Gemawang Semenanjung Karawang

Hei, kita terpisah…

Antara hebatnya semenanjung dan pulau yang tanggung

Usahlah menangis, namun boleh kau rindu

Sanak saudaraku, haru, menunggu hari berganti kian pilu

Ibu, Ayah, sebentar lagi Abang sulung ini bertemu

Terlaksana hati untuk kuat, janganlah dia liar tak berkawat

Oma, Opa, apalah cerita dan cita?

Bungsumu ini sudah ingin mendengar tawa


Hoi, angkat jangkar dan kembang layar

Sauh sudah usai, terlalu mengandai

Jarang sudah kita berharap pada gourden berjumbai

Yang selalu menutup mata hatimu dan santai melambai

Sudilah engkau meraih sebentar gawai itu

Yang dengar-dengar hebat bisa cengkerama tanpa bersua

Namun apa daya, waktu mengejar waktu, manusia dikejar manusia, semua duniawi lebih digdaya

Daripada tubuh dan hati yang kangen tak berdaya


Tetapi, sudahlah, sudahlah

Tuhan Semesta Alam kupikir tidak mau mendengarmu menangis sampai satu minggu seperti ini

Kemudian satu minggu lagi, sebulan lagi, sewindu kemudian dan sesudah-sudahnya yang tak berkesudahan

Apa daya raga diterjang badai, sebesar aku dan pertemuan dalam andai

Kalian, teruskan hidup fana. Jangan beribadah dalam rana

Dirgantara dan Kencana Hebat ini tidak sanggup menahan angkara samudera

Terombang-ambingkan gelombang, dan tenggelam dalam luka pilu mendalam

Tinggallah puing-puing tak berguna

Serpih-serpih suci yang masih tersimpan kerinduan

Setidaknya, aku tidak terdiam

Aku dalam kembara untuk pulang

Dan mereka yang dalam kepergian ditelan sayembara

Setidaknya pula, mereka dalam perjalanan perwujudan

Selamat tinggal, cinta. Cinta Tuhan atas aku tetap saja menang

Selamat jalan, untukku.

Melihat awan cendawan yang tak tahanku tatap indah

Taman Firdaus menanti lebih elok dari Jalan Thamrin yang sakti

Tanjung seperti laut tak berujung

Gelap dan dingin ku tanpa hangat asmara

Asmara kehidupan dan jauh dari keTuhanan

Sudahlah, demikian, cinta

Aku terbaring di atas pasir tak berdaya

Semua sirna dan semu maya

Aku yang waktu hidup pernah berjaya

Kini harus menghadap sang Kuasa

Ingatlah saudaraku manusia

Aku seharusnya hidup, di atas perahu hasrat denganmu

Dan masih mengawang di atas semenanjung Karawang


Semarang, mendung tak kunjung hujan. November 2018