Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia

Peristiwa kebakan hutan yang tidak terkendali bisa terjadi secara sengaja maupun tidak sengaja. Di masa lalu, membakar hutan merupakan suatu metode praktis untuk membuka lahan. Pada awalnya banyak dipraktekkan oleh para peladang tradisional atau peladang berpindah. Namun karena biayanya murah, praktek membakar hutan banyak diadopsi oleh perusahaan-perusahaan kehutanan dan perkebunan.

http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/10/151002_indonesia_asap_rekor

Di lingkup ilmu kehutanan ada sedikit perbedaan antara istilah kebakaran hutan dan pembakaran hutan. Pembakaran identik dengan kejadian yang disengaja pada satu lokasi dan luasan yang telah ditentukan. Gunanya untuk membuka lahan, meremajakan hutan atau mengendalikan hama.

Sedangkan kebakaran hutan lebih pada kejadian yang tidak disengaja dan tak terkendali. Pada prakteknya proses pembakaran bisa menjadi tidak terkendali dan memicu kebakaran.

Kebakaran hutan berskala besar cukup sulit untuk dipadamkan. Kadang-kadang membutuhkan waktu hingga bermingu-minggu agar semua titik api bisa padam. Pada kondisi tertentu, seperti tanah gambut, kebakaran masih terus berlangsung di dalam tanah meski api dipermukaan telah padam berhasil dipadamkan. Sehingga tanah tetap mengeluarkan asap pekat dan sewaktu-waktu api bisa meletup kembali ke permukaan. Kebakaran hutan menjadi penyumbang terbesar laju deforestasi. Bahkan menurut organisasi lingkungan, World Wild Fund, deforestasi akibat kebakaran hutan lebih besar dibanding konversi lahan untuk pertanian dan illegal logging.

Definisi Kebakaran Hutan

Berikut beberapa definisi mengenai kebakaran hutan:

Suatu keadaan dimana hutan dilanda api sehingga mengakibatkan kerusakan hutan dan atau hasil hutan yang menimbulkan kerugian ekonomis dan atau nilai lingkungan.” — (Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.12/Menhut-II/2009 tentang Pengendalian Kebakaran Hutan)
Pembakaran yang penjalaran apinya bebas serta mengkonsumsi bahan bakar alam dari hutan seperti serasah, rumput, ranting/cabang pohon mati yang tetap berdiri, log, tunggak pohon, gulma, semak belukar, dedaunan dan pohon-pohon.” — (Saharjo, B.H. 2003. Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Yang Lestari Perlukah Dilakukan. Departemen Silvikultur. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor)

Penyebab Kebakaran Hutan

Seperti sudah disinggung sebelumnya, kebakaran hutan bisa terjadi secara alami atau disebabkan perbuatan manusia. Kebakaran yang ditimbulkan akibat aktivitas manusia pun bisa terjadi secara sengaja tau tak sengaja. Berikut penjelasannya:

a. Penyebab Alami
Kebakaran hutan secara alami banyak dipicu oleh petir, lelehan lahar gunung api, dan gesekan antara pepohonan. Sambaran petir dan gesekan pohon bisa berubah menjadi kebakaran bila kondisi hutannya memungkinkan, seperti kekeringan yang panjang. Di hutan-hutan subtropis seperti Amerika Serikat dan Kanada, sambaran petir dan gesekan ranting pepohonan sering memicu kebakaran seperti yang pernah terjadi di Taman Nasional Everglades di Amerika Serikat. Petir timbul akibat pergerakan awan panas dan dingin yang bertemu, tanpa disertai partikel hujan sehingga kebakaran hutan dan lahan akibat petir sangat mungkin terjadi.

Kebakaran di Taman Nasional Everglades, AS, pada tahun 2011 (http://wildfiretoday.com/2011/11/29/everglades-national-park-to-burn-31000-acres/)

Pemicu alamiah lainnya adalah gesekan antara cabang dan ranting pepohonan. Hal ini pun biasanya hanya terjadi di hutan-hutan yang kering. Hutan hujan tropis memiliki kelembaban tinggi sehingga kemungkinan gesekan antar pohon menyebabkan kebakaran sangat kecil. (Wahyu Catur Adinugroho. Bagaimana kebakaran hutan terjadi?)

b. Disebabkan Manusia
Kebakaran hutan yang dipicu kegiatan manusia bisa diakibatkan dua hal, secara sengaja dan tidak sengaja. Kebakaran secara sengaja kebanyakan dipicu oleh pembakaran untuk membuka lahan dan pembakaran karena eksploitasi sumber daya alam. Sedangkan kebakaran tak disengaja lebih disebabkan oleh kelalaian karena tidak mematikan api unggun, pembakaran sampah, membuang puntung rokok, dan tindakan kelalaian lainnya.

Di Indonesia, 99% kejadian kebakaran hutan disebabkan oleh aktivitas manusia baik sengaja maupun tidak sengaja. Hanya 1% diantaranya yang terjadi secara alamiah. (Syaufina, L. 2008. Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia. Bayumedia, Malang.)

Sejak era tahun 1980-an pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit dan tidak diterapkannya Kebijakan Tanpa Deforestasi (Zero Deforestation Policy) oleh beberapa perusahaan Hutan Tanaman Industri diduga menjadi sebab terjadinya kebakaran hutan secara besar-besaran.

Dampak Merugikan Kebakaran Hutan

Kebakaran hutan berdampak besar bagi kehidupan manusia. Sebagian besar dampak tersebut bersifat merugikan. Berikut ini beberapa dampak merugikan yang ditimbulkan akibat kebakaran hutan:

a. Dampak Langsung
Kebakaran hutan menyebabkan kerusakan properti dan infrastruktur serta hilangnya aset pertanian, perkebunan dan kehutanan. Tak sedikit juga meminta korban jiwa manusia. Untuk kasus kebakaran besar tak jarang harus dilakukan evakuasi permukiman penduduk.

b. Dampak Ekologis
Kebakaran hutan merupakan bencana bagi keanekaragaman hayati. Tak terhitung berapa jumlah spesies tumbuhan dan plasma nutfah yang hilang. Vegetasi yang rusak menyebabkan hutan tidak bisa menjalankan fungsi ekologisnya secara maksimal. Juga menyebabkan hilangnya habitat bagi satwa liar penghuni hutan.
Selain itu kebakaran hutan banyak melepaskan emisi karbon dan gas rumah kaca lain ke atmosfer. Karbon yang seharusnya tersimpan dalam biomassa hutan dilepaskan dengan tiba-tiba. Apalagi bila terjadi di hutan gambut, dimana lapisan tanah gambut yang kedalamannya bisa mencapai 10 meter ikut terbakar. Cadangan karbon yang tersimpan jauh di bawah lapisan tanah yang ditimbun selama jutaan tahun akan ikut terlepas juga. Pengaruh pelepasan emisi gas rumah kaca ikut andil memperburuk perubahan iklim.

c. Dampak Ekonomi
Secara ekonomi hilangnya hutan menimbulkan potensi kerugian yang besar. Setidaknya ada tiga kerugian lain yang bisa dihitung secara ekonomi, yaitu kehilangan keuntungan karena deforestasi, kehilangan keanekaragaman hayati, dan pelepasan emisi karbon. Belum lagi dengan kerugian langsung dan tidak langsung bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan.

d. Dampak Kesehatan
Asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan berdampak langsung pada kesehatan, khususnya gangguan saluran pernapasan. Asap mengandung sejumlah gas dan partikel kimia yang menggangu pernapasan seperti seperti sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), formaldehid, akrelein, benzen, nitrogen oksida (NOx) dan ozon (O3). Material tersebut memicu dampak buruk yang nyata pada manula, bayi dan pengidap penyakit paru. Meskipun tidak dipungkiri dampak tersebut bisa mengenai orang sehat.7 
Keuntungan akibat kebakaran hutan

Selain dampak merugikan di atas ada beberapa dampak positif. Kebakaran hutan membuat efek peremajan hutan dan menyuburkan tanah hutan karena abu sisa pembakaran menjadi mineral penting bagi tanah hutan. Biasanya setelah hutan habis terbakar akan tumbuh tunas-tunas baru yang berkembang sangat pesat karena tanah hutan menjadi subur.
Membakar hutan juga sering digunakan sebagai salah satu metode pembersihan lahan untuk perkebunan dan pertanian. Humus yang terbakar bisa menyuburkan tanah dan mempercepat penambahan mineral dalam tanah. Tanah hutan yang telah terbakar relatif lebih subur untuk lahan pertanian atau perkebunan. Kebakaran hutan juga bisa memusnahkan hama dan penyakit. (Suratmo FG. 1974. Perlindungan Hutan. Bogor: IPB Press.)

Pengendalian Kebakaran Hutan di Indonesia

Secara teoritis kebakaran hutan terjadi karena ada interaksi antara bahan bakar, oksigen dan panas pada kondisi tertentu. Bila ketiga unsur tersebut ada secara bersamaan maka kebakaran akan terjadi. Oleh karena itu prinsip untuk menanggulanginya adalah dengan memutus salah satu unsur tersebut. Biasanya dengan menghilangkan bahan bakar atau panas.

Penanggulangan kebakaran hutan telah dikelola sejak sebelum Indonesia merdeka. Pemerintah Hindia Belanda mengatur penanganannya dalam berbagai aturan mengenai kehutanan. Sejak proklamasi kemerdekaan, tanggung jawab pengendalian kebakaran hutan berada di Jawatan Kehutanan, yang kemudian menjadi direktorat dalam Departemen Pertanian. Pada tahun 1988 Direktorat Kehutanan berubah menjadi Departemen Kehutanan, dan dikemudian hari berubah lagi menjadi Kementrian Kehutanan. Sejak tahun 2014 Kementerian Kehutanan digabung dengan Kementerian Lingkungan Hidup menjadi Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

Menurut Undang-Undang Kehutanan kegiatan pengendalian kebakaran hutan mencakup pencegahan, pemadaman hingga ke rehabilitasi pasca kebakaran. Pengelolaan pengendaliannya dilakukan secara berjenjang mulai dari pemerintah daerah tingkat II, tingkat provinsi hingga tingkat nasional. Dipicu oleh kebakaran hutan hebat pada tahun 1997–1998, di tingkat nasional dibentuk Direktorat khusus. Kemudian pada tahun 2003 Departemen Kehutanan membentuk pasukan yang khusus menangani kebakaran di hutan, yakni Brigade Pengendalian kebakaran Hutan Manggala Agni (http://sipongi.menlhk.go.id/manggalaagni/sipongi). Nama Manggala Agni diambil dari bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno, manggala artinya panglima/pemimpin, sedangkan agni artinya api. Manggala Agni bisa diartikan panglima api.

http://sipongi.menlhk.go.id/manggalaagni/sipongi

Sementara itu, beberapa perusahaan HTI tampak mulai serius dalam upaya pencegahan, pemadaman hingga rahabilitasi pasca kebakaran. Salah satunya seperti upaya yang dilakukan oleh Asia Pulp & Paper (anak perusahaan grup Sinarmas) di tahun 2016. Dalam mengantisipasi kebakaran hutan di musim kemarau tahun 2016, APP Sinarmas sejak akhir tahun 2015 sudah membuat ratusan canal blocking untuk mempertahankan kelembabapan lahan gambut agar tidak mudah terbakar. APP Sinarmas juga membuat program Desa Makmur Peduli Api yakni kerjasama dengan 500 Desa untuk aktif melibatkan warga sebagai unit terdepan dalam pencegahan kebakaran dan mengubah perilaku masyarakat dalam mengelola hutan dengan cara-cara yang tidak ramah lingkungan. Selain itu, APP juga melengkapi teknologi deteksi pencegahan kebakaran dini dengan memasang sensor thermal di pesawat udara mereka serta menambah jumlah peralatan-peralatan serta regu pemadam kebakaran hutan. Helikopter-helikopter APP Sinarmas juga telah beberapa kali membantu Badan Pencegahan Bencana Daerah (BPBD) dalam upaya pemadaman dengan cara water bombing pada kebakaran hutan dan lahan di Riau. Proses rehabilitasi juga dilakukan oleh APP Sinarmas, seperti menyediakan tenaga dokter bagi korban dampak asap serta meremajakan kembali hutan-hutan yang terbakar.

Upaya apapun dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan memang harus dilakukan untuk menyelamatkan hutan Indonesia dari dampak deforestasi hutan. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, warga lokal, bahkan LSM Lingkungan Hidup harus bersinergi dalam upaya pencegahan kebakaran. Sinergisitas inilah yang diharapkan mampu meredam kebakaran hutan. Ya, barangkali meredam ego sektoral merupakan kunci utama dalam meredam kebakaran hutan di Indonesia.