Bernie Sanders out— Jill Stein in.

Mimpi Besar Kelas Menengah Progresif AS

Terpilihnya Hillary Clinton menjadi calon Presiden dari Partai Demokrat tidak begitu mengejutkan, hal tersebut sudah bisa diprediksi beberapa bulan sebelum digelarnya konvensi. Sejak jauh-jauh hari, Hillary telah mengantongi lebih dari 50% Super Delegates, begitupun dengan tokoh-tokoh penting Demokrat yang menunjukan keberpihakannya pada Hillary.

Lain halnya dengan Bernie Sanders yang mayoritas didukung oleh kalangan muda progresif dan kelas menengah. Pada masa kampanye, Bernie mendapatkan dukungan yang begitu masif dari akar rumput, sementara Hillary didukung oleh para megabintang Hollywood.

Citra Bernie sebagai politisi progresif memberikan angin baru bagi masyarakat AS, terutama dikalangan pemilih berusia 17–30 tahun yang-setidaknya, muak dengan dampak krisis berkepanjangan yang dialami AS. Masifnya dukungan dari pemilih usia muda kepada Bernie Sanders tidak semata-mata didasarkan pada citra pemimpin muda dengan umur yang relatif muda, namun pada keberpihakan politik dan garis kebijakannya. Berbeda dengan fenomena yang selama satu dekade ini terjadi di Indonesia.

Bernie menolak peran besar dari institusi keuangan dan sektor swasta dalam hal ekonomi. Di hadapan publik, ia dengan tegas menganjurkan untuk membuang segala sentimen rasial dan kegamaan. Bernie mengkritik dengan keras kebijakan luar negeri AS yang ekspansionis. Pernyataannya terhadap kasus rasialisme yang terjadi di AS belakang ini menarik dukungan dari para imigran dan kalangan minoritas.

Dan yang paling penting dari Bernie adalah janji-janjinya untuk mengimplementasikan kebijakan pro-rakyat ala sosial demokrat, perpaduan dari banyak hal tersebut menjadikan Bernie begitu populer ditataran akar rumput. Para pendukungnya membawayangkan AS dimasa depan akan serupa dengan negara-negara Skandinavia jika Bernie tepilih menjadi presiden.

Namun kekecewaan datang paska digelarnya Konvensi Partai Demokrat pada akhir Juli Lalu, Bernie memilih kalah, sekaligus mempromosikan Hillary untuk maju sebagai kandidat Calon Presiden. Keputusan Bernie tentu dipengaruhi oleh banyak hal, namun yang jelas, Bernie tahu bahwa ia kalah.

Kecewa tetap saja kecewa, bagi para pendukung Bernie yang tahu realitas politik secara mendalam, harapan terakhir yang diletakan pada Bernie adalah pilihannya untuk menentukan sikap politik yang tegas, bukan hanya mengalah karena tahu akan kalah.

Hal ini direspon dengan cepat oleh para tokoh Republik dan media konservatif AS. Mereka mengakomodir kekecewaan para pendukung Bernie, kemudian menawarkan Trump sebagai solusi dari kekacauan paska DNC. Masa reaksioner akan sangat rentat termakan tawaran itu.

Opsi lain kembali mengemuka, yaitu memunculkan pilihan alternatif melalui Partai ketiga. Sampai sejauh ini, baru dua Libertarian Party dan Green Party yang menyatakan siap untuk bertarung.

Bakal calon terkuat dari Libertarian Party adalah Garry Johnson. Ia tentu seperti seorang Liberatarian pada umumnya, dengan memegang teguh prinsip pro-bisnis dan pemerintahan minimal. Johnson digambarkan sebagai seorang yang konservatif secara fiskal, namun liberal dari segi sosial. Pada Pemilihan Presiden 2012, ia mendapatkan 1% suara popular vote, setelah sebelumnya terlempar untuk mencoba maju melalui Partai Republik.

Sementara bakal calon terkuat dari Green Party adalah Jill Stein. Seorang dokter profesional sekaligus environmentalis dengan karir gerakan yang panjang. Pada tahun 2012, Stein hanya mendapatkan 0,36% suara popular vote.

pict : politico.com

Nama Jill Stein sebenarnya sudah naik ke permukaan pada saat Hillary dan Bernie melakukan kampanye. Namun karena banyak visi politiknya yang beririsan dengan Bernie, ia terlihat menunda deklarasinya sampai Bernie benar-benar dinyatakan kalah dalam DNC. Bahkan, setelah digelarnya konvensi, dalam salah-satu wawancara Stein menawarkan Bernie untuk mengambil kursinya sebagai kandidat Presiden dari Green Party. Nampaknya semua orang jatuh cinta pada Bernie.

Johnson dan Stein sama-sama pernah maju pada pemilu 2012, keduanya sangat kontras dari sisi gagasan politik. Kebanyakan dari pemilih mereka adalah orang-orang yang memang mempunyai prinsip kuat dalam berpolitik. Namun nampaknya Stein akan sedikit mendapat berkah pada tahun ini, karena dalam beberapa survey 13% pendukung Bernie menyatakan akan memberikan suaranya pada Stein.

Sementara Johnson harus bekerja lebih keras untuk memungut sisa-sisa suara konservatif yang dikantongi Trump, jika melihat fenomena the rise of Bernie, Johnson tidak akan mendapatkan keuntungan dari sana.

Mengapa para pendukung Bernie lebih memilih Stein daripada harus menyerahkan suaranya pada Hillary? Jawabannya adalah Stein jauh lebih progresif jika dibandingkan Bernie, apalagi dibandingkan dengan Hillary. Banyak para pengamat yang mengatakan tawaran Stein juga terkadang tidak realistis untuk bisa diimplementasikan di negara seperti Amerika Serikat.

Para pendukung Stein boleh saja percaya diri dengan fenomena the rise of Bernie, namun mereka juga harus realistis bahwa Stein maju dalam Pemilihan Presiden AS, bukan Norwegia, ditambah dengan penolakannya untuk menerima uang korporat dan Super PAC.