jangan sebat kami dengan rotanmu, jangan kutuk kami jadi melayu

Ridho Gunawan
Nov 4 · 4 min read

suara itu terdengar seperti gaung jejak terompah kayu

pada tengah malam yang legam, seperti suara sebuah tongkat

yang menggigil demam, terseret-seret sunyi yang telanjang

dikaukah pawang

bertandang malam-malam

merompak kebaya bulan

dari bukit siguntang

atau kau lanun

si jantan berjanggut panjang

menyentak naik dari tiang

macam anak musang

memeluk batang pinang

diam-diam mengerang

dalam liang lengang

aku agaknya oleng

bau kemenyan kampung

mengasap dalam sarung

meresap ke jantung

hingga tak di mata

kujeling kau tiada

kalau tak di lupa

kupanggil kau cinta

ah, mengada-ada saja

selalu yang berlalu

jadi anak-anak hantu

belum lagi berjumpa

aku takut tersergam bala

cukupkah sebungkah bismillah

kutiup-tiup bacin ludah

ke segala penjuru rumah

cukupkah segelas air putih

membuat kita kembali pulih

dari rasa cemburu yang mendidih

(oi, tersedak emak

bapak menyepak-sibak semak

mencari letak lubang minyak

sehabis makan kerak anak beranak)

padahal tiap buih laut yang bersepai

di ujung lidah pantai-pantai

tahu ke mana hendak mengurai

silsilah negeri yang terburai

“yang namanya hikayat, tuan

tak sedap, ya disedap-sedapkan…”

syahdan

tepuk tepung tawar juga

yang kau renjis-renjiskan

kau tahu masa pengantin dulu

tak sesakral buka kelambu

yang saban tegak main santak

tak segan pada datuk moyang

telungkup telentang

di atas ranjang

(zaman makan tubuhnya sendiri

seperti api dapur makan kayu meranti

pun tak dapat cepat menanak nasi

padi ditampi malah jadi biji mimpi)

tapi encik

aku atau dikau yang ngigau

meracau tak tentu galau

bertandang malam-malam

macam tak tahu adat resam

jantan betina tak boleh bersampan

berdayung-dayung tak sampai tujuan

“apa kau tahu di mana tepian?”

konon bujang singapura

meminangmu pakai guna-guna

tersebab kau teramat jelita

dan mulutmu bau surga

“apa kau minum tuak istana?”

yang berjoget di atas dulang

yang pinggulnya menjulang

bau wangi bunga tanjung

dicium orang sekampung

aduhai, buah apa itu

bersusun gantung

di balik gaun

“jangan digentel sagu rendang, mak-oi!”

kita ini orang sakit

orang yang suka merindu

suka bersiul lagu pilu

entah di tangga rumah

entah di bawah rumah

kadang lupa ambil wudlu

langsung mencangkung

memainkan syair burung

kadang tak sampai hati

melepas pergiyang terlanjur dicintai

(anak bini

makan hati

belum lagi datang pagi

sudah bangkit menyembah hari

tapi jangan dikebat kaki laki

pada sepi jiwanya kembali)

kau paham makna sesat

atau garang angin selat

itu ayat-ayat bermula hikayat

bahwa di hulu ada pintu

menghadap ke batu tugu

penuh rajah nama-nama

anak cucu raja-raja

dibawa jong dari goa

dari segala penjuru dunia

dunia kata, dunia senja

di dalamnya kita mabuk

cuma jadi kain buruk

membaca traktat

mata kita pedih

karena sedih atau letih

kitab-kitab bau darah

hidung kita gatal

karena kesal atau sesal

lagi-lagi perang

kita diserang

bayang-bayang

yang kian rumpang

jangan cium aku, puan

asin ini temasik punya

yang kawin orang benua

kita cuma jadi hamba

nanti dosa masuk neraka

jangan peluk aku, tuan

tubuh ini melaka punya

yang kawin orang eropa

kita cuma jadi hamba

nanti terbuang dari surga

“ah, aku takut terpaut

kau tak takut laut?”

tengoklah selatan

tongkang-tongkang datang

orang-orang main kompang

alangkah senang jadi gelombang

dapat melenggang mengantar pulang

“duh, jangan panggil aku sayang

aku tak berani jadi hulubalang…”

ada eloknya kita ke surau

mengaji nahu lupakan perahu

rabiul-awal yang lampau

lebai angkat aku jadi tengku

kau ingat, itu tukang kayu

langsung bujuk aku jadi menantu

sakit pirai kau jadinya

kusut masai segala rencana

tapi orang kampung suka pesta

hujan di timur hujan di utara

tiada sesiapa peduli bencana

maka lekas-lekas kita ke kota

naik sampan atau sepeda

sama-sama mengayuh lupa

“peluk aku, peluk aku

macam lepat kau lekat”

di mana kita berlabuh

di lubuk-lubuk tubuh

di mana kau lipat lenguh

di ujung gaung azan subuh

makan sumpahlah kita

lari dari majelis orang tua

asalku asalmu dari durhaka

sejarah yang fitnah semata

tapi kita tak pernah jera

sebab kita pinang muda

masak belum, mentah pula

“kami kutuk jadi melayu, kalian!”

dan hanyutlah maki hamun

ke kundur dan karimun

jadi timah yang disamun

ohoi!

jadi pasir dimakan air

jadi gambir dicecah air

jadi minyak! jadi minyak!

dilantak habis tak berjejak

(memang pukimak!)

mau apa lagi, puan

kita ini orang sakit, bukan?

dan kain bugis itu

gerimis yang amis

saban hari kauciumi

sudah berapa pagi

tak pernah kaucuci

air mata mahal, katamu

siapa yang mau jual, kataku

ada tahi angin di rambutmu

dan bekas ruas sungai

yang mengering

kita memang kerap cuai

menandai yang asing

dari yang terbuang

siapa paling setia, katamu

antara kata dan waktu

siapa paling luka, kataku

antara kita dan masa lalu

dan anak-anak ini akan lahir di mana

di segala tanah yang belum berdarah

tapi mata langit memerah

ada asap jerebu tumpah

semacam sumpah seranah

yang melimpah-limpah

dan dari lubang atap rumah

terlempar segala amarah

terbakar tenggara

terbakar bendera

layar-layar terkapar

api lapar, api lapar

(duduk di sampingku, tuan

aku sudah merangkulmu, puan)

jadi siapakah dikau

macam mempelai kena sakau

malam-malam ke bunguran

merompak kebaya bulan

tapi tukang tunjuk jalan

andai dikau memang pawang

hijaukan aku seperti ketapang

ke johor, ke riau, atau ke pahang

tak peduli ke mana kaki memanjang

kelak jika membiak riak manikamku

maka dikau jadi rahim segala ibu

tangkap kepala ular liar di sarungku

kisahkan padanya tentang kitab waktu

usaplah peluh lekaslah bersimpuh

jangan tunggu langit tubuhku runtuh

“ohoi, jangan sebat kami dengan rotanmu!

jangan kutuk kami jadi melayu!”

Pekanbaru, 2007

Marhalim Zaini

    Ridho Gunawan

    Written by

    Pernah gagal, pernah jatuh, pernah bangkit lagi. tapi belum pernah ke Amsterdam. 2022 ya.