JALAN ALTERNATIF

Kepala saya merasa pusing dan sangat berat setelah terbangun dari mimpi indah yang begitu singkat akibat begadang semalaman di kampus, untuk membantu teman-teman membuat pataka. Serta menemani salah satu kawan (sebut saja john) membuat tulisan penyebaran isu untuk sebuah momentum besar besoknya. Besoknya, hari itu tanggal 24 september 2018 tepat 10 hari setelah hari lahir saya adalah hari tani nasional.

Hari tani nasional hari yang dimana dimanfaatkan oleh beberapa mahasiswa dari sejumlah universitas turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi dan keresahan mereka terhadap kondisi agraria di tanah air kita tercinta ini, tidak terkecuali beberapa mahasiswa yang merasakan keresahan yang sama di kampus saya yaitu UNHAS yang tidak mau tinggal diam saja untuk momentum kali ini. Beberapa lembaga di kampus saya dan juga kampus tetangga bersepakat membuat suatu aliansi yang disebut “SERIKAT AMUNISI TANI” untuk memanfaatkan momentum tersebut.

Setelah melalui beberapa konsolidasi untuk hari tani tersebut akhirnya tibalah waktu dimana kita akan turun melakukan kampanye aksi di salah satu sentrum pusat arus transportasi di Makassar. Dengan bermodalkan sweater yang berwarna hitam untuk melindungi kulit dari pancaran sinar matahari dan buff untuk melindungi wajah dari debu dan asap di jalan, saya berjalan bersama kawan-kawan saya yang merasakan keresahan yang sama dengan yang lain untuk harus turun ke jalan dari tempat berkumpul ke depan pintu 1 UNHAS dan menghentikan beberapa truk yang lewat untuk memberikan kami tumpangan hingga ke titik aksi.

Setelah menunggu kawan-kawan yang lain naik ke truk akhirnya truk tersebut berjalan menuju ke titik aksi. Ketika berada di atas truk dengan suhu udara yang begitu panas di siang bolong ditambah dengan hembusan angin yang tidak begitu kencang tapi juga tidak begitu lambat, saya memperhatikan wajah beberapa kawan saya dan beberapa kawan aliansi yang juga turut berada di truk itu, wajah mereka menampakkan ekspresi yang sama yaitu wajah yang terkerut dengan tatapan tajam dan sedikit tersenyum, beberapa dari mereka tidak saya perhatikan karena wajah mereka berpaling dan menatap jalanan dan bahkan ada yang menyerukan “huuuu” mungkin saja dia merasa senang karena hari tani ini momentum yang ditunggu untuk menyampaikan keresahannya di depan publik ato mungkin saja karena berada di atas truk dengan angin yang berhembus yang sedikit membuatnya nyaman.

Ketika sampai di titik aksi setelah beberapa menit perjalanan di atas truk akhirnya kami berkumpul kembali dan membentuk lingkaran. Kami pun mulai melakukan aksi di tengah jalan sampai macet sehingga beberapa pengendara risih terhadap apa yang kami lakukan tersebut. Tapi kami tidak memperdulikan mereka bukan karena kita bersikap apatis dengan keadaan dan kondisi mereka yang mungkin saja lagi tereburu-buru atau mungkin saja lelah setelah beraktifitas dan ingin segera sampai rumah dan merebahkan badan mereka dikasur yang nyaman tapi kami ingin coba menyampaikan dan bukti bahwa ada ketimpangan yang terjadi dan ketidakadilan terhadap petani maupun buruh tani.

“Tapi kenapa harus melakukan aksi dijalan?, kan banyak metode aksi untuk menyampaikan keresahan tersebut, misal lewat tulisan, parade, musik, dll.” Seorang teman sempat menanyakan hal tersebut kepada saya. Awalnya saya sempat bingung dalam menjawab pertanyaan tersebut bahkan saya sempat berfikir betul juga apa yang dikatakan teman saya tersebut. Setelah lama merenungkan pertanyaan itu dan bertanya kepada kakak-kakak saya terkait metode-metode aksi akhirnya saya menemukan jawaban yang konkrit. Akhirnya pun saya mendatangi teman saya tersebut untuk menjawab pertanyaanya.

“Yah betul yang kau bilang tempo hari bahwa sangat banyak metode aksi untuk menyampaikan pesan dan keresahan yang dirasakan, tetapi menyebar lewat tulisan, parade, musik,dll tersebut hanyalah sampai pada penyebaran wacana saja tanpa adanya merubah kebijakan publik. Dan menurutku satu-satunya metode yang masih relevan dan efektif dalam merubah kebijakan publik yang digunakan orang-orang dulu sampai sekarang adalah aksi massa yang dimana kita turun ke jalan. Jawabku.” “Tapikan itu sangat merugikan masyarakat seperti membuat macet? Kan kau juga pasti jengkel toh kalo kena macet? Respon teman saya terhadap jawaban saya” “Iya betul, kita memang bertujuan untuk membuat macet karena ketika macet kita bisa menghentikan laju ekonomi di daerah dan bahkan negara sehingga aksi kita dapat di sororti oleh pemerintah, sehingga pemerintah akan mencari tahu apa sih keresahan kami dan pasti akan melakukan sesuatu terhadap hal tersebut.” “ betul juga sih. Jawab teman saya.” Macet memang merugikan banyak orang tapi jangan lupa orang-orang yang sedang mengalami kemiskinan dan diperlakukan secara tidak adil serta di eksploitasi oleh orang-orang yang hanya memikirkan diri mereka, kan itu lebih merugikan dibanding macet, lebih tepatnya mereka miskin dan di eksploitasi di akibatkan sistem.

Sebagai manusia seharusnya kita peduli dengan sesama kita, tetap berjuang terhadap mereka yang lemah “to make a better world for you and for me.” Salam perjuangan, tetaplah melaju di jalur yang tidak aman dan penuh rintangan, HIDUP MAHASISWA.