Berbohong pada dirinya sendiri
Kali ini dia berbohong. Sekali lagi. Persisnya dua ratus kali. Ia hitung sejak pertama kali lulus. Terhitung saat ia masuk usia dewasa. Sesuai pikirannya. Yang katanya lebih mudah untuk menipu. Karena sudah banyak ditipu. Oleh banyak orang. Juga mungkin banyak keadaan. Setelah akhirnya lelah untuk karena ditipu. Akhirnya ia mulai belajar menipu.
Hari terus berganti. Usia yang jadi landasan kedewasaan tak lagi berarti. Satu persatu dibohongi. Tersenyum dan menertawakan banyak hal. Juga menangis dan menjerit dalam hati jika seandainya bisa didengar. Tapi begitulah. Banyak juga hal tak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Hanya menggumpal dalam pikiran. Selebihnya jadi sampah dalam benak yang tak beraturan.
"Kau baik-baik saja kan?"
Ada yang bertanya seperti itu. Lebih sering hati kecilnya yang mempertanyakan. Pertanyaan yang muncul bukan hanya untuk diberi jawaban. Tapi harus dengan tindakan.
"Aku baik-baik saja. Lihatlah senyum ini"
Ia tersenyum pada dirinya sendiri. Senyum yang sudah bertahun-tahun ia pakai. Bilang bahwa ia baik-baik saja. Tak ada yang salah. Tak ada yang sakit. Juga tak ada yang perlu dipermasalahlan.
"Kau serius?"
Lagi. Pertanyaan yang sama seperti sebelumnya. Hanya berbeda redaksinya.
"Sudah kubilang. Aku baik-aku baik saja!"
Kali ini dia balas membentak dirinya sendiri. Nurani kecil yang selama ini terus bertanya apa sebenarnya yang terjadi. Yang mungkin sudah bosan dibohongi.
"Kau berbohong. Aku sudah muak dibohongi oleh diriku sendiri!"
Kali ini ia menangis. Entahlah. Apakah semua orang pernah mengalaminya. Bertarung dengan dirinya sendiri. Baru kali ini hati kecilnya benar-benar muak.
"Maafkan diriku. Kali ini aku akan jujur. Aku terlalu sering membohongimu"
"Tak usah jujur pun aku sudah tahu"
Lalu mengalirlah air mata itu. Menangisi dirinya sendiri.
"Kau tahu, banyak hal yang sebenarnya aku tak mengerti. Aku tersenyum tapi tidak mengerti makna senyumku. Aku tertawa tapi tak mengerti apa yang sebenarnya lucu. Aku bilang bahwa jiwaku bergembira, tapi sejatinya kering keronta"
Lalu kenangan itu mengalir. Saat ia masih bisa menikmati senyuman yang tulus dari teman-temannya. Saat melihat kedua orang tuanya bangga melihat anaknya di wisuda saat kelulusan. Saat ia menangis karena ditinggal orang-orang yang menyayanginya. Kenangan itu benar-benar nyata. Tanpa topeng. Juga saat ia dengan mudah mengucap kalam-Nya. Saat langkah kakinya masih mudah menuju rumah-Nya. Seandainya ia bisa kembali ke masa lalu. Sungguh ia menginginkan hal itu.
Lalu ia melihat dirinya hari ini. Hidup dalam arus kehidupan yang sebenarnya ia ingkari. Berteriak tapi tak terdengar suaranya. Menertawakan hal-hal yang tak pantas. Membicarakan banyak hal yang tak layak didengar. Hal yang sejatinya ditolak hatinya dengan keras. Tapi ia tetap dengan tega menyayat hatinya dengan perlahan. Hari ini ia bersyukur karena akhirnya hatinya berkata jujur. Dan jiwanya mengakui kebohongannya.
Sudah lama ia tak berbicaranya dengan dirinya sendiri. Entah kapan terakhir kali ia berbicara dengan jujur pada hati kecilnya.
Entahlah. Hari ini dia menyesali satu hal : Telah berbohong pada dirinya sendiri.

