Maraknya Peredaran Narkoba Jenis Baru sebagai Konsekuensi dari The War on Drugs

Sebagaimana ditunjukan oleh berbagai media, saat ini kita dihadapkan oleh berbagai narkoba jenis baru, dimana berbagai narkoba jenis baru tersebut merupakan zat yang diciptakan untuk meniru efek dari zat yang telah ada sebelumnya, misalnya zat syntethic cannabinoids yang ditujukan untuk menghasilkan zat yang memiliki efek yang mirip dengan tetrahydrocannabinol (THC) yang merupakan komponen psikoaktif utama di dalam tanaman ganja. Terdapat peningkatan yang cukup signifikan terkait dengan kemunculan zat yang diklasifikasikan sebagai narkoba jenis baru, sebagaimana dilansir oleh liputan6.com, pada tahun 2012 telah ditemukan 216 zat yang diklasifikasikan sebagai narkoba jenis baru, dan pada tahun 2014 angka tersebut meningkat menjadi 450 narkoba jenis baru. Di Amerika Serikat, narkoba jenis baru yang banyak beredar adalah syntethic cannabinoids yang umumnya dikenal sebagai “ganja sintetis”, “K2”, atau “Spice”, dan juga syntethic cathinones yang umumnya dikenal sebagai ”bath salts”, dimana produk dari syntethic cathinones tersebut biasanya mengandung methylenedioxypyrovalerone (MDVA), mephedrone, dan methylone, yang mana zat-zat tersebut memberikan efek stimultan seperti pada amphetamine. Sementara itu, narkoba jenis baru yang banyak beredar di Indonesia adalah syntethic cannabinoids yang diinjeksikan ke dalam tembakau dan karenanya produk tersebut umumnya dikenal dengan sebutan “tembakau sintetis”.

Kemunculan berbagai jenis narkoba baru dan meningkatnya peredaran dari barang tersebut merupakan suatu persoalan yang memancing respon terhadapnya. Bagaimana kita merespon fenomena tersebut? Menurut pendapat saya, fenomena kemunculan berbagai narkoba jenis baru tersebut dan peningkatan atas peredarannya perlu disikapi dengan cara yang berbeda. Lebih dari itu, bagi saya, hal tersebut merupakan indikasi bahwa kita memerlukan suatu cara baru untuk menangani permasalahan mengenai narkoba.

“The war on drugs” yang dijalankan oleh pemerintah bukanlah sebuah solusi yang efektif untuk menangani permasalahan narkoba, dalam artian memberantas para pengguna narkoba. Dalam hal ini, istilah the war on drugs tersebut merujuk pada berbagi kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi penyalahgunaan narkoba yang dilakukan oleh orang-orang, seperti menerapkan status illegal pada zat yang diklasifikasikan sebagai narkoba dan upaya penangkapan dan penerapan hukuman mati kepada para bandar dan pengedar narkoba. Bahkan, upaya pemberantasan para bandar dan pengedar narkoba mencapai bentuk ekstrimnya di Filipina, melalui kampanye anti-narkoba yang dijalankan oleh presiden Duterte tindakan pembunuhan tanpa jalur hukum kepada para pengedar narkoba menjadi “legal”. Hasilnya; lebih dari seribu orang telah dibunuh tanpa melalui proses hukum karena diduga merupakan pengedar narkoba.

Tetapi, apakah cara-cara “tradisional” tersebut berhasil dalam menurunkan jumlah pengguna narkoba? Saya rasa tidak demikian. Penerapan hukuman mati pada terbukti tidak berhasil dalam menekan angka peredaran narkoba. Misalnya, di Indonesia, pasca eksekusi hukuman mati terhadap anggota sindikat pengedar narkoba Bali Nine yang dilaksanakan pada april 2015 tidak menghasilkan efek jera yang diharapkan. Kontras dengan tujuan yang ingin dicapai dari penerapan hukuman mati tersebut, justru data lapangan menunjukan sebaliknya; pada bulan juni 2015 jumlah pengguna narkoba di Indonesia tercatat sebanyak 4,2 juta dan pada bulan November meningkat hingga mencapai 5,9 juta. Artinya, data lapangan justru menunjukan bahwa cara lama dalam menangani persoalan narkoba bukanlah sebuah solusi yang efektif.

Justru, saya berpendapat bahwa cara tersebut mendorong orang-orang untuk semakin kreatif untuk menemukan molekul yang dapat membuat mereka menjadi “high”. Tentu saja pemerintah sebagai pihak yang berkuasa dapat melakukan pelarangan terhadap berbagai jenis kimia yang ditemukan memiliki efek kemiripan dengan substansi illegal yang telah ada. Pemerintah Amerika sejak 30 tahun terakhir telah mengupayakan untuk mengilegalkan berbagai psychoactive drug dan juga terus memperluas cakupan hukum terkait dengan hal tersebut, dan bahkan sudah 12 negara bagian di Amerika yang menetapkan status illegal terhadap setiap obat yang mengaktifkan cannabinoid receptor type 1 (CB 1) yaitu receptor di dalam otak kita yang bisa membuat kita merasa “giting” (stoned).

Tetapi, bahkan ketika pemerintah menambahkan substansi baru ke dalam golongan narkoba jenis I, II, III, dst, para designer drugs juga dapat menciptakan kembali substansi baru untuk menghindari jerat hukum. Karenanya, hal tersebut bukanlah suatu solusi yang efektif karena jumlah dari substansi psikoaktif sangat eksponensial dan hal itu justru mendorong orang-orang untuk semakin kreatif dalam menciptakan substansi baru yang dapat membuat mereka menjadi high or stoned dan belum dimasukan ke dalam undang-undang sebagai narkoba. Dengan cara tersebut, orang-orang dapat memiliki narkoba yang berada di dalam “grey area” dan dapat menikmatinya tanpa terjerat hukum. Dengan demikian, justru cara tersebut akan menghasilkan kemunculan berbagai jenis narkoba baru lainnya.

​Agaknya sangat sulit untuk membayangangkan untuk membentuk drug free society, suatu kondisi dimana masyarakat sepenuhnya bebas dari narkoba. Karenanya cara yang lebih baik untuk menangani permasalahan peredaran dan penggunaan narkoba adalah dengan regulasi pasar peredaran narkoba. Hal ini dikarenakan kecenderungan orang-orang sesungguhnya tidak menginginkan untuk mengkonsumsi substansi yang dijual di grey market, hanya sedikit orang yang secara aktif mengikuti perkembangan dari substansi yang dijual di grey market dan mencoba untuk menggunakannya. Kebanyakan dari mereka cenderung tidak benar-benar ingin menggunakan narkoba jenis baru karena minimnya informasi mengenai penggunaan dan berbagai dampak yang dapat ditimbulkan kepada para penggunanya. Menurut saya, kecenderungan yang menjadi alasan yang mendasari kenapa saat ini banyak orang menggunakan narkoba jenis baru yang berada di grey area hanya karena itu adalah alternatif yang bisa mereka lakukan untuk menikmati narkoba tanpa takut terjerat kasus hukum. Kebanyakan orang cenderung lebih memilih substansi yang telah beredar lama, artinya mereka lebih prefer untuk memilih narkoba yang sudah lama digunakan orang-orang dalam sejarah karena jenis narkoba tersebut memiliki informasi mengenai penggunaan dan tingkat keamanannya secara klinis yang jauh lebih banyak dan mudah untuk diakses. Jika terdapat ketersediaan dan dapat diakses secara legal untuk jenis narkoba yang relatif memiliki dampak negatif yang minim terdahap tubuh (least harmful drugs) orang-orang akan cenderung untuk memilih untuk menggunakan jenis narkoba tersebut. Orang-orang cenderung lebih memilih cannabis atau LSD karena terdapat sejarah panjang mengenai penggunaan dan tingkat keamanan dari substansi tersebut, juga karena informasi mengenai kedua substansi tersebut cukup banyak dan mudah untuk diakses, dan dengan demikian mereka akan menghidari versi subtitutif dari kedua substansi tersebut, yakni syntethic cannabinoids sebagai alternatif dari cannabis dan 251-NBOMe sebagai alternatif dari LSD, yang mana kedua narkoba jenis baru yang menjadi alternatif tersebut memiliki efek yang lebih kuat dan berpotensi tinggi untuk mengakibatkan pharmacological fatalities, yaitu kematian yang diakibatkan dari aksi langsung (direct action) dari tanaman atau narkoba di dalam tubuh.

​Namun, perlu dinyatakan sebelumnya, bahwa bagi saya ketika kita berbicara mengenai drugs atau narkoba, istilah tersebut sesungguhnya sangat mengandung ambiguitas karena istilah tersebut mengeneralisir berbagai substansi yang sesungguhnya memiliki karakter distingsifnya masing-masing. Ketika kita berbicara mengenai narkoba, seringkali kita tidak berbicara mengenai satu narkoba secara spesifik, padahal setiap substansi memiliki struktur molekul yang berbeda, cara kerja dan efek yang dihasilkan terhdap tubuh juga berbeda. Ada jenis narkoba yang memiliki potensi ketergantungan dan kerusakan terhadap tubuh yang sangat tinggi dan juga ada narkoba yang memiliki potensi ketergantungan dan kerusakan pada tubuh yang sangat rendah. Karena itu, regulasi pasar dibutuhkan untuk sebagai upaya penyaringan agar ketersediaan narkoba yang relatif aman untuk dikonsumsi mendominasi pasar peredaran narkoba sehingga dapat mengurangi kematian yang disebabkan oleh penggunaan narkoba yang tidak aman untuk dikonsumsi.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.