Lembar-Lembar Kesaksian

Di Gedung Tua, dalam Lorong Kejenuhan

Di antara jendela dunia, aku sibuk terdiam dan belajar merangkai kata-kata, dihantui tulisan-tulisan dari Camus sampai fiksi kehidupan Verne

Jam menunjukkan 18.20. Dia masih sibuk menyusuri lorong demi lorong, gang demi gang daripada ruang tertutup ber AC ini. Bersamaku. Hanya ada dua orang penjaga perpus. Satu clerk dan satu satpam berpakaian santai. Aku sibuk memegangi bukuku, di cover depan nya bertuliskan “Kiai Hologram”, penulisnya Cak Nun. Sambil menyusuri lorong demi lorong yang tetap tak jauh dari dirinya. Lorong lemari pasti ada celah, membuat dirinya terlihat dengan jelas dalam cakrawalaku. Seakan buku-buku ini mempersilakanku, tanpa pamrih. Arsip-arsip juga tak kalah rapi daripada buku-buku yang sudah sepuh. Di balik lembar demi lembar cakrawala dunia ini, terdapat rahasia-rahasia yang hanya dimengerti oleh pembaca. Hanya untuk yang mau membaca, konon. Dan di sudut pandang dia, rahasia-rahasia itu ada dalam sini. Butuh alat secanggih cerebro untuk mengungkap semua tanpa kata-kata. Tak mungkin hanya tanpa kata-kata. Setelah kata-kata pasti sebelumnya didahului oleh pemikiran-pemikiran, bad judgement yang mengarah kepada best mistake pada akhirnya. Kalau itu terjadi, maka permainan ini bisa-bisa lebih liar daripada sebelum-sebelumnya. Mijn God, bisa mampus saya dihunus pedang Arjuna kalau sampai mentok itu terjadi.

Dalam keheningan aku dapat mendengar arlojiku tertawa. Menertawakan keheningan yang seharusnya sudah lama sejak enam puluh dua menit yang lalu menjadi sebuah cengkerama dan tawa canda yang ramah di antara dua manusia. Seharusnya aku cepat-cepat berbicara, setidaknya sepatah dua kata sebelum waktu habis ku berdua dengannya. Seakan semuanya, batinku, arsip-arsip, buku-buku, bau cat yang khas, berisiknya ketik sang clerk entah yang dia kerjakan apa, dan aroma meja-meja kayu perpustakaan menjadi pressure group untukku, memerintahkan agar segera memecah keheningan dengannya. Sekarang atau tidak sama sekali. Aku masih di lorong memikirkan itu. Kepalaku penuh dengan perihal ide dan konsep agar segera memecah keheningan dan membuka pembicaraan dengannya. Tapi dia tampak tenang-tenang saja. Akhirnya, aku keluar dari lorong itu dan mendapatinya sedang duduk di sana. Di meja paling ujung dekat pintu, duduk membaca arsip tiga tumpuk dan aku hanya tertegun, mungkin ini saatnya.


Arsip-arsip perekrutan hasil seleksi awal tahun 2018 juga tidak begitu usang. Saya simpan dengan baik tepat di sela-sela buku metodologi riset dan buku-buku sejarah dan fiksi, di belakangnya aku sisihkan tempat untuk menyembunyikan arsip itu. Kertasnya sedikit termakan jamur, kekuningan, tetapi ya sudahlah. Tulisan-tulisan kejujuran nya tetap sama. Persis seperti saat kutinggalkan pertama kali dimasukkan ke dalam, sesudah proses seleksi selesai. Seleksi yang memakan psikis dan moral kala itu sudah dilupakan jauh hari, tepat setelah kerja efektif hari pertama Biro yang kugeluti. Biarkanlah. Biar itu semua menjadi lembar-lembar kesaksian, telanjang, agak jorok dan saru, hina, pelik polemik, tidak terhormat, daripada tidak menjadi saksi sama sekali. Jujur dan adil.

Bak manusia yang malamnya menegak 24 sloki, sekarang terengah-engah meraih saklar lampu kamar mandi. Dan ingin sekali kencing menghina-dinakan jubin kamar mandi di pagi hari dengan sporadis tidak tahu arah lubang kerana masih pusing tujuh keliling dan bersuara sumbang pengar bimbang. Itu adalah gambaran mereka yang lega, sekarang.

Tahniah lah kalian yang menang. Jangan sungkan untuk kalah. Apalah bagi kamu-kamu itu pasti baik. Hiraukan saja angin lewat, perkataan kritis tidak. Bangunlah negeri Babilonia penuh Utopia, dan runtuhlah dalam Dystopia negeri Persia. Terbanglah kau setinggi rasi Perseus, jatuh kemudian dalam lorong keabadian Ares. Terserahlah hidupmu, enyah dari hidup kami. Hiperbolakan semua manisan-manisan penghantar kopi pagi, dan Eufemisme kan semua kebusukan-kebusukan keripik kentang yang ditinggal tuan dalam air kehinaan.

Kami yang dilupakan, dibuang, di persona non grata kan. Oktober 2018.