senja bergurat di langit. Sekali lagi aku hirup aroma ini, bersamanya tercium kopi seduhan bunda yang nasgitel, panas, legi (manis), dan kental, juga aroma rumah. Tenang, sebentar lagi aku akan segera menikmati itu semua. Kataku menenangkan degup jantungku yang kian memburu tak sabar bertemu ibu.
-----II----
Suara khas legenda tua milik ayah terdengar dari kejauhan, ternyata disini juga baru saja hujan. Ayah bersikeras untuk mengemudikan legenda tua padalah aku sudah melarangnya. Pakai ojol saja kataku, tapi beliau mengatakan sekalian mau beli titipan bunda.
Dibonceng ayah sehabis hujan membawa memori tersendiri bagiku, aku ingat betapa gagah dan bidangnya punggung tersebut kala itu. Aku merasa sangat aman dibelakangnya. Dan sekarang, aku tetap merasakan hal yang sama, tapi rasa rasanya tidak sebidang dulu. Semakin kita dewasa, semakin bertambah tua mereka. Itu adalah konsekuensi dari waktu. Rumah dan pulang, adalah kemewahan yang terkadang aku lupa memilikinya. Mereka tetap menanti disini, sembari berharap dan menyelipkan doa, dalam tiap hal-hal kecil yang mereka lakukan. Terima kasih ayah, telah menjemputku hari ini. Anakmu kembali sejenak untuk mengisi energi. Untuk mewujudkan mimpi-mimpi dan untuk berbakti.


Yogyakarta, 8 September 2018

    Richo Bagas

    Written by

    Belajar mengeja dunia melalui kata-kata