Saviour Tanujaya, 2018

Surat Untuk Diriku di Masa Depan

Pelajaran dari salah satu pendakian terbaik dihidupmu

Hari ini, tertanggal 12 Agustus 2018. Kamu baru saja turun dari pendakian Gunung Penanggungan, Mojekerto. Sejujurnya, kamu baru mendengar nama gunung ini tiga minggu yang lalu. Ia tak sepopuler kerabatnya, Semeru atau bahkan Rinjani. Tapi setidaknya ada beberapa pelajaran yang kamu bisa ambil dari dua hari satu malam di dua jalur pendakiannya.

Gunung ini tidak tinggi, hanya 1653 mdpl. Bahkan tidak ada setengahnya tinggi Mahameru. Jika kamu lupa, minggu lalu kamu baru turun dari Kawah Ijen. Setidaknya bisa dianggap latihan fisik untuk pendakian hari ini. Namun dari rencana waktu pendakian 4 jam melalui jalur Jolotundo, pada akhirnya kamu menghabiskan waktu 8 jam untuk tiba di tempat camp. Trek bebatuan dan berpasir membuat kamu dan teman-temanmu sulit mendapat ketinggian dengan cepat. Formasi tim pendakian yang terdiri dari 16 orang juga sejujurnya bukan tim yang ideal untuk melakukan pendakian.

Dalam kehidupanmu nanti, jangan anggap remeh apapun tanpa kamu merasakannya atau mengenalnya secara langsung. Selain itu, kehidupan kadang tidak selalu mengikuti standar idealmu. Maka selalu persiapkan dan rencanakan apapun sebaik mungkin. Jangan lupa selalu pikirkan kemungkinan terburuk dalam setiap pengambilan keputusanmu.

Maka pelajaran nomor satu, jangan anggap remeh apapun yang kamu rasa kecil.

3 dari 16 anggota tim pendakianmu baru pertama kali mendaki. 2 dari 16 baru pertama kali mendaki gunung sungguhan (Entah jika kamu anggap Kawah Ijen sebagai gunung daripada taman wisata alam). Dari total 16 orang hanya 2 yang pernah mendaki gunung ini, namun dari jalur yang berbeda. Bisa kamu bayangkan hasilnya? Banyak yang terpeleset dan sulit melangkah, setidaknya ada tiga pasang sepatu jebol, dan air minum yang hampir habis saat turun melalui jalur Tamiajeng. Namun teman-temanmu selalu kembali berdiri, sepatu diganti sandal atau bahkan tidak memakai alas kaki, dan air dapat kamu hemat sedemikian rupa sampai kamu pesan dua gelas Es Teh Manis saat tiba di Pos 2.

Kelak, kamu akan mengalami masa-masa sulit. Jangan bersedih hati, kembalilah berdiri. Hal yang hilang bisa diganti, serta dalam keadaan sesulit apapun cobalah untuk bertahan dan percayalah akan ada hal baik jika kamu bersabar.

Maka pelajaran nomor dua, jatuh empat kali bangun lima kali.

Sepanjang jalur pendakian, kamu melewati beberapa candi. Dari Candi Bayi diawal jalur pendakian yang terdiri dari susunan batu sederhana hingga Candi Shinta ditengah jalur pendakian yang memiliki susunan yang lebih kompleks dan tentu lebih estetik bagi netra dan juga mata kamera. Setelah melewati candi-candi itu, kamu mulai mendaki lagi dan melihat barisan bukit. Saat sore hari berganti malam kamu sudah mendirikan tenda, kamu melihat indahnya lampu-lampu kota dibawah dan bintang-bintang diatasmu. Hingga di puncak yang (seharusnya) kamu bisa melihat gagahnya Gunung Arjuno yang pada saat itu sayang sekali sedang tertutup kabut.

Ditahap selanjutnya dalam kehidupanmu, jangan pernah puas akan sesuatu yang telah kamu dapat. Selalu coba berbuat lebih, agar nilai kebermanfaatanmu dapat lebih luas dan dapat dirasakan lebih banyak manusia. Jalan keatas selalu sulit, namun pemandangan diatas sana selalu lebih baik daripada pemandangan dari jendela kamarmu.

Maka pelajaran ketiga, berusaha lebih keras untuk mendapat sesuatu yang lebih baik.

Salah satu temanmu seharusnya pulang ke negaranya Sabtu ini. Namun setelah tahu bahwa ada rencana pendakian Gunung ini, ia membatalkan tiket lamanya dan membeli lagi untuk hari Minggu pukul 4 sore. Tentu ia terkena biaya untuk pembatalan tiket lamanya. Selain itu, kami baru turun dari tempat camp hari Minggu pukul 9 pagi. Kalau saja ia telat turun, tiketnya sudah bisa dipastikan hangus. Tapi asal kamu tahu, ini mungkin terakhir kali kamu bertemu temanmu itu. Tak lama lagi kamu menyelesaikan kerja praktikmu dan temanmu mungkin baru kembali ke Indonesia dua minggu lagi. Mengunjungi rumahnya? Mungkin saja, namun biayanya tentu tidak sedikit.

Esok nanti, percayalah bahwa suatu momen tak dapat dinilai. Kenyataan bahwa kamu mungkin tak memiliki kesempatan kedua untuk bertemu teman, sahabat, bahkan kerabat dekat harus dapat kamu manfaatkan disetiap momen pertemuan dengan mereka. Terkadang harga suatu momen sangat mahal, namun kenangan berharga dapat kamu ingat seumur hidup dan kamu bisa dengan bangga menceritakan momen-momen tersebut pada anak cucumu kelak.

Maka pelajaran keempat, momen selalu lebih berarti dari materi.

Kamu sebenarnya baru mengenal teman-temanmu mungkin sekitar dua bulan lebih sedikit. Namun sebelum pendakian ini kamu sudah makan Bebek Sinjay bersama setidaknya lima kali, pergi ke pantai dan desa-desa di Jember, mendaki Kawah Ijen, berencana keliling Surabaya-Madura walau akhirnya hanya keliling Surabaya ditambah menonton film di bioskop bersama, hingga hampir setiap hari mengubah ruang komunal kantor menjadi bilik karaoke, serta banyak hal lain yang tak bisa kusebutkan satu persatu.

Dikemudian hari, kamu akan sadar bahwa konsep waktu itu relatif. Bekerja dengan rutinitas yang sama selama dua bulan dua minggu mungkin akan terasa lama, namun bersama manusia yang tepat waktu-waktu itu akan terasa singkat. Kamu selalu haus dan penasaran pada hal apalagi yang dapat mengejutkanmu hari itu. Sifat impulsifmu dan teman-temanmu membawa banyak pelajaran baru kedalam hidupmu. Teman baru dapat seolah-olah menjadi sahabat yang sudah kamu kenal sejak lama.

Maka pelajaran terakhir, ada ikatan yang bukan berasal dari darah.

Tidak terasa empat hari lagi aku akan menyelesaikan masa kerja praktikku. Dua bulan dua minggu terasa begitu cepat, semoga kamu dapat mengingat pelajaran-pelajaran yang aku dapat hari ini.

Tertanda,

Rihan.


Surabaya-Sidoarjo-Mojekerto

Jalan, yuk?

12.08.18 - 23.22