Muara Hitam

Kali Malang

Cilincing, sebuah daerah yang terkenal sebagai perkampungan nelayan, sebuah daerah yang saya tinggali pekan lalu. Memang tempatnya jauh sekali dari tempat tinggal saya aslinya yang ada di sekitar pojok barat daya ibukota. Kampung yang saya tinggali justru berada di pojok lainnya yaitu timur laut mepet dengan Bekasi. Daerahnya memang tidak familiar dan banyak juga kisah — kisah yang berbau negatif. Namun, setelah membaca tulisan ini, saya harap persepsi itu dapat berubah seiring dengan apa yang telah alami disana.

Oh iya, pertama saya jelaskan dulu kenapa sejak awal bisa tiba di Cilincing. Jadi ini merupakan program live-in di rumah warga sebagai bagian dari rangkaian acara seleksi PPAN 2017. Ada sekitar 20an finalis yang mengikuti acara live-in tersebut. Sebagian besar dari kami memang tidak terbayang bagaimana keadaan di Cilincing. “Kampung nelayan…banyak preman…kumuh” itulah berbagai image negatif tentang daerah yang akan kami tinggali selama 5 hari.

Setiba di Kalibaru

Kami tiba di Kalibaru, Cilincing pada hari Rabu, 3 Mei 2017. Dari tempat biasa kami ngumpul, yaitu Gedung Disorda di Jatinegara, kami beramai — ramai menaiki Kopaja hingga Kalibaru. Setibanya di tempat tujuan, kami berkumpul di sebuah panti asuhan yang namanya Yayasan Puteri Kasih atau yang lebih akrab disebut “Rumah Kerang”. Kenapa sih namanya kayak gitu? Padahal beda tempat ama tempat industri kerrang yang ada di kawasan pesisir Cilincing. Nah, jadi kalau ceritanya suster pengurus rumah tersebut, nama rumah kerang dipakai karena motif tembok (sebagian kecil doang) dari rumah panti itu yang berbentuk kerang — kerang.

Di Rumah Kerang, kami disambut oleh adek — adek yang sedang bermain disana. Kami ikut bermain dan berkenalan dengan mereka…sampai acara sesungguhnya dimulai. Berkumpulah para finalis, panitia, dan beberapa ibu — ibu yang akan menjemput kita ke rumahnya. Nama kami disebut satu — persatu sesuai absen, tapi…nama saya di skip sampai tibalah Ibu Idah dari Bojem dan beliaulah orangtua asuh saya selama disana. Tapi sebelum cerita lebih jauh, Bojem itu tempat apaan sih? Jadi tempat ini sudah jadi bulan — bulanan kita dari finalis dan panitia, bahkan suster di Rumah Kerang. Bojem itu sejenis tempat kumpulan kafe malam yang dipenuhi oleh WTS. Terus nama Bojem dari yang saya dengar adalah singkatan pelesetan bawah jembatan.

Susah ngebayanginnya tinggal dibawah jembatan yang dikelilingi kafe malam. Seusai dari rumah kerrang saya keluar dengan ibunya dan lekas menaiki angkot dan menaiki jembatan yang menyeberangi Kali Malang. Dibawah jembatan, saya melihat banyak sekali kapal nelayan yang berlabuh. Kapal — kapal tersebut masih terbuat dari kayu, tapi sudah memilki motor jadi tidak membutuhkan layar lagi.

Melaut di pagi hari, berdagang di malam hari

Salah satu tujuan utama kami saat live-in adalah hidup bersama keluarga asuh kami hingga mengikuti mata pencaharian mereka. Kebetulan bapak asuh saya adalah seorang nelayan dan ibu asuh saya adalah pedagang lontong di malam hari. Setiba di Bojem, saya mengamati keadaan di pinggiran sungai Kali Malang. Sepanjang sungai hingga berakhirnya di laut, dipenuhi dengan kapal — kapal nelayan yang berlabuh. Sedangkan airnya sehitam batu bara.

Saya disambut dengan sangat ramah oleh keluargaku disana. Masakannya Ibu Idah juga sangat lezat, jelas beliau seorang pedagang makanan. Biasanya saya menghidangakan makanan andalannya ibu, yaitu sayur labu dan bermacam seafood yang beli di pasar ataupun hasil tangkapan Pak Saleh, bapak asuh saya. Sore itu saya diajak oleh Endang dan Mone, putra — putra Ibu Idah yang sudah lebih berumur dari saya, untuk mengantarkan penumpang dan kiriman barang ke pertambangan di laut. Pertama kalinya selama live-in saya menaiki perahu nelayan menuju lautan dan tiba di tempat tambang batu bara…dan ini hanya permulaan dari pengalaman baru yang akan didapat.

Tiap subuh, saya dibangunkan oleh Pak Saleh untuk berangkat melaut. Hariku biasanya dimulai dengan segelas kopi luwak dan sepotong kue. Kami berbincang setiap pagi dari rumah hingga tiba di kapal dan berangkat melaut. Ketika di kapal, saya juga diperkenalkan dengan para nelayan lainnya, mereka sudah sangat akrab dengan Pak Saleh. Dan setiap harinya, mereka para nelayan melaut ke arah timur menuju tempat biasa mereka memperoleh makhluk lautan. Awalnya memang saya sempat berpikir bahwa kami akan pergi ke laut lepas untuk menjala ikan — ikan yang berenang, atau menyelam ke dasar laut untuk mencari penghuni terdalam. Hingga kami tiba di situs penambakan yang berupa instalasi dari bambu dan jala. Melihat ke sekeliling patokan bambu tersebut memang dapat dijumpai banyak patokan lainnya, karena disanalah tempat mereka memanen ikan, di lautan yang airnya lebih tenang. “Hasil tangkapan memang hoki — hokian”, ujar Pak Saleh. Karena saya melihat bahwa ini sedang masa yang kurang beruntung bagi para nelayan. Hanya ikan — ikan kipper yang kebanyakan terjala, sedikit rajungan dan udang, dan jika beruntung mendapatkan seekor kepiting. Seusai melaut kami lekas kembali ke muara, semakin dekat akan terlihat airnya berubah dari lautan yang hijau menjadi sungai yang hitam. Kami selalu mampir ke seberang sungai untuk menjual hasil tangkapan ke pelelangan ikan.

Bapak dan ibu asuh saya juga selalu mengatakan, “udah kalo tidur tuh pas siang aja, kan kerjanya pagi dan malam”. Jika tadi saya sudah cerita tentang apa yang saya lakukan saat pagi, sekarang tentang di malam harinya. Ibu Idah biasa menyiapkan makanan dagangnya tiap sore dan memindahkannya ke tepi sungai tepat dimana beliau berjualan. Biasanya lontong sudah hampir habis ketika jarum jam pendek menunjuk angka delapan, tapi masih ada dagangan seperti gorengan dan minuman. Ternyata, jualannya itu setempat dengan deretan kafe malamnya Bojem, dan pembelinya biasanya adalah preman dan wanita — wanita yang bekerja sepanjang tempat itu di malam hari. Dan selagi saya membantu ibu asuh saya berjualan, saya juga seringkali diajak berbincang dengan orang — orang yang kerja di kafe malam tersebut. Saya biasa pulang kerumah setelah melewati tengah malam. Anehnya dirumah cukup bising karena music dangdut dari deretan kafe di dekat rumah, lumayan sulit untuk tidur di malam hari, pantesan saja orangtua asuh saya menyarankan tidur di siang hari. Kalau pengalaman live-in di rumah warga sih udah pernah, tapi kalau live-in di muara kampung nalayan yang malamnya berubah menjadi tempat seperti ini memang pengalaman yang jarang didapat orang manapun.

Melaut ke Timur

Impian para remaja setempat

Ketika hari kedua live-in, kami mengadakan kegiatan sosial untuk para remaja di Rumah Kerang. Seeusai waktu Maghrib acara segera dimulai. Dari belasan remaja yang hadir, hanya seorang lelaki yang hadir. Sebagian besar dari mereka adalah setingkat SMA atau SMK. Ramai sekali suasananya karena mereka anak — anaknya sangat aktif bahkan bisa dibilang pencalitan. Mulanya dibuka dengan ice breaking dengan permainan 1,2,3,4,5 yang harus memperagakan sesuatu dengan teman — temannya…seru tapi aneh deh permainannya. Kami juga menciptakan tagline untuk mereka yaitu “Cilincing…Yahud!!!”. Nah setelah itu baru mulai sesi yang lebih serius.

Sesi pertama adalah menggambarkan impian pribadi mereka dalam sebuah scattered map. Dari sini mereka dapat memprioritaskan mimpi mereka serta cara meraihnya. Sesi kedua adalah dimana mereka menggambarkan lingkungan hidup mereka dari rumah, tempat kerja, sungai, jalanan dan lainnya. Rada keplanologian sih bagian yang kedua tapi apa boleh buat. Setelah menggambarkan lingkungannya, mereka juga menyampaikan keinginan mereka terkait lingkungannya.

Penutup kegiatannya adalah sebagian dari mereka maju ke depan dan menjelaskan impian mereka yang ingin tercapai. Perwakilan pertaman adalah cewe yang paling pencalitan diantara yang lainnya biar seru. Ternyata mereka sudah memilki arah hidup yang baik dan banyak yang ingin melanjutkan sekolah. Ada juga hal lucu seperti pertanyaan “Kak, saya ingin sekolah dokter tapi sekarang ngambil SMK administrasi…terus gimana dong?”, kami juga pada bingung mau jawab apa. Setelah itu majulah anak serumah saya di Bojem, dia menjelaskan tentang lingkungan hidup di Kalibaru, atau lebih tepatnya Bojem. Mengejutkannya adalah dia berkata “sungainya kotor, banyak sampah dimana — mana, sama tempat kafe gak bener suka berisik pas malem…gusur aja udah”.

Temuannya adalah sebagian dari mereka memang ingin lingkungan hidup yang lebih baik seperti pembenahan perumahan kumuh, perbanyak pohon agar gak gersang, pembersihan sungai, dan penggusuran kafe malam di Bojem. Memang secara keseluruhan lingkungan di Kalibaru bisa dikatakan kumuh. Dari perumahan non-permanen yang padat, sungai yang sangat hitam, bahkan pelebaran daratan yang terbuat dari sampah kerang dan plastik. Memang pada bagian pesisir daratannya sudah bukan tanah lagi, tapi hasil tumpukan sampah kulit kerang yang sudah bertumpuk bertahun — tahun.

Saya bersama keluarga

Kampung di ibukota

Seusai kegiatan live-in memang mata saya lebih terbuka. Terutama mengenai realitas bangsa yang ada di ibukota negara kami. Kesenjangan di perkotaan memang sudah sangat besar. Pencitraan Jakarta yang berupa gedung — gedung tinggi, mall, taman, dan monumen sangat tidak sebanding dengan kantung perkampungan yang tersebar di penjuru ibukota. Kampung seperti di Cilincing merupakan daerah yang kurang terbangun. Seringkali ada persepsi bahwa daerah seperti Cilincing adalah daerah yang isinya masyarakat yang dengan keras menolak pembenahan atau penggusuran. Namun, lautan adalah sumber pencaharian mereka. Para nelayan hidupnya adalah melaut dan tidak dapat dipisahkan. Apabila ada pembenahan, maka benahilah tempat hidup mereka agar mencapai kehidupan yang lebih layak, bukan untuk sekedar estetika perkotaan semata. Masyarakat pada umumnya terdiri dari berbagai kelas dan mereka saling membutuhkan di kehidupan sehari — hari. Para nelayan dan keluarganya yang hanya dipandang sebelah mata di daerah Cilincing sangat penting keberadaannya terutama dalam menyediakan hidangan laut yang dapat kita santap di meja makan.

Salam,

Kakak Bojem