Desa Makmur Peduli Api

“To be a world class forestry company dedicated to implement sustainable forest management, by fostering harmonious community engagement, ensuring economic viability and practicing environmentally friendly principles.”

Begitulah visi Sinar Mas Forestry (http://www.sinarmasforestry.com/about_us.asp?menu=1), anak perusahaan Asia Pulp & Paper (APP) pemain utama dalam bisnis kertas dan bubur kayu berskala global yang ternyata merupakan perusahaan asli dari Indonesia. Untuk mencapai visi tersebut, APP melalui Sinar Mas Forestry membuat program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) yang selain bertujuan sebagai membangun hubungan yang harmonis dengan komunitas yang berada di dalam wilayah atau sekitar konsesi juga sebagai solusi jangka panjang dalam mencegah kebakaran.

DMPA adalah pengembangan wilayah kehutanan dan pertanian yang terpadu dan merupakan hasil akhir dari evaluasi yang dilakukan dari pelaksanaan program-program Pemberdayaan Masyarakat yang telah mereka lakukan sebelumnya. DMPA menjadi model terbaik dari program pemberdayaan masyarakat agar lebih optimal. Selain itu, DMPA juga memiliki fungsi untuk menghalau berbagai gangguan atau ancama terhadap kelestarian hutan; kebakaran hutan, perambahan, konflik lahan serta pembalakan dan perburuan liar. DMPA sendiri dimaksudkan untuk menjadi wadah bagi keberlanjutan penghidupan masyarakat yang berada di dalam maupun sekitar wilayah konsesi APP dengan memperkuat kerjasama dan keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam atau hutan lesarti. Perusahaan sebesar APP tampaknya telah memahami, bagaimana keterlibatan masyarakat dalam proses rantai pasok harus lebih bertanggung jawab dengan menggunakan cara-cara yang sesuai standar internasional sebagai komitmen kebijakan konservasi hutan mereka.

Ada banyak desa yang terdapat di dalam dan sekitar konsesi (dengan radius sebesar 10 Kilometer). Dari data yang didapatkan, total terdapat 764 Desa di dalam dan di luar seluruh wilayah konsesi APP di Kalimantan dan Sumatera. Provinsi Riau memiliki desa yang paling banyak berada di dalam atau di sekitar wilayah konsesi APP dengan 296 Desa. Sementara itu, Provinsi Kalbar 156 Desa, Provinsi Sumatera Selatan 146 Desa, provinsi Jambi 122 Desa dan Provinsi Kalimantan Timur ada 44 Desa. Selain desa-desa yang tersebut di atas, rupanya APP masih memiliki berbagai permasalahan terutama dengan desa-desa yang tidak memiliki batas desa yang jelas atau merupakan desa definitif atau desa baru hasil pemekaran. Dari jumlah desa yang memiliki tumpang tindih tersebut terdapat 140 desa.

Dari hasil pemetaan yang dilakukan tim APP lewat Sinar Mas Forestry, mereka menyebut bahwa mata pencaharian para warga yang terdapat di desa-desa itu adalah petani ladang, berkebun karet, petani padi sawah/ladang, petani sagu, petani sayur mayur, berkebun sawit, pengumpul Hasil Hutan Bukan Kayu seperti madu, beternak, mencari ikan, pengrajin perahu, pedagang, karyawan swasta bahkan ada yang menjadi PNS. Dengan mata pencaharian yang beragam tersebut, APP menggunakan Desa Makmur Peduli Api ini untuk setidaknya 4 tujuan: Penguatan relasi yang harmonis antara perusahaan dan Masyarakat Desa; Peningkatan Ekonomi dan Ketahanan Pangan Rumah Tangga di Desa lewat pemanfaatan sumberdaya hutan; Memperkuat dukungan terhadap implementasi Kebijakan Konservasi Hutan (Forest Conservation Policy/FCP) serta Pencegahan Gangguan Hutan seperti kebakaran hutan dan lahan. Tujuan lain lebih bersifat penyelesaian konflik lahan seperti memperjelas batas desa dalam kawasan hutan.

Lalu bagaimana pelaksanaan DMPA sendiri? Setidaknya, terdapat empat tahapan: Penyiapan Sistem dan Organisasi, Perencanaan DMPA bersama masyarakat, Eksekusi DMPA serta Monitoring dan Evaluasi. Dalam tahap pertama, APP menyiapkan berbagai panduan-panduan, Standard Operational Procedure (SOP) untuk menjadi bahan sosialisasi dan pelatihan bagi para kelompok-kelompok masyarakat yang tergabung dalam DMPA. APP sendiri melakukan identifikasi desa-desa sasaran serta memetakan mitra potensial bagi DMPA. Karena, pada hakikatnya DMPA dilakukan dengan proses kemitraan dengan masyarakat.

Pada tahap perencanaan, APP bersama aparatur pemerintah desa bekerja sama dengan melakukan perencanaan partisipatif. Masyarakat atau kelompok-kelompok tani mengajukan pengusulan untuk menjadi mitra dalam DMPA ini dan setelah melewati tahapan persetujuan maka dilakukanlah eksekusi Program DMPA.
Eksekusi program DMPA sendiri juga meliputi persiapan-persiapan yang panjang. Masyarakat dilatih berbagai teknik pertanian atau peternakan atau perkebunan yang optimal. Masyarakat atau kelompok-kelompok tersebut juga diberikan dukungan baik pinjaman modal maupun penyaluran hasil pertanian/perkebunan di pasar mitra (Market Linkages). APP lewat Sinar Mas Forestry juga terus melakukan pendampingan untuk melihat perkembangan atas kemitraan strategis ini. Seluruh hasil-hasil eksekusi tersebut terus dimonitor dan dievaluasi sebagai bahan sharing dan pembelajaran.

Pada tahun 2016 ini, DMPA dipersiapkan di 5 wilayah yang saat ini sudah dalam tahapan finalisasi panduan, modul dan pelatihan. APP juga mengidentifikasi dan berkomunikasi aktif dengan mitra potensial untuk melaksanakan program DMPA. Tahun ini, DMPA dilaksanakan di 80 desa terpilih yang sudah melalui tahapan identifikasi. Sambil berjalan, Sinar Mas Forestry juga tengah menyiapkan 120 desa untuk dilaksakan pada awal 2017.

SOLUSIKAH?

Ya, dengan biaya yang digelontorkan hingga 135 miliar (10 juta dollar, dengan kurs 1 dollar = Rp 13.500) selama 5 tahun, membangun 500 Desa Makmur Peduli Api merupakan solusi paling cerdas untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan. Biaya ini mungkin jauh lebih sedikit dari total kerugian yang didapat APP ketika kebakaran hutan pada tahun-tahun sebelumnya, namun ini merupakan solusi yang menguntungkan semua pihak.

Dengan DMPA, mata pencaharian masyarakat yang awalnya banyak melakukan perambahan hutan, melakukan praktek illegal logging, melakukan praktek pembakaran hutan, sampai praktek jual beli lahan yang semunay berpotensi menyebabkan kebakaran hutan bisa diminimalisir dengan memberikan alternatif mata pencaharian baru kepada para masyarakat tersebut.

Kebakaran hutan memang masih menjadi momok bagi perusahaan hutan tanaman industri seperti APP. Namun tak ada cara yang lebih efisien selain mencegah. Sama seperti kata pepatah jaman dulu, lebih baik mencegah daripada mengobati.

Semoga pemerintah (baik pusat dan daerah), LSM-LSM pecinta lingkungan, warga masyarakat dan seluruh stakeholder bisa melihat model ini sebagai solusi jangka panjang dalam mengatasi dan mencegah kebakaran hutan yang kerap terjadi di Indonesia setiap tahunnya.

Berita terkait:
http://www.tribunnews.com/nasional/2016/02/19/ini-langkah-asia-pulp-paper-cegah-kebakaran-hutan-dan-lahan

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/02/19/o2rtz7334-cegah-kebakaran-hutan-dibentuk-500-desa-peduli-api

http://www.suarakarya.id/2016/02/19/500-desa-makmur-peduli-api-dikembangkan.html

http://riaupos.co/101550-berita-ini-cara-asia-pulp--paper-cegah-kebakaran-hutan-dan-lahan.html

http://www.harnas.co/2016/02/19/dibentuk-500-desa-peduli-api

http://citizendaily.net/app-kejar-target-zero-hotspot/

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.