Sungguh Terlalu

Terlalu benci aku menunggu, menantimu, megabariku. Ingin rasanya kucolek dirimu, kukirimi surat aroma madu obat rindu. Tapi apa daya diriku tak mampu. Tak cukup keberanian apa lagi percaya diriku. Terlalu takut dirimu makin menjauh dan malah membangun benteng pelindung.

Terlalu tidak tahu harus bagaimana membuat kita saling bertukar apa kabar. Malu kalau harus melangkah dulu. Takut diabaikan. Padahal hati ini ngebet ingin mengobrol.

Sejujurnya terlalu khawatir kamu akan sudah sibuk dengan your whoever dan semuanya ternyata hanya wujud sikapmu yang baik sopan. Akan lebih menohok bila ternyata alasanmu adalah menjaga silaturahmi. Aku yang perempuan dan insan baperan serta mudah salah tafsir dan tersesat dalam pemahaman, kini hanya bisa berharap sembuh dari mala ini.

Terlalu lelah bila harus masih bertahan seperti ini, aku ingin jalan baru bersama orang baru, jodohku. Sudah kuikhlaskan kalau kau bukan jalanku. Tidak apa-apa. Kau pasti bukan yang terbaik apalagi yang paling klik. Hanya orang baik yang kusalah pahami. Bodohnya diri ini.

Sungguh Terlalu.

Sun, May 14th 2017
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.