Ada Apa Dengan Bangkamu?

“Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, namun tak akan pernah cukup untuk keserakahannya” –Mahatma Gandhi

Akhir pekan panjang alias long weekend. Mungkin ada yang lagi leyeh-leyeh di rumah, ada juga yang tengah berlibur keluar kota, rehat sejenak dari penatnya rutinitas. Saya sendiri memilih untuk tidak ke mana-mana, di rumah saja menikmati istirahat dan keistimewaan untuk bangun lebih siang. Kebetulan pula, ada teman lama yang hendak berkunjung. Namanya Sari. Dulu kami kuliah satu jurusan, meski tidak seangkatan (ia junior satu tahun di bawah saya), kami sangat dekat. Saya kerap mampir ke kostan Sari, dan tidak sekali-dua kali Sari main ke rumah saya.

Sari anaknya selain rame, juga cerdas dan kritis. Yang berkesan buat saya ketika pertama kali bertemu Sari adalah logat bicaranya. Agak kemelayu-melayuan, dan beberapa kali ketika mengangkat telepon (yang saya duga dari orang tuanya) ia menggunakan Bahasa mirip Tionghoa yang tentunya tidak saya pahami. Memang, mudah ditebak bahwa Sari seorang keturunan Tionghoa dilihat dari parasnya yang cukup oriental.

Belakangan saya baru tahu, Sari asli dari Bangka Belitung. “Bangka Selatan tepatnya,” ia berujar. Oya, satu hal lagi ciri khas Sari, yaitu giginya. Ia memilik deretan gigi yang geripis dan sedikit kehitaman, layaknya bocah yang kebanyakan mengunyah kembang gula. Ketika kami sudah akrab, ia sempat membahas perihal gigi ini. Ia bertutur, “Aku nggak sendirian. Ayah, ibu, adik sampai teman dan tetanggaku punya masalah yang sama.” “Wah kok biasa gitu?” tanya saya. “Ya inilah berkat kekayaan alam Bangka Belitung,” ujarnya. “Lho kok? Maksudnya” tanya saya lagi dengan bingung. “Timah.” Sari mengucap satu kata itu dengan datar.

Sejak saat itu saya punya pengetahuan baru soal relasi gigi rusak dengan Bangka Belitung. Timah ternyata yang membuat gigi Sari dan mungkin ribuan warga Bangka Belitung lainnya menjadi lebih rentan dan rapuh. Kandungan logam berat dalam air inilah yang mengikis enamel gigi. Sebetulnya hal ini tidak serta merta terjadi hanya karena tanah di Bangka Belitung mengandung timah yang luar biasa kayanya. Sari mengungkap bahwa eksploitasi timah yang tak terkendali telah menyebabkan kerusakan alam Bangka Belitung dalam skala yang mengerikan.

Bukan sebuah hal mengherankan memang, faktanya Bangka Belitung, tepatnya Pulau Bangka sejak beberapa abad lalu dikenal sebagai salah satu penghasil timah terbesar. Di Indonesia? Salah, di dunia! Ya, silakan di-google saja. Beberapa tahun ini, Indonesia tercatat sebagai eksportir timah terbesar di dunia. Ini dapat dicek di portal berita dot com yang bejibun itu.

Namun apakah itu berdampak positif kepada masyarakat Bangka Belitung? Sayang sekali, jawabnya sebagian besar adalah ‘tidak’. Ok, memang ada beberapa pihak yang diuntungkan, tapi jika ditelisik lebih lanjut, hanya segelintir pihak yang menikmati benefit dari timah ini. Mereka adalah para pengusaha/perusahaan tambang timah dan warga yang mencari nafkah sebagai penambang, yang sayangnya sebagian besar adalah liar alias tidak berizin.

Bagaimana dengan mayoritas masyarakat Bangka Belitung? Ya seperti Sari tadi. Cuma kebagian ampasnya. Eksplorasi timah besar-besaran telah terjadi sejak sekian lama. Penambangan liar menambah runyam persoalan. Karena tidak berizin, maka penambangan dilakukan secara serampangan, mengabaikan kaidah-kaidah yang berlaku, sehingga ancaman keselamatan para penambang dan kelestarian alam menjadi tumbalnya.

Demi mendapat air yang layak untuk dikonsumsi, warga Bangka Belitung harus membeli air bersih. Bagi yang banyak uang, ini mungkin bukan masalah. Tapi nyatanya, tidak semua warga mempunyai daya beli yang bagus. Kiita membicarakan pembelian air bersih dalam jumlah besar, untuk satu keluarga dalam satu minggu saja, misalnya. Dari mulai minum, memasak, mandi, sampai mencuci, maka angka rupiah yang dikeluarkan menjadi tidak sedikit. Bayangkan, air ini adalah kebutuhan dasar manusia. Bersyukurlah bagi kita yang memiliki akses air bersih berlimpah secara gratis.

Sampai kapankah kondisi ini akan berlangsung? Entahlah, Sari sendiri sudah sampai tahap enggan untuk membahasnya. “Di mana-mana, siapa yang pegang uang paling banyak, ya dia yang menang.” begitu komentar Sari. Fakta di lapangan berbicara, keadaan sudah semakin buruk. Saat Sari masih kecil, ia mengingat bau dan rasa air belum sedemikian buruknya. Tahun-tahun itu, meski penambangan sudah banyak dilakukan, hutan masih cukup lebat, laut juga masih relatif jarang dieksplorasi.

Tahun-tahun terakhir ini, penambangan timah di darat mulai menipis. Inikah akhir dari ekploitasi timah di bumi Laskar Pelangi? Tentu tidak, penambangan terus berjalan.., di laut. *Hadeeeuuh* Hadirnya penambangan timah di laut menjadi mimpi buruk baru warga Bangka Belitung. Kapal penghisap pasir timah menjadi pemandangan lazim di lepas pantai. Skalanya yang makin massif membuat kualitas pantai dan laut beserta ikan dkk di Bangka Belitung menjadi tidak karuan. Dan sudah menjadi rahasia umum, bupati dan walikota setempat hanya membiarkan kehancuran alam ini terjadi. Masyarakat sudah paham, para pengusaha kelas kakap ada di balik layar dalam setiap kebijakan yang berhubungan dengan pekerjaan menambang timah. Bagi lawan politik yang coba untuk mengusik kenyamanan para pemangku kepentingan, bersiaplah untuk dibungkam.

Suatu hari Sari bercerita, tiap kali ia pulang kampung (yang paling banter sekali dalam setahun saat kuliah), hatinya miris. Betapa tidak, setiap ia melongok keluar jendela pesawat beberapa saat sebelum mendarat di bandara, sepanjang mata memandang terhampar lubang-lubang di tanah dalam berbagai ukuran: kecil, sedang, sampai menganga. “Masa’ begitu cara halaman kampungku menyambut aku pulang? Sedih banget ‘kan?” Sari bertanya (dengan logat Melayu yang menipis) tanpa mengharap sebuah jawab. Balada pulang kampung yang menyedihkan memang. Belum berhenti di situ, ada satu lagi cerita Sari yang saya ingat berhubungan dengan timah.

Sari memiliki seorang tetangga yang usianya terpaut beberapa tahun di atasnya. Tetangganya ini sebetulnya seorang pria yang cukup cemerlang. Ia sering membantu Sari ini dengan kesulitan belajar dan membuat PR ketika Sari masih duduk di bangku sekolah dasar. Lulus SMA, Sari merantau ke Ibukota untuk kuliah sedangkan tetangganya yang hanya tamatan SMA tinggal di kampung untuk membantu ekonomi keluarganya. Ia bekerja sebagai penambang timah ilegal di laut. Berbekal peralatan seadanya, para penambang timah di laut ini menyelam sampai kedalaman belasan meter, sampai berjam-jam setiap harinya, demi mendapat segenggam pasir timah.

“Tahu nggak sih mereka nyelam napasnya dibantu pake apa?” tanya Sari. Belum sempat saya jawab, Sari menyambar “Kompresor ban!” Ini sempat membuat saya terperangah. “Ah, serius kamu? Kompresor itu kan karbon isinya!” gugat saya. “Lha iya!” kali ini Sari terdengar seperti seorang emak-emak Betawi. Rupanya sarapan dengan nasi uduk telah memelintir lidahnya. “Ngeri kali pun…” Saya sok-sokan berekspresi macam orang Melayu. Mereka para penyelam ini bertaruh nyawa untuk mengambil timah di dasar laut, untuk kemudian dijual ke pengepul, lalu para pengepul ini menjualnya kembali ke perusahaan pengolahan timah resmi, yaitu PT Timah.

Di darat, Sari memaparkan bahwa kehilangan nyawa akibat tertimbun tanah saat menambang timah bukan lagi berita baru. Tiap bulan ada saja berita tentang kecelakaan di tambang timah liar yang menelan korban jiwa. Sungguh di luar akal sehat manapun. Tapi begitulah faktanya: tanah hancur, lubang menganga, air tercemar, habitat laut rusak, kesehatan terganggu, nyawa terenggut. Semua dampak penambangan timah di Bangka Belitung ini membuktikan kutipan Gandhi di awal tulisan ini. Sebagaimana Sari, saya gagal melihat adanya solusi. Belum ada tanda-tanda keserakahan tangan manusia yang mengobrak-abrik bumi Bangka Belitung ini bakal berhenti, atau setidaknya berkurang dalam waktu dekat ini. Yang memegang uang paling banyak masih menjadi pihak paling kuat…

Malam telah larut. Itu sedikit curhat saya menyambut kedatangan Sari esok hari. Kini ia telah berkeluarga, suaminya alumnus fakultas sebelah, sedangkan putranya sudah berumur 4 tahun. Ah, tak sabar rasanya melihat senyum manis Sari dengan gigi geripisnya…

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Rika Nisa’s story.