The Unforgiving Forgiveness

Angkatan 2016 di FISIP adalah angkatan yang mengalami dinamika hebat dari dalam kalbu sampai nalar nya sendiri.

Dalam proses kaderisasi nya, Angkatan 2016 masih berkesempatan mengalami pengayoman dan pemberdayaan dari Angkatan 2013 yang tokoh-tokoh kampus nya pun terbilang bonafid. Namun, di tahun 2017, tantangan terbesar adalah menghadapi iklim politik yang mana jika seorang tidak cerdas, arif dan bijaksana, akan dengan mudah terpancing dan tersulut oleh konflik politik berkepanjangan. Tetapi, di sanalah proses pembentukan seorang kader FISIP.

Tahun 2017, saat proses-proses ini sedang ongoing, terutama ketika ada kesempatan mengikuti Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar yang ada di FISIP, kader-kader FISIP berlomba beraktualisasi dalam tingkat lanjut, di mana untuk level Kampus Oranje masih ‘dasar’ sesuai nomenklaturnya. Angkatan Pengkader, atau senior-senior nya, baik dalam maupun luar kampus, menerapkan pedagogi-pedagogi sesuai yang diturunkan angkatan-angkatan sebelumnya. Pada 2017 ini, pedagogi sangat berpengaruh dalam pembentukan kembali kader FISIP di tingkat lanjut daripada pra-dasar. Sertifikat, langkah organisatorik, atau sekadar berkontemplasi dalam dirinya yang sedang berperang dalam benaknya sebenarnya who am I, atau self-research. Melalui Hermeneutika masing-masing, kader-kader FISIP dibentuk dan plus ketika kader FISIP mengikuti organisasi mahasiswa ekstra kampus (OMEK) yang dalam satu atau dua circlus, orang-orang yang not very fond of them gatal-gatal dan kejang-kejang dibuatnya ketika melihat logo salah satu OMEK atau mendegnar salah satu nama OMEK disebut.

Dalam output ini, Angkatan 2016 menemukan jalan yang lebih jelas terhadap pembentukan dirinya, atau minimum paham peta yang dia buat sendiri dalam dinamika tersebut untuk melangkah lebih jauh. Artinya, secara segi politik, dalam bentuk apapun, positif-negatif, real-surreal, klasik-kontemporer, utopian-dystopian, dan lainnya mereka sudah paham. Termasuk langkah gerakan persona non grata yang sama sekali tidak kritis dan dewasa, ab hominem yang tidak profesional, dan ‘pembunuhan/pengebirian politis’ sudah dapat mereka rencanakan untuk ke depan. Siapa yang harus dimasukkan ke dalam koloni, siapa yang harus dimasukkan ‘kamp konsentrasi’.

Saya cukup prihatin bagaimana fenomena-fenomena nyata ini muncul dengan faktor rendahnya kemesraan antar individu, dan ini bahkan dialami subjek dan objek secara tidak sadar. Jangan pernah takut untuk menulis, bukan? Dan betapa fatalnya ini bagi seorang individu dan betapa destruktif bagi peta perjuangan seorang kader FISIP Undip.

Saya menemukan individu-individu yang bersikap menerima maaf dengan lapang dada seluas-luasnya, bahkan ketika mereka sendiri tidak sadar melakukan itu, atau sadar tetapi hanya sebatas pemikiran dan dialektika dalam kepalanya sendiri saat menatap langit-langit kos setiap malam sebelum tidur di saat-saat pasca kepengurusan ini. Sing uwis yo uwis, demikian kata-kata batin mereka, sang kekasih Tuhan di dunia ini. Maaf yang mungkin tidak dideklarasikan dari seorang itu kepada mereka, tidak terlintaskan bahkan. Atau lebih sayangnya, tidak pernah mau atau malu dengan kesalahan diri yang sudah telanjang duluan.

2019, janganlah kalian su’udzon, karena bakal diakhiri dengan su’ul khotimah. Tabayyun lah. Maafkanlah, karena menerima maaf yang tidak pernah terungkapkan, adalah sebuah tindakan yang tidak dapat dimaafkan.

Ab imo pictore, salut per sempre. Esprit de corps kalian memang bertahan. Karena kelapangan hati itu, kalian memaafkan dengan baik, ikhlas tidak meminta. Hanya meminta untuk tidak mengganggu diri kalian lagi setelah kenistaan itu. Istirahatlah dengan selow di masa-masa demisioner ini.

Selamat mempersiapkan pra kelulusan, 2016. Audaces fortuna iuvat
Untuk mereka yang dibunuh secara lembaga, disiksa batiniah baik nya, di non-grata kan persona nya.
Untuk mereka yang sudah tidak bernafsu lagi untuk melembaga, kerana duka lara pengkhianatan yang termaafkan.
Untuk mereka, yang ditinggalkan dalam pengayoman, diabaikan dalam pemberdayaan
Hanya sebuah tulisan keprihatinan non ab hominem. In Memoriam, 2017–2018
Semarang, akhir bulan ke-11, 2018.