“When I’m With You I’m Home.”

Sudah kurang lebih empat tahun saya menjadi anak rantau. Tiga tahun pertama adalah ketika mengenyam bangku sekolah menengah atas. Kala itu, saya bersekolah pada sebuah institusi berbasis asrama. Waktu bertemu orangtua (baik itu pulang ke rumah atau kunjungan orangtua ke sekolah) dibatasi. Begitu pula waktu untuk berkomunikasi via telepon, atau media sosial. Walaupun begitu, sekolah saya tidak terlalu jauh dari rumah. Meski sudah beda kota, setidaknya masih satu provinsi. Bertemu bukanlah perkara yang sulit, toh jarak sekolah hanya beberapa belas kilometer dari rumah. Jadi, tidak rantau-rantau amat, lah.

Setahun berikutnya, saya melanjutkan pendidikan tinggi di sebuah kota yang berjarak kurang lebih seribu kilometer dari rumah. Institut impian saya sejak sekolah menengah. Institut yang terletak pada kota yang masyhur namanya karena pernah menjadi lokasi bertemunya pemimpin-pemimpin dari Asia dan Afrika beberapa dekade silam. Sangat jauh dari rumah, beda pulau pula.

Menjadi anak rantau artinya pernah terjangkit homesick. Terserah mau mengaku atau tidak, setiap orang setidaknya pasti pernah terkena “penyakit” tersebut. Homesick bisa datang kapan saja. Namun biasanya, waktu-waktu rawan terkena homesick — sepengalaman dan sepengamatan saya — adalah pada waktu-waktu awal merantau, baik itu literally di awal merantau (misalnya saat menjadi mahasiswa baru), atau di waktu ketika awalnya bertemu, namun akhirnya harus berpisah lagi untuk sementara waktu.

Mungkin, homesick sesungguhnya bagi saya adalah ketika menjadi mahasiswa. Ketika masih menjadi siswa pada sekolah berasrama, homesick tersebut tidak terlalu terasa — lebih tepatnya, terasa lebih ringan dibandingkan ketika disini.

Karena kini berbeda. Ketika rumah terlampau sangat jauh dari kos. Ketika Masakan Padang terasa lebih manis. Ketika temperatur terasa lebih sejuk. Ketika suara Ibu dan Ayah terdengar berbeda karena hanya bisa didengar lewat telepon atau video call. Ketika harga tiket pesawat menjadi penebus rindu, sayangnya bagi saya terlampau mahal untuk terlalu sering pulang. Pun kedua orang tua saya cukup sibuk hanya untuk mengunjungi saya beberapa hari di kota ini. Jadilah, bertemu langsung dengan orang tua paling satu semester sekali.

Beda orang atau keadaan, beda pula metode untuk menyembuhkan homesick. Ada yang meluapkan kerinduannya dengan menangis. Ada yang menebus kangen dengan menelepon atau melakukan video call. Ada yang selalu menyelipkan do’a untuk kesehatan dan kebahagiaan orangtuanya. Ada yang menyibukkan diri dengan berkemahasiswaan di kampus. Atau barangkali ada yang bekerja magang di sela-sela padatnya waktu kuliah agar dapat meringankan sedikit beban kedua orangtuanya.

Bagi yang berdomisili di Ibukota atau di daerah-daerah yang berjarak kurang dari tiga digit kilometer dari sini, pulang sebulan sekali bukanlah hal yang masalah, jika ditilik secara waktu pulang pergi dan finansial.

Eh, tapi, sebenarnya homesick itu apa sih? Apakah hanya terbatas pada rindu rumah dan kampung halaman?

Setelah saya browsing, rupanya homesick, menurut Cambridge Dictionary, adalah sebuah adjektiva yang mengambarkan “the feeling of unhappy because of being away from home for a long period”— atau jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah perasaan tidak bahagia karena jauh dari rumah untuk waktu yang lama. Sementara itu, apakah definisi dari “home” sebenarnya? Bukannya secara awam kita mengenal “home” adalah sinonim dari “house”? Kalau begitu, mengapa namanya homesick, bukan housesick saja? Apa yang membedakan frasa “home” dan “house”?

Menurut BBC World Service, jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, yang membedakan home dan house adalah bahwa house hanya terbatas pada pendeskripsian terhadap bangunan tertentu, dalam hal ini adalah bangunan tempat tinggal biasanya. Nah, kalau home adalah tempat dimana kamu (biasanya) tinggal dan merasa dari sanalah kamu berasal.

Dapat disimpulkan bahwa home bukan hanya tentang pada bangunan rumah atau kota asal kita dibesarkan. Kata tersebut mengandung suatu perasaan; rasa memiliki, rasa rindu. Rindu ketika menjemput adik pulang sekolah. Rindu menyantap masakan ibu. Rindu jalan-jalan bersama ayah. Bertukar pikiran dengan ibu. Mendengar nasihat atau cerita nenek. Semuanya.

Jadi, mari kita redifinisi homesick. Homesick tidak hanya terbatas kepada rumah dan isinya. Bisa jadi, kita terkena homesick di rumah sendiri, atau homesick kita terobati tidak terbatas di rumah atau dengan orang-orang rumah (keluarga). Misalnya, di kota tempat saya merantau, saya merasa tidak homesick lagi ketika bertemu dengan sahabat-sahabat saya. Jadi, homesick saya terobati dengan tidak bertemu keluarga (di rumah), namun orang-orang lain yang saya anggap keluarga. Contoh yang lain adalah ketika lebaran tahun ini, saya tidak pulang ke rumah. Saya lebaran di rumah Nenek dari pihak ayah, yang dapat ditempuh tiga sampai empat jam perjalanan dari kota tempat saya menimba ilmu sekarang. Keluarga saya berkumpul disana. Jadi, homesick saya terobati tidak di rumah sendiri, namun di rumah Nenek saya, kan?

Kemarin malam, ayah saya menelepon jika sedang punya waktu luang, ada baiknya mengunjungi Nenek saya. Beliau bilang, jika beliau (ataupun keturunan-keturunanya) tidak ada di rumah Nenek, Nenek merasa sangat kesepian. Setidaknya, jika saya berkunjung kesana, rumah Nenek terasa lebih ramai.

Benar juga. Nenek saya homesick di rumahnya sendiri. Beliau hanya tinggal bersama dengan seorang cucu, om saya, dan istrinya. Ada dua kamar tamu di rumahnya, mungkin maknanya beliau ingin kami sering-sering pulang dan mengunjunginya, apalagi dengan usianya yang mulai menua. Saya, selama ngampus, sangat ingin sering-sering berkunjung ke rumahnya, namun beberapa kewajiban akademik atau kegiatan mengharuskan saya untuk tidak beranjangsana.

Ketika saya sedang punya waktu luang dan berkunjung ke rumah Nenek saya, beliau memperlakukan saya dengan sangat spesial. Beliau terlihat sangat bahagia. Beliau memasak masakan kesukaan saya. Saya diajak jalan-jalan, bersama dengan om saya. Ketika saya hendak balik lagi untuk kuliah, beliau membawakan banyak kue, memberikan sedikit rejekinya untuk saya, dan membungkus makanan kesukaan saya untuk dibawa balik. Raut mukanya sedih.

Saya jadi teringat lirik lagu gnash featuring Johnny Yukon yang berjudul Home:

“Doesn’t matter where we are
We are never far apart, no
Doesn’t matter where we go
When I’m with you I am home.”

— Bandung, 16 Juli 2017.

Saya yang (barangkali) sedang homesick.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Anam, Rifqi Khairul’s story.