Teman Baru

Aku ingin melamar jadi temanmu, apa masih ada lowongan?

Aku ingin kenalan denganmu ya, kudengar namamu Radio. Kudengar kau pintar menghibur, kudengar juga kau pandai bersenandung.

Kau mendengarku? Apa kau bisu?

Oh, bukumu bilang “Colokkan kabelnya ke stop kontak.” Dia bilang kau kelaparan sehingga tak berdaya menjawabku.

Aduh!

Ada apa denganmu, katanya colokkan kabelmu, aku sudah melakukannya. Tapi kau kenapa kemresek begini teman? Kau marah padaku?

Ternyata bukumu masih belum selesai bicara, “Setelah nyala, putar tunning-nya, itu loh tombol yang besar sendiri, gunanya biar dia bisa dendangkan yang kamu sukai, neng. Dia itu sangat cerewet, percayalah.” begitu katanya.

Baik, baik, aku akan menurutinya lagi. Setidaknya kamu tidak sedang marah, kan?

Kuputar searah jarum jam, tombol besar bertuliskan tunning itu.

Wah, bukumu berkata jujur. Kini aku dengar lagu kesukaanku kau tembangkan. Terimakasih teman, kau pengertian juga ternyata. Tau saja aku suka nembang juga.

Lagunya habis lalu kau mulai mengocehkan begini, bukan main, dari mana kamu tahu kalau sebelas orang meninggal akibat ledakan bom di, mana itu, Afghanistan? Itu jauh sekali dari sini lho.

Tidak salah aku ingin jadi temanmu.

Cukup disini perkenalannya, mari kita lanjut ke tahap selanjutnya, ya?

Jadilah sahabatku, oke? Bantu aku bilang pada si Sepi, suruh dia jangan pernah datang lagi. Temani aku kalau malam-malam aku terbangun dan kesulitan tidur lagi. Bantu aku mengusir si Galau yang suka sekali main-main kemari, aku tidak suka dia.

Kamu pintar nyanyi lagu Bahasa Inggris juga ternyata, ya?

Setidaknya untuk beberapa saat kedepan saja, temani aku ya…

Sun, April 16th 2017