Esensi atau Eksistensi?

Kembali mempertanyakan

Tadi sore, sebuah perbincangan santai dengan seorang teman sedikit membuka ingatanku tentang pertanyaan yang sudah lama ku pertanyakan namun masih belum menemukan jawabnya.

Perbincangan dimulai dari dua buah kata:

Community Development

Dua buah kata yang menarik. Ternyata ia memiliki mimpi yang sama denganku. Walau dalam hal bertindak ia lebih maju daripada aku, namun semoga mimpi ini bisa terwujud dengan bersama-sama bergerak.

Ia bermimpi bahwa suatu saat himpunan kami dapat memiliki sebuah desa binaan yang berkembang memang karena kami melakukan sebuah pengabdian masyarakat disana.

Kemudian ia bertanya,

“Apakah mungkin kita melakukannya?"

Sejenak aku diam, idealisme anak muda tentu akan menjawab "Tak ada yang tak mungkin.", namun sebagian diriku berbisik bahwa masih banyak faktor yang harus difikirkan matang-matang terlebih dahulu.

Aku lebih percaya bisikan yang kedua.

Melihat realita, masih banyak dari kami yang malas untuk mengaplikasikan poin ke tiga dari Tri Dharma Perguruan Tinggi (Termasuk aku sendiri). Masih banyak yang belum percaya bahwa memberi dapat membuat seorang manusia lebih bahagia daripada menerima. Masih banyak yang berfikir bahwa mengabdi untuk negeri hanya merupakan tugas para abdi negara.

Berhubung satu tahun kedepan roda keberjalanan himpunan akan bergantung pada angakatan kami, berdiskusi merupakan hal yang menarik buatku akhir-akhir ini. Dan perihal "Community Development" ini menurutku merupakan sebuah pemicu yang baik.

Untuk apa kita melakukannya? Apa yang kita cari? Esensi atau eksistensi?

Kemudian ia bercerita tentang himpunan lain yang dapat menerangi sebuah desa yang belum pernah dialiri listrik. Pada tahun pertama, mereka membuat sebuah pembangkit listrik berskala kecil. Tahun berikutnya, pemerintah melihat itu sebagai sebuah pemecahan masalah yang baik dan mendanai mereka untuk membuat lagi dalam skala yang lebih besar. Dan pada tahun ketiga kampus melihat itu, dan konsisten membantu dengan mengirim mahasiswa untuk melakukan KKN kesana.

Menarik. Saat seorang mencoba mencari esensi, ia akan dapat eksistensi dengan sendirinya. Tentu tak mungkin berlaku sebaliknya.

Dan pada akhirnya ia menawarkan sebuah "Community Development" pada sebuah desa. Agar ini bukan hanya "Penyuluhan Masyarakat" saja, namun konsisten untuk membantu berbagai aspek baik sosial, budaya, ekonomi, infrastuktur, dan sebagainya dalam desa tersebut.


Do'akan, semoga kami bukan hanya bermimpi.
Do'akan, semoga kami dijadikan para pencari esensi bukan eksistensi.


Bandung

Yang kata orang kota yang tak hanya livable, namun lovable.

09.10.16 - 21.05