KERETA WAKTU

Saat itu jam 12 malam ketika dia tiba di rumahku dalam kondisi mabuk. Dan, aku harus memapah tubuhnya yang sempoyongan, membantunya berjalan memasuki rumah, kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Gadis itu meringkuk. Kemudian terisak.
Aku masih berdiri berkecak pinggang memperhatikannya. Ini bukan kali pertama dia datang dalam kondisi seperti ini tentu saja. Tapi, aku tidak tahu apa yang membuatnya menangis. Ketika aku mendekat untuk bertanya apa yang terjadi, dia tidak menjawab sama sekali. Aku pun mencoba menenangkannya, tapi tangisnya malah semakin menjadi.
Pada akhirnya aku menyerah. Meninggalkannya seorang diri.
Aku kembali ke tempat tidurku dan mencoba melelapkan mata, tapi tidak bisa. Kuambil buku di atas nakas, dan tentu saja, aku tidak bisa berkonsentrasi membacanya. Aku hanya bisa menatap seonggok tubuh di atas sofa itu, dalam kondisi yang masih sama; meringkuk dan menangis.
Aku menghela napas. Berpikir apa yang harus kulakukan saat itu.
“Aku membuatkan teh hijau untukmu,” kataku. Dia mengangkat wajahnya, menatap ke arahku. “Aku tidak punya obat pengar. Minumlah.”
Dia masih terisak ketika memutuskan bangkit dari posisinya.
Aku pun mengambil tempat di sebelahnya. Namun, memutuskan untuk tidak bertanya apa-apa.
“Dia akan menikah,” katanya, setelah hening yang cukup lama. “Han.”
“Kau sudah mengatakannya tiga hari yang lalu,” ucapku.
Gadis itu mengangguk. “Ya.”
“Lalu, kenapa baru menangisinya hari ini?” tanyaku.
Dia mengusap air mata di wajahnya, kemudian berbicara, “Tadi, aku menemuinya setelah pekerjaan kami selesai. Aku ingin mengatakan yang sebenarnya. Aku mungkin akan menyesal jika tidak mengatakan perasaanku sama sekali.” Dia menarik napas sebelum melanjutkan perkataannya. “Setelah mendengar semuanya dariku, dia mengatakan kepadaku, ‘Kenapa kau baru jujur saat ini?’ Dan, kau tahu, saat mendengar pengakuannya, aku menyesal telah menemuinya hari ini.”
Aku terdiam. Sementara ia menangis lagi.
-
Kami berbincang hingga pukul empat tadi malam. Aku setia mendengarkan ceritanya yang cukup pilu. Sesekali di tengah ceritanya, Sophie berlari menuju toilet untuk memuntahkan isi perutnya.
Aku ingat perkataan konyol yang dia ucapkan sesaat sebelum kami terlelap dalam mimpi.
“Seandainya ada kereta waktu yang bisa kutumpangi.”
“Ya, seandainya,” kataku menanggapi.
“But, we missed the boat. Simply because we did nothing.”
“I know.”
Dia menghela napas, kemudian berucap, “Aku hanya ingin pergi.”
Aku menoleh ke arahnya. Dan, ia sudah memejamkan mata. Aku memilih tidak bersuara. Membiarkan dirinya hanyut dalam dunia mimpi yang mungkin sedikit lebih menghibur daripada perkataanku.
Tak lama aku pun menyusulnya. Terlelap.
-
Saat aku terbangun, Sophie masih mendengkur di sampingku. Dia belum pergi.
Aku bergegas bangkit dan bersiap untuk berangkat kerja.
Sebelum meninggalkan rumah, aku menyiapkan segelas susu dan roti bakar di atas meja. Aku juga menuliskan sebuah memo.
“Kau perlu energi sebelum pergi.”
Dan, sejak hari itu, Sophie menghilang dari kehidupanku.
-
Tiga hari berjalan normal seperti biasa. Sophie tidak memberi kabar apapun kepadaku, dan aku tidak berniat menghubunginya lebih dahulu.
Hari keempat, aku mencoba menemuinya sepulang kerja. Begitu tiba di depan pintu apartemennya, seorang perempuan berpakaian kumal datang menghampiriku.
Dia tidak mengatakan apapun saat menyodorkan kunci apartemen Sophie. Saat aku menyambut kunci itu dari tangannya, dia pergi begitu saja.
Aku membuka apartemen Sophie dan mendapati kondisinya yang sama seperti terakhir kali aku datang berkunjung. Hanya saja, kali ini terasa kosong. Sophie tidak ada.
Aku melihat layar ponsel yang menyala di atas nakas dan mendapati namaku tertera di layarnya.
Aku mengirimkan pesan kepadanya lima menit yang lalu.
Ara: “Kau di rumah? Bukakan pintu. Aku di depan.”
Aku tercenung menatap ponselnya yang ada di tanganku. Dan, saat itu aku sadar, Sophie benar-benar pergi.
-
Sepuluh hari semenjak kepergian Sophie.
Aku berdiri di depan meja kasir sebuah minimarket. Membeli sekaleng kopi dan sepotong onigiri.
Sementara si kasir memproses pembayaranku, aku melihat ke arah layar televisi yang menampilkan berita tentang kasus hilangnya seorang perempuan. Terakhir dia tertangkap kamera CCTV keluar dari sebuah bar di pusat kota dalam kondisi sempoyongan. Perempuan itu menyetop taksi yang kemudian membawanya pergi —
“Kembalian Anda.” Suara si kasir mengusik atensiku dari berita di televisi. “Terimakasih sudah berbelanja di sini.”
-
Aku keluar dan duduk di teras minimarket. Menyantap menu makan malamku seperti biasa. Sekaleng kopi dan sepotong onigiri.
Aku bertemu dengan Sophie di tempat ini tiga tahun yang lalu.
Saat itu, aku tengah mengantri di depan meja kasir. Menatap layar televisi di dinding minimarket yang tengah menampilkan berita tentang orang hilang.
“Akhirnya, dia memutuskan pergi.”
Aku menoleh dan mendapati seorang perempuan muda berdiri di belakangku. Ia tersenyum ke arahku, kemudian mengedikkan bahunya. Saat itu, aku memutuskan untuk tidak menghiraukannya.
Selepas membayar, aku duduk di kursi teras minimarket untuk menikmati makan malamku. Tak lama, perempuan itu muncul dan mengambil tempat di sebelahku. Dia menyapaku dengan sneyumannya. Sementara aku hanya menatap aneh ke arahnya, kemudian ke arah belanjaan di tangannya.
Sekaleng kopi dan sepotong onigiri.
“Malam yang cerah untuk dihabiskan dengan sepotong onigiri,” celetuknya. Dan, aku masih tidak berniat meresponnya.
“Bagaimana pendapatmu tentang berita tadi?”
Aku mengernyitkan kening setelah mendengar pertanyaannya. Pertanyaan perempuan asing yang tiba-tiba saja datang mendekatiku dan bertanya pendapatku tentang berita orang hilang. Aku tidak mengenal siapa orang yang di berita itu, lalu bagaimana aku harus memberi pendapat?
Aku mengedikkan bahu. Memilih tidak berkomentar dan melanjutkan menikmati makananku.
Perempuan itu tersenyum.
Dia lantas menyodorkan telapak tangannya ke arahku, “Sophie,” ucapnya. Aku berpikir sejenak sebelum menyambut uluran tangannya.
“Ara.”
-
Aku seperti memasuki sebuah kereta waktu, dan terlempar kembali ke tiga tahun yang lalu. Berita tentang orang hilang menjadi latar pertemuan pertama kami waktu itu. Dan, malam ini, hal yang sama terjadi. Tapi, ada yang aneh, karena Sophie tidak ada di depanku. Melainkan hanya gambarnya yang terpampang di layar televisi itu.
Dan, besok, aku diminta datang untuk memberikan kesaksianku, pagi-pagi sekali.
-
Saat itu, pukul 3 pagi. Dan, aku terbangun oleh dering ponsel.
Panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
“Ara. Ini aku. Sophie”
Aku sontak terbangun. Menatap layar ponselku sekali lagi.
“Kau di mana?” tanyaku. Khawatir.
“Aku di sini. Di stasiun kereta.”
“Apa yang kaulakukan?”
“Ara. Jemput aku.”
-
Aku menuruni anak-anak tangga stasiun kereta bawah tanah. Berlari-lari kecil menyisiri peron — mencari keberadaan Sophie.
Mengingat nomor yang dia gunakan untuk menelponku, aku bisa menebak keberadannya. Aku hanya perlu mencari telepon umum terdekat di stasiun kereta ini.
“Sophie!”
Dia menoleh dan tersenyum melihat kehadiranku.
Sejenak aku memeriksa kondisinya yang tampak baik-baik saja. Dia mengenakan dress kesukaannya yang ia beli di musim semi lalu. Dan, coat toska hadiah ulang tahun dari ibunya yang selalu ia pamerkan kepadaku.
Dia seperti tidak habis berpergian darimanapun. Dia tidak membawa apapun. Tidak terlihat koper atau tas ransel di sekitar keberadaannya.
“Saat ini, semua orang di negeri ini mengenalimu sebagai perempuan yang hilang, kau tahu?” kataku, setelah mengambil tempat di sampingnya.
Dia mengangguk. Tersenyum.
“Apakah ada yang bertanya pendapatmu tentang berita itu?”
Aku menatapnya tak percaya.
“Ara,” ucapnya, “aku baru saja menaikinya. Kereta waktu.”
-
Sophie menceritakan kepadaku tentang perjalanannya menaiki kereta waktu. Tentang dunia yang terhubung. Tentang dia yang baru saja kembali dari kehidupannya yang lain. Kehidupan saat ia mengambil pilihan yang berbeda dengan apa yang ia ambil di dunia ini.
Di dunia yang tidak membuatnya mendatangiku di pukul 12 malam dalam keadaan sempoyongan dan menangis sesegukkan.
Di dunia itu…
“Aku menemuinya lebih awal. Mengatakan kepadanya perasaanku lebih awal. Dan, kami bersama seperti yang apa yang kuharapkan,” katanya.
Aku membiarkannya menceritakan kepadaku dunianya yang aneh — seaneh sosoknya tentu saja. Sementara mendengarkannya bercerita, mataku tertuju pada cincin aneh yang ia mainkan di tangannya. Aku tidak pernah melihat benda itu sebelumnya. Sophie tidak pernah membawanya.
“Kau tahu, di dunia manapun, aku selalu jatuh cinta kepada Han. Seolah-olah Han adalah tokoh utama dalam kehidupanku. Dia selalu hadir di setiap kisahku. Di dunia manapun yang aku tempati, dia ada.”
Sophie menatap ke arahku, “Tapi, pada akhirnya kami memang tidak ditakdirkan bersama. Sepertinya kehadiran Han hanya sebagai perantara pesan yang ingin Tuhan sampaikan kepadaku. Tentang…”
Sophie menatap cincin yang ada di tangannya. Aku memperhatikannya dalam diam.
Saat dia mengangkat kepalanya, dia meraih tanganku, kemudian meletakan cincin aneh itu di telapak tanganku.
“Ara, terkadang sesuatu yang kau sesali dalam hidupmu akan menjadi sesuatu yang amat kau syukuri pada akhirnya. Dan, aku bersyukur karena bisa membawakan benda ini untukmu.”
“Untukku?”
“Ya,” ucapnya, “oleh-oleh dari negeri yang terhubung.”
Aku tercenung menatap cincin yang sekarang berpindah ke telapak tanganku. Membaca tulisan yang terukir di bagian dalamnya: ‘Han & Ara’
Saat aku mengangkat kepala, Sophie sudah melangkah pergi meninggalkanku.
— — —
Author Note: Hi! Ini cerita fantasiku yang kedua. Hope you enjoy it. Jangan lupa tulis tanggapanmu mengenai cerita ini.
