Sebelum Melemparkan Toga

Ada banyak pemikiran sehingga menimbulkan perbedaan. Keluarlah istilah yang sering dibilang anak muda kala nongkrong saat pendapat mereka berbeda dalam membahas suatu persoalan yakni kita beda pemikiran, katanya.

"Saya ingin wisuda setelah menikah. Jika nanti mentok, kisaran usia 30 tahun ke atas". Praktis beberapa orang yang sedang menjalani kuliahnya, yang sebentar lagi akan mendapatkan gelar, penasaran, kemudian bertanya saat saya mengatakan seperti itu. "Loh, kok begitu?". Sebenarnya saya sering mengungkapkan kalimat, "Saya ingin wisuda di usia 30" kepada eks temen kampus, SMA, dan temen-temen yang nanya, "Kenapa kuliah keluar?". Hal tersebut bukan karena ngumpulin uang dulu, kerja dulu dan lain-lain. Tapi ada satu hal yang mengganjal dalam jiwa saya saat ini.

Sebelum dijelaskan lebih lanjut terkait hal itu, mari perhatikan. Begini, saya sudah merasakan kuliah di dua Universitas berbeda, bukan karena tidak nyaman dengan orang-orang di kampus atau tidak sesuai hati saat mengambil jurusan, yang mana ujungnya saya memilih keluar. Akan tetapi tanggung jawab, almamater, dan ingin meremas pemikiran-pemikiran monoton yang hinggap dalam diri saya atau juga pemikiran orang lain. Pemikiran ini akan saya bahas di akhir tulisan. Terlebih, ada dalam persoalan kampusnya sendiri dan tanda tanya soal mereka yang sudah melemparkan toga, visi hidup kedepannya mau ngapain.

Pertama, soal tanggung jawab.

Wisuda lebih cepat kerapkali diidam-idamkan oleh semua mahasiswa/i. Ini fakta. Dan nanti anggapan orang lain terhadapnya, hebat, pintar, ulet, tentu demikian sebab ada banyak tantangan sebelum ia mendapatkan gelar, terutama bikin skripsi, yang katanya, malasnya minta ampun. Disamping itu pembimbingnya yang bikin geleng-geleng kepala terhadap sering absennya beliau dikala saat sedang butuh-butuhnya. Sudah melelahkan begadang malam-malam merampungkan suatu bab, eh siangnya dijengkelkan oleh makhluk yang kerjaannya ngilang mulu.

Singkatnya, graduation selesai. Wajah ceria, kiriman bunga dimana-mana. Tak lupa, menggandeng orang tua, juga mengajak keluarga untuk eksis bersama. Lebih dari itu, ucapan selamat memenuhi pesan WhatsApp dan kolom komentar media sosialnya. Akan tetapi keceriaan itu bikinlah sesingkat-singkatnya karena memang sejatinya akan sangat singkat. Karena jangan lupa dan sepakati bahwa kehidupan sebenarnya ada di depan mata selepas nama kepanjangan Anda dilengkapi gelar tersebut.

Benar kawan-kawan, kehidupan yang sebenarnya itu ada di depan mata sebab tanggung jawab menggunakan embel-embel gelar itu sesungguhnya ngeri. Saya akan mendeskripsikan, ambil contoh, mereka yang dapet gelar lewat fakultas keguruan akan ada banyak perhatian dari orang lain. Jangan jauh-jauh, dilingkungan rumah sekitar, oleh para tetangga, khususnya. Sikap atau attidute tak akan luput dari perhatian mereka. Sedikit saja berbuat kesalahan, akan berakibat fatal. Padahal, misalnya, karena kesibukan Anda mengajar di sekolah berhubung lulusan guru, hanya jarang berkomunikasi atau ngariung bersama mereka, cibiran akan hadir, "Orang berpendidikan kok gitu? Ga akur, ga beradaptasi dengan masyakarat". Setidak didengar oleh telinga Anda pun, info-info cibiran buat Anda akan ada. Dan itu pasti. Ditambah lagi, misal mengajar anak dari tetangga-tetangga Anda itu, akan selalu ada yang meremehkan, mempertanyakan keilmuan Anda, kesimpulannya, kerumitan-kerumitan muncul.

Dan bukan hanya dari fakultas keguruan saja tapi bagi yang menempuh pendidikan setelah sekolah menengah atas, tanggung jawab berkat dapetnya gelar itu akan terasa betapa ngerinya.

Kedua, lulusan mana?

Pertanyaan lulusan mana, bagi yang Universitasnya tak begitu dikenal, selalu menampakkan wajah kurang bangga. Malu mau menjawab dengan nada dan mimik wajah meyakinkan, terlebih ceria. Berbeda dengan orang yang lulusan Universitas ternama, menjawabnya tampak luar biasa. Barangkali lulusan Universitas ternama lebih kepada sering menorehkan prestasi, intinya ada alumni yang menjadi seseorang. Jika hal ini menjadi alasan malu untuk menjawab kita-lulusan-universitas Anu, mengapa tidak ingin menjadi "seseorang" di Universitasmu, yang mengharumkan nama kampus. Tidak perlu menunggu setelah menjadi alumni, tapi pas sedang masih label Mahasiswa. Karena sejatinya mau kuliah dimanapun, yang menjadi pribadi seseorang hebat, bukan dari kampusnya, tapi dari pengembangan bakat dari diri kita sendiri.

Pertanyaan pentingnya adalah perihal menjadi hebat itu memangnya seperti apa. Sekali lagi, ada banyak pemikiran sehingga menimbulkan perbedaan. Kolom tulisan ini bersifat sudut pandang pribadi.

Menjadi hebat, pada dasarnya, tidak melulu memikirkan IPK tinggi, kecuali buat mereka yang dapet beasiswa, mungkin ini penting buat kelangsungan hidupnya. Tapi ada rasa ingin mengubah, berani menjadi sosok pengingat, mengenai hal-hal yang kurang bagi dirinya terhadap masyakarat sekitarnya (ini point paling penting) atau kampusnya. Tujuannya agar terciptanya suatu perubahan. Walaupun nantinya tidak akan sesempurna yang sudah direncanakan tapi ada keberanian. Bukan hanya menjadi mahasiswa kupu-kupu, karena nanti praktik kontribusi untuk masyarakatnya apa jika tidak dilakukan saat sedang dikampus. Setidaknya agar KKN tidak dipandang negatif kalo sudah diaplikasikan di masyarakatnya sendiri.

Ketiga, Meremas Pemikiran-Pemikiran Monoton

Sudah wisuda, jangan-jangan tujuan utamanya akan menulis atau membagikan kiriman "Info loker dong".

Betul, rame-rame ke kantor polisi pusat buat bikin SKCK, Kartu kesehatan dan lain-lain. Kemudian membuat lamaran pekerjaan sbanyak-banyaknya, skenarionya jika nanti tidak ada panggilan-panggilan dari lamaran yang ia tuju, yang sesuai dengan jurusan saat dikampusnya, karena kebutuhan hidup, ia bekerjalah di bidang yang tidak sesuai dengan keinginannya sambil memegang prinsip, "Kerja dimana aja yang penting halal".

Padahal kalo tujuan setelah wisuda itu ingin kerja kenapa ga dari saat lulus SMA saja. Ini yang menjadi adanya pemikiran dari orang lain, "Kuliah atau engga, nanti tujuannya juga sama-sama kerja". Memang persetan dengan pemikiran supaya memiliki gajih tinggi kalo punya gelar. Justru, di zaman pilih-pilih kariawan seperti sekarang ini, segalanya dipertimbangkan, lur.

"Ah, kemarin mah saya kuliah niatnya cuma nyari ilmu saja" sebagai jawaban dari mereka yang setelah kuliah kemudian kerja. Padahal kata 'ah' terkadang mendeskripsikan kesombongan dan main-main. Jadi selama kuliah, dengan biaya mahal pemberian dari orang tua, cuma dipakai buat main-main? Monoton sekali. Jangan-jangan selama ini bukan nyari ilmu, tapi ijazah.

Sebenarnya tidak masalah atau tidak salah dengan tujuan selepas wisuda kemudian kerja. Masalahnya sayang sekali ilmu yang didapatkan dikampus tidak digunakan sebagaimana mestinya. Karena namanya ilmu, tidak dibarengi dengan aplikasi, akan hilang. Intinya, tidak sejalur itu memang menantang tapi efeknya atau resikonya sangat berpengaruh untuk kehidupan kita.

***

3 hal inilah yang menjadi penguat mengapa tak ingin cepat-cepat melemparkan toga seperti mereka. Sebab utamanya adalah tanggung jawab sebelum ada embel-embel gelar saja sudah agak berat, apalagi setelah mendapatkannya. Saya pribadi, tentu, tidak menginginkan seusai lulus dari suatu Universitas, hidup lurus-lurus saja. Karena lihatlah dan bukankah tidak sedikit eks mahasiswa hidup di sekitar rumahnya cuma diam dirumah, memokuksan diri dengan pekerjannya sedangkan ia tidak tahu polemik yang terjadi di masyarakatnya ada apa saja. Penyebab ini tentu dasarnya atas ketidakpedulian ia saat masih menjadi mahasiswa, terlalu cuek. Bahkan kampusnya sendiri, yang notabennya banyak yang perlu diubah, malah nyaman dalam situasi tutup mulut, keberaniannya 0 besar. Tak ada gairah dan tak tertarik untuk memperbaiki diri, terlebih memperbaiki bekas kampusnya, padahal sebenarnya mereka sayang terhadap adik kelasnya agar generasi setelahnya menjadi baik.

Jadi, mari, sebaiknya, mulai dari saat ini sering-sering bertafakur bagi mahasiswa tingkat akhir, setelah melemparkan toga visi hidup kedepannya mau ngapain. Atau bagi yang masih semester sekian-sekian, tentu menyiapkan tanggung jawab, kemudian jangan malu menyebutkan atau mengenalkan universitas Anda. Dan tangkis sama-sama pemikiran-pemikiran monoton itu dengan karya.