Antara Aku, Kamu, dan Kopi

Kisah Devana Gobel yang dibalut wawancara penuh tawa

Judul dari medium ini terinspirasi dari salah satu kalimat yang sempat tercetus saat kami mewawancara kak Devana. Di mataku, ia terlihat sebagai sosok yang easygoing dan humoris. Sosok inilah yang menemani kami berbincang-bincang selama kurang lebih satu jam di selasar labtek V. Cukup basa-basinya, yuk kita mengenal lebih jauh tentang Devana Gobel dan cerita di balik judul medium ini.

Hah? Devana?

Siapa sih sosok di balik wanita berambut pendek ini? Beberapa kali sudah kusebut, ia bernama Devana Gobel atau biasa dipanggil Devana (jujur saja saat pertama kali mendengar namanya entah kenapa selalu terbayang Uncle Gober dari sebuah kartun legendaris Donald Duck). Berperawakan tidak terlalu tinggi, tipikal cewe tomboy, dan rambut pendek itulah bagaimana Kak Devana terlihat biasanya. Di balik itu semua, wawancara dengannya memiliki nuansa seru dan lucu.

Kak Devana memiliki codename yang cukup unik dan susah ditebak. “Tetesan Vietnam.” Sebenarnya codename ini berasal dari kesukaan Kak Devana terhadap Vietnam Drip, salah satu cara membuat kopi. Saya tidak tau banyak tentang dunia perkopian karena itu saya tidak bisa menjelaskan banyak tentang hal ini. Namun jika kalian menanyakan hal ini ke Kak Devana, aku yakin ia dengan senang hati akan menjelaskannya. Hal ini terlihat saat ditanya tentang kopi, Kak Devana terlihat antusias dalam menjawabnya. Ia juga dengan tegas mengklarifikasi bahwa alasan yang digunakan untuk menebak codename Daemonnya adalah salah. Alasan yang digunakan untuk menebak adalah dari tulisan di medium Kak Devana yang katanya ada gambar Vietnam Drip di akhirnya, padahal gambar itu seharusnya adalah gambar Coffee Latte. Kak Devana menceritakan hal ini sembari memperlihatkan ekspresi kesal di mukanya. Bagiku hal ini menunjukkan seberapa sukanya kak Devana pada kopi, sampai-sampai ia menjadi sedikit lebih cerewet jika ada orang yang memiliki pemahaman salah mengenai kopi.

Kenapa Bisa Nyasar Sampai Sini Sih?

Mungkin ini kedengaran seperti pertanyaan template bagi Kak Devana. Pertama, kenapa bisa di ITB? Untuk menceritakan hal ini, kita harus kembali ke zaman saat Kak Devana masih mengenakan rok putih abu-abu. Merantau dari Jakarta, Kak Devana berasal dari salah satu sekolah terkemuka bernama SMAK 1 BPK Penabur Jakarta. Mungkin nama sekolah ini terdengar tak asing di telinga kita.

SMAK 1 Jakarta memang terkenal sebagai sekolah elite yang telah berhasil mencetak ribuan alumni berprestasi dengan otak alien. Namun, kak Devana menepis anggapan ini dengan senyum di mukanya. Ia merasa dirinya tidak semua anak SMAK 1 Jakarta adalah alien seperti yang dianggap orang-orang. Salah satu contoh nyatanya adalah dirinya sendiri. Dengan nilai yang katanya pas-pasan, Kak Devana iseng mencoba SNMPTN ITB. Padahal saat itu Kak Devana sedang mendaftar ke sebuah universitas ternama di Korea yaitu Kaist. Awalnya Kak Devana memang tidak ada rencana untuk melanjutkan studinya di Indonesia. Namun keisengannya ini berbuah malapetaka. Malapetaka ini datang dari keharusan untuk menandatangani di atas meterai sebuah surat yang menyatakan bahwa saya akan tidak akan membuang universitas hasil seleksi SNMPTN. Dan ternyata benar, Kak Devana diterima di fakultas STEI Institut Teknologi Bandung. Hal ini tentu tidak sesuai prediksinya. Dan lebih parahnya lagi, seleksi masuk universitas Kaist tengah berjalan dan tinggal seleksi berkas. Apalah daya, meterai itu membuat Kak Devana harus dengan sengaja menggagalkan seleksi berkas universitas Kaist dan memendam impiannya untuk melanjutkan studi di luar negeri.

Kedua, kenapa STEI? “Alasannya simple sih, karena emang dari dulu inginnya masuk computer science.” Lucunya, keputusan ini sebenarnya didasari oleh modal kesenangan Kak Devana terhadap HTML. Dengan modal HTML, kak Devana merasa siap untuk menerjang STEI. Namun setelah bertemu Daspro, semuanya berubah.

Dan ketiga, kenapa STI? “Alasan gampangnya karena Daspro nggk jago-jago amat dan PAR juga nggk jago banget.” Namun menariknya, kak Devana merasa ia dijebak masuk ke STI. Hal ini karena di semester tiga, ia justru mendapatkan kedua pelajaran itu. Itu tadi alasan gampangnya, sedangkan alasan seriusnya didapat saat kak Devana mendapat pencerahan dari Kadwil STEI. STI ini bisa dibilang sebagai jembatan antara client dan programmer. Kak Devana sendiri merasa tertarik ke segi bisnis dan manajemen manusia, namun ia tidak ingin mempelajari bidang ini secara mendalam karena di lubuk hatinya ia masih yakin bisnis adalah sesuatu yang bisa dipelajari sendiri.

STI dan Masa Depan

“Bagi-bagi tips dong kak, gimana caranya survive di STI?” Kak Devana menjawab dengan sebuah jawaban klasik. Effort tidak akan pernah membohongimu. Ia pun terbiasa untuk ngoding dan menulis dokumen berlimpah di STI.

Dalam hal per-KP-an pun, STI harus berebut dengan mahasiswa dari jurusan IF dan TI. Hal ini karena begitu luasnya STI sampai-sampai jurusan ini bisa masuk ke berbagai bidang saat KP. Dan baru-baru ini Kak Devana telah menyelesaikan KP-nya sebagai seorang System Analyst di sebuah perusahaan. Saat disinggung soal TA, berbeda dari Daemon lain yang biasanya hanya menjawab dengan senyuman, Kak Devana justru dengan santainya menjawab hal ini. Kak Devana telah memiliki bayangan tentang topik TA-nya dan ia juga telah berhasil menemukan dosen pembimbing. TA-nya sendiri akan berputar di ranah Web sesuai dengan kecintaannya terhadap HTML.

Di Luar Labtek V

Jauh-jauh datang dari Jakarta ke Bandung tentu bukan akademik saja yang menjadi fokus utama Kak Devana. Ia juga tergabung dalam dua buah unit kegiatan mahasiswa yaitu URPA (Unit Renang dan Polo Air) dan STEMA. Sekedar fun fact wawancaraku dengan kak Devana ini adalah wawancara kedua yang kulakukan bersamanya. Sebelumnya, aku telah wawancara dengannya saat kaderisasi URPA. Kak Devana memegang jabatan badan kepengurusan tahun lalu saat di URPA. Sedangkan di STEMA, kak Devana mengaku kurang aktif di sana.

Selain unit, tentunya kak Devana juga tergabung dalam HMIF (karna jika tidak, kita tidak mungkin mewawancarainya sekarang). Seperti yang sudah pernah kusebut, Kak Devana adalah Daemon di SPARTA kali ini. Namun, kak Devana tidak menjadi panitia SPARTA tahun lalu. Kenapa? Kak Devana mengaku bahwa ia menjadi Daemon karena komitmen yang telah ia buat dua tahun lalu saat dirinya dilantik menjadi anggota biasa HMIF.

Di HMIF sendiri, kak Devana tergabung dalam divisi IIT tepatnya di Manpro (Manajemen Proyek). Selama beberapa kali HMIF berganti kepengurusan, kak Devana tetap setia berada dalam divisi Manpro. Selama berada di divisi ini, kak Devana sudah menjalankan dua buah proyek yang bernilai jutaan rupiah. Selain dari dua buah proyek ini, kak Devana kini sedang turut ambil bagian dari sebuah proyek lain yang berada dalam ranah kesukaannya yaitu perkopian.

Last but Not Least

Saat ditanya soal motto hidupnya, kak Devana menjawab dengan senyum di mukanya, “Yah yang klasik aja lah..”

“Do your best god will do the rest”
Wawancara ini dilakukan bersama oleh:
1. Johanes 074
2. Nada 022
3. Lydia 148
4. Steve 337
5. Joshua 133
6. Salma 201
7. Boas 240
8. Rika 305