Groupon Pindahkan Layanan Cloud ke Colocation Data Center

Dalam dunia startup, perusahaan banyak menjalankan server mereka pada layanan cloud. Tapi begitu para startup tersebut mulai mencapai skala besar, pergeseran dimulai. Bersamaan dengan infrastruktur yang tumbuh cepat maka mereka pindah dari layanan cloud ke ke fasilitas colocation data center / server fisik.

Sebuah Kasus Menarik Untuk Dipelajari Mengenai Pindah Layanan Cloud ke Colocation

Studi kasus pindahnya groupon dari layanan cloud ke layanan server colocation.

Groupon, perusahaan e-commerce yang dikenal dengan bisnis layanan kupon web. Pada awal berdirinya, perusahaan startup ini menggunakan layanan cloud di Amazon Web Services (AWS) dan Salesforce untuk mengakomodasi pertumbuhan yang cepat. Pertimbangan awal Groupon sama seperti startup lainnya, untuk menghemat investasi server dan perangkat fisik. Sehingga seluruh pengeluaran dapat bersifat sebagai biaya operasional saja dengan menggunakan layanan cloud AWS.

Groupon sebetulnya telah membuat keputusan strategis pada tahun 2011 untuk berhenti menggunakan layanan cloud. Ketika telah mencapai skala tertentu, Groupon ingin dapat lebih mengendalikan infrastruktur mereka.

Pihak manajemen menjelaskan perpindahan data center Groupon ke DataCenterDynamics awal tahun ini. Groupon merupakan salah satu di antara perusahaan yang pindahkan layanan cloud ke colocation data center ketika mereka mendekati Status hyperscale. Selama dua tahun terakhir, penyimpanan raksasa Dropbox telah memindahkan akun 500 juta pelanggan mereka dari layanan cloud AWS dan ke ruang server di data center, banyak yang disewa secara grosir dari beberapa penyedia fasilitas data center.

Pertimbangan Biaya Layanan Cloud v.s Colocation Server

Pimpinan IT Groupon tidak merinci lokasi atau penyedia data center Groupon. Perusahaan baru-baru ini menyewa ruang server colocation sebesar 1 megawatt sebuah fasilitas data center terbaru di Sacramento yang dioperasikan oleh data center RagingWire.

Layanan cloud benar-benar bekerja untuk perusahaan startup pada tahun awal. Keberatan terbesar dengan layanan cloud adalah biaya manajemen. Bagi Groupon, biaya merupakan faktor utama dalam memutuskan berpindah ke colocation.

Ketika perusahaan startup menghabiskan USD 200.000 sampai USD 250.000 per bulan, ini merupakan tanda bahwa mereka perlu mengevaluasi infrastruktur layanan cloud.

Data center tetap merupakan yang terbaik untuk beban kerja yang konsisten. Groupon ingin mengoptimalkan stack dan menyesuaikan infrastruktur mereka terhadap kebutuhan yang ada.

Langkah berpindah dari layanan cloud ke lingkungan colocation melibatkan banyak pemangku kepentingan, dan membutuhkan banyak perencanaan. Ini model yang lebih efisien. Tapi Anda harus mengambil pendekatan holistik untuk seluruh infrastruktur dan siklus hidup.

Transisi dari layanan cloud ke collocatio center biasanya membutuhkan waktu antara enam bulan hingga satu tahun. Proses ini meliputi pengembangan kebutuhan bisnis dan kemudian mengevaluasi pilihan data center. Pastikan untuk menyertakan biaya konektivitas penuh dan pemulihan bencana dan bagaimana mereka mempengaruhi biaya proyek secara keseluruhan.

Groupon memiliki 5 bagian konfigurasi server dan beban kerja, dan menghitung biaya lalu lintas serta energi listrik untuk setiap bagian dan skenario. Groupon menggunakan virtualisasi dan pengepakan untuk meningkatkan pemanfaatan sumber daya, serta berjalan pada efisiensi server yang tinggi. Menggunakan sekat pendingin untuk mencegah hilangnya pendingin, dan mendukung kepadatan daya tinggi.

Orang-orang biasanya menggunakan sekitar di 5 kW per rak. Groupon membuat kepadatan rak 20kW hingga 22kW per kabinet. Groupon berjalan pada rak penuh, menggunakan ukuran rak server 42U. Tetapi secara aktif, Groupon melakukan percobaan dengan mencampur dan mencocokkan profil server dan beban kerja yang berbeda untuk mendapatkan hasil maksimal dari masing-masing rak. Groupon berhasil mengoptimalkan konsumsi daya di setiap rak.

Strategi Infrastruktur TI Untuk Perusahaan Startup Unicorn

Sebagaimana perusahaan startup anda terus berkembang, perusahaan perlu fokus pada edge computing. Hal ini dapat lebih mendekatkan sistem pada pelanggan. Jaringan pengiriman konten (CDN) dapat dijadikan pilihan sementara. Jika ingin lebih memiliki kemampuan tambahan, perusahaan dapat menggunakan edge data center ataupun modular data center.

Perbedaan utama edge computing terletak pada sistem komputasi dan pengelolaan data. Tidak semua lalu lintas perlu bersumber dari data center utama anda. Anda dapat memproses beberapa wilayah layanan geografis dengan menggunakan data center di tiap negara (edge computing). Ini semua tentang kinerja dan kontroldan merupakan tuntutan bisnis digital.

Demikian pelajaran yang dapat diambil dari Groupon yang memindahkan layanan cloud ke colocation server. Semoga bermanfaat untuk perusahaan startup unicorn Indonesia seperti GoJek, Tokopedia, Bukalapak, OLX, GrabBike, dan sebagainya.