[INSPIRASI NYATA INDONESIA]

Ketika berbicara tentang pendidikan, apa yang terlintas di pikiran teman-teman? Sekolah? Siswa siswi? Mahasiswa? Guru? Buku pelajaran?

Tak ada hal yang salah karena semua hal di atas merupakan unsur-unsur yang terlibat dalam suatu pendidikan. Ketika ada orang yang bertanya, "sekolah kamu bagus?" aku seringkali menjawab, "ah ngga banget kok, tapi kalau berbicara tentang pendidikan yang kuperoleh, maka jawabannya adalah ya."

Bagiku, pendidikan tidak hanya sebatas pendidikan formal seperti kelas dan pelajaran di sekolah maupun kampus pada umumnya. Pendidikan adalah suatu kata benda yang memiliki makna mendalam, memiliki pengaruh besar, dan merupakan senjata terkuat dalam kehidupan ini. Bayangkan saja satu negara dengan orang-orang berpendidikan akan menghasilkan output yang bagus. Sebaliknya, negara yang kurang menganggap pentingnya pendidikan akan tertinggal oleh negara lainnya.

Aku menganggap pendidikan tidak berhenti ketika kita lulus TK, SD, SMP, SMA/SMK, maupun berkuliah. Bagiku, pendidikan adalah suatu proses berkesinambungan untuk terus menimba ilmu dan ajang untuk memperbaiki diri. Sejatinya, tidak ada manusia yang berhenti belajar dalam hidup ini. Ketika kita bekerja, mendapatkan masalah baru, menghadapi orang lain dalam kelompok, kita selalu menjumpai pendidikan.

Akhir-akhir ini Indonesia menorehkan prestasi di ASEAN Games 2018. Sungguh membanggakan, belum lagi dihitung berapa banyak karya-karya siswa-siswi hingga mahasiswanya yang diakui hingga dunia internasional.

Nah, aku ingin berdiskusi dengan teman-teman, menurut kalian gimana sih pendidikan di Indonesia? Menurut aku tentunya masih banyak kekurangan, tapi bukan berarti aku tidak peduli akan pendidikan di Indonesia ini. Hal seperti inilah yang membuat aku tersadar, bahwa pendidikan tidak boleh hanya diberikan melalui pelajaran atau mata kuliah semata, ada yang jauh, jauh lebih penting dari itu semua, yaitu pendidikan karakter.

Sebenarnya apa sih sangkut paut pendidikan karakter dengan pendidikan yang kita peroleh dari sosok pengajar? Pendidikan karakter ini istilahnya "jiwa" dari kepribadian seseorang. Orang yang memiliki karakter baik, sebagian besar mampu mengamalkan pendidikan yang ia peroleh untuk kebaikan dengan suatu identitas karakter yang kuat dan kokoh, tidak mudah goyah, dan tidak mudah berubah. Oleh karena itu, dibutuhkan mental pembelajar yang baik, tidak instan, dan tidak target oriented (artinya selalu menghargai setiap proses pembelajaran yang ia lalui).

Nah, bagaimana dengan Indonesia sendiri? Masih ada puluhan ribu pelajar yang putus sekolah setiap tahunnya. Berdasarkan data di atas terlihat bahwa masih banyak pelajar Indonesia yang masih kurang tersadarkan akan pentingnya pendidikan, terutama pendidikan tinggi.

Di sini, AMI 2019 hadir sebagai salah satu bentuk kepedulian serta pengenalan pentingnya pendidikan yang nantinya dapat mencetak calon-calon pribadi yang akan menjadi inspirasi nyata bagi Indonesia sendiri. Semoga AMI 2019 dapat menjadi wadah untuk bertanya, saling menginspirasi dan memotivasi orang lain, dan pada akhirnya mampu meningkatkan semangat berpendidikan dan berkarya lebih di Indonesia.

Ricky Wijaya
Teknik Sipil 2016
Kepala Bidang Materi dan Metode AMI 2019

Like what you read? Give Ricky Wijaya a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.