Pekan Raya Pemuda

Sesi Foto Bersama di Kongres Pemuda

Tulisan pertama, jelek banget, maafin ya. Maafin juga kalau ada pihak-pihak yang tersinggung (terutama Pantia TUID karena banyak yang merupakan kakak kelas SMA gua hehe)

Jadi, hari ini ada pekan raya pemuda. Buat yang belum tau apa itu Pekan Raya Pemuda, jadi Pekan Raya Pemuda (PRP) adalah rangkaian acara yang diadakan oleh Kabinet KM ITB 2016 (Kabinet Nyala). Di PRP terdapat 3 jenis acara, yaitu Kongres pemuda dan Pasaraya Politik (Kompas), Kolaborasi Seni Budaya (KSB), dan Teknologi Untuk Indonesia (TUID). Personally, gua sangat berekspektasi sama kedua acara ini (Kompas dan KSB) karena dari OA LINE mereka, kelihatannya acaranya sangat besar. Contohnya Kompas, gua dengernya sih, acaranya bakal jadi kayak Kongres Pemuda 3 gitu, haha. Tapi ternyata acaranya tidak sebesar itu. Ohiya, fyi nih, kata kak Adit (Aditya Purnomo Aji PL’13), Kak Dhika (Mahardhika Zein Si’12) sebenarnya ingin acara ini jadi grand closing kabinet nyala, tapi dia gak menyangka bahwa akan se-chaos ini. Well, dari konsepnya udah bagus sih, kayak : ini loh acara besar dari kemenkoan dinamisasi kampus, kemenkoan inovasi, dan kemenkoan sospol. Cuma, karena eksekusinya kurang baik, gua malah menanggapinya sebagai tumpukan program kerja buangan yang harus diselesaikan karena sudah mendekati LPJ, hehe. Eh, tapi sebenernya eksekusinya tidak seburuk itu kok. Misalnya aja perform dari KSB itu, walaupun gua gak sempat nonton (karena ‘dipaksa’ Abay buat ikut kongres pemuda) tapi dari kostumnya (dan snapgram teman-teman) itu keren banget, kayak di Integrasi 2016 kemarin haha. Dan Kompas, pun, menurut gua keren banget karena bisa menghadirkan Mantan Ketua MK periode 2013–2015 sebagai salah satu narasumber talkshow-nya. Kurang tahu sih, kalau TUID, karena acara ini lah yang gua lihat sebagai sesuatu yang sangat dipaksakan. Publikasinya aja mendadak banget, malah gua kira TUID adalah acara Kompas yang diganti namanya hehe. Cuma, mungkin acara Pekan Raya Pemuda ini kurang hype aja, entah itu dari publikasinya, atau penuansaannya. Jadinya massa kampus yang datang tidak terlalu banyak. Ditambah lagi dengan adanya tiga mata acara besar dalam satu waktu, sudah dapat dipastikan kan, massa kampus pasti akan terpecah ke tiga mata acara tersebut. Ada beberapa hal yang bisa dievaluasi dari kegiatan Pekan Raya Pemuda, salah satunya jangan memilih tanggal di mana ada beberapa acara besar. Apalagi kalau beberapa acara tersebut diadakan oleh satu institusi yang sama, kesannya kayak memang sengaja acaranya mau sepi pengunjung. Yang kedua, penuansaan dan publikasi acara itu sangat-sangat berpengaruh terhadap hype dari massa kampus, khususnya gua (lol?) yang secara tidak langsung berdampak terhadap partisipasi massa kampus itu sendiri. Entah kenapa yang paling gua suka dari penuansaan acara kampus semester ini adalah Ocean Summit dan Pemira karena mereka menyebarkan gantungan dekorasi (atau apa lah itu namanya) di berbagai tempat sehingga membuat penasaran orang-orang yang melihatnya. Ditambah lagi untuk Ocean Summit mereka dekorasinya jauh sebelum hari-H, dan ada free ice cream Magnum dan Cornetto yang membuat massa kampus semakin aware dengan acara mereka. Lumayan kan, menambah partisipasi massa kampus. Yang terakhir, kalau memikirkan acara, selain konsep yang bagus, harus dipikirkan pula eksekusinya. Kalau konsep bagus tapi eksekusinya kurang ya jatuhnya tetap acara itu akan kurang bagus.

Sekian tulisan dari gua. Oh iya, besok masih ada Pekan Raya Pemuda nih, ikut ya! Siapa tahu eksekusinya lebih baik dari hari ini. Walaupun gua gak akan ikut sih karena masih sakit, hehe. Bye

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.