Cangkir Kopi yang Bergeser Satu Mili

Ratu Intan Mutia
Sep 4, 2018 · 6 min read

DRRRTT!

SERIBU PASANG MATA TERPAKU PADA SECANGKIR KOPI YANG BERGESER SATU MILI ITU.

Sebetulnya, aku tidak yakin apakah memang satu mili. Tidak bergeser sama sekali kok. Perlahan kuperhatikan, ternyata para pengunjung toko kopi itu menyibukki pandangannya pada secangkir kopi yang berada di atas meja itu. Aneh, cangkir kosong saja masih dipandangi. Bagus juga tidak.

DRRRTT!

“Kamu kenapa? Mengapa kamu menggeser cangkir kopinya?” tanya seorang wanita dengan setengah memaksa. Wanita itu sedari tadi memang duduk di hadapan cangkir kopi itu, bersama seorang pria. Barangkali kekasihnya, mungkin juga hanya kerabat. Ah, bukan urusanku. Persetan dengan hal itu.

“Aku tidak menggesernya. Sungguh, aku diam saja daritadi.”

“Bohong!”

Perlahan namun pasti, para pengunjung toko kopi itu tersenyum seperti baru saja mendapatkan hiburan baru. Cih, untuk apa membuang waktu hanya untuk cangkir kopi yang bergeser satu mili.

Wanita itu terlihat sangat berhati-hati dalam bergerak, berusaha untuk tidak menggerakkan meja. Wajahnya cantik. Kerutan-kerutan halus yang berada di dahinya sudah seperti ornamen yang terukir indah. Kasihan, tidak sedikitpun ia menaruh kepedulian untuk kecantikannya dan lebih memilih untuk menjaga cangkir kopi kosong agar tidak bergerak satu mili.

DRRRTT! DRRRTT!

Semua mata para pengunjung toko kopi itu terbelalak sangat lebar. Bola mata mereka sudah seperti ingin mencuat keluar meninggalkan singgahsananya! Wanita itu menjerit kesal. Pria itu terlihat sangat bersalah, namun tidak tahu harus apa.

“Mirna, sungguh bukan aku.”

“Kamu! Pasti itu kamu! Kenapa kamu menggeser cangkir kopinya? Kenapa? Jawab aku! Kamu ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini ya?!” suara wanita itu terdengar sangat frustasi akan pergeseran cangkir kopi kosongnya yang sekarang sudah sejauh dua mili. Butiran emas mengucur dari bola matanya. Bukan sebutir, ribuan! Wah, aku bisa kaya kalau saja aku berani untuk menghampiri meja itu dan menampung butiran emas yang berton-ton itu. Aku heran mengapa pria itu, iya yang duduk di depannya itu, hanya diam saja melihat kucuran butir-butir emas yang mengucur dari mata pasangannya.

“Kalaupun aku pergi, aku hanya ingin sebentar saja bersua dengan Tuhan. Duduk-duduk, menghirup udara malam, membicarakan alam...” kata si pria yang sembari membayangkan betapa menyenangkannya bisa melakukan hal seperti itu.

“Ah! Sudah kutebak pasti kamu memang sengaja menggeser cangkir ini!”

Aduh, Mirna, sungguh aku tidak menggesernya.”

Para pengunjung mulai memekarkan senyum buasnya mendengarkan pasangan yang sedari tadi terus mengadu mulut soal cangkir kopi kosong yang bergeser. Mungkin, perdebatan singit itu sudah lama terjadi. Entah sejak kapan, aku tidak bisa menebak dengan pasti. Yah, namanya juga pengunjung baru.

DRRRRR…..

Sungguh. Kali ini aku yang menyaksikan bagaimana cangkir itu berpindah dari titik awal ke titik yang baru. Kurasa, para pengunjung pun menyadari cangkir yang perlahan bergeser hampir satu mili. Mereka mulai mengeluarkan kamera dan memotret perpindahan tidak berarti itu. Kegelisahan wanita itu semakin menjadi-jadi. Butiran emas itu bukan lagi mengucur dari kedua bola matanya, namun sudah menyembur!

“Berhenti! Sudahi menggeser cangkir kopi ini, aku muak. Sekarang, kamu yang ingin aku pergi dari sini kan?”

“Mirna….”

“Tega kamu menginginkan aku pergi padahal aku sudah setia menunggu cangkir kopi yang kosong ini agar tidak bergerak selama dua ribu tahun!”

Edan wanita itu. Untuk apa menunggu hal yang sia-sia seperti itu selama dua ribu tahun? Toh, aku yakin pria itu juga ingin beranjak dari tempat mengerikan ini. Lebih baik bersua dengan Tuhan walaupun tidak mungkin. Untuk apa sih menunggu cangkir kosong agar tidak bergerak?

DRRRTT!!!!!!!!

“Ah! Aku sekarang tahu, kamu sebetulnya ingin cangkir ini dibuang kan? Kamu tidak suka dengan cangkir ini, betul begitu?”

“Ya Tuhan, Mirna. Aku juga melihat cangkirnya bergeser, namun bukan aku yang melakukannya. Sungguh.” kata pria itu yang seakan sudah lelah bagaimana lagi harus membuktikan kalau dia bukanlah orang yang menggeser cangkir kopi kosong itu.

“Iya! Pasti iya! Aku sudah menduganya kamu akan membuang cangkir ini kan?”

“Kamu sudah mulai tidak masuk akal, Mirna.”

“Kamu menuduhku gila, begitu? Apakah itu arti dari cangkir kopi kosong yang kau geser?” tanya wanita itu dengan suara parau. Kasihan. Terkadang aku berpikir apa jangan-jangan ini adalah hari dimana ia akan menemui ajalnya karena dibunuh oleh kejamnya sebuah asumsi dan harapan bodoh yang selama dua ribu tahun bersarang di kepalanya.

DRRRTT!!! DRRRTT!!! DRRRTT!!!

Aku mendengar suara kamera pengunjung yang sedang menangkap momen pergeseran cangkir kopi kosong yang luar biasa jauh itu sekarang. Pandangan mata mereka tidak dipindahkan dari meja itu, dimana pasangan itu terus berdebat soal kegilaan yang tiada ujung seperti cakrawala. Para pengunjung mulai tertawa-tawa, tidak jelas mengapa. Lucu juga tidak. Ah, mereka sama gilanya dengan pasangan itu. Tidak masuk akal. Namun, perlahan aku mulai tergoda untuk menunggu kapan cangkir kopi itu mulai bergerak dan berpindah ke titik baru. Ah, bodoh. Aku kan tidak gila. Aku kembali menyesap kopiku yang semakin pahit karena sudah melebur dengan suasana toko kopi yang luar biasa kelabu dan menegangkan.

“Tiga mili! Kamu pelakunya! Mana senja yang ingin kau bunuh itu? Mana? Sini, aku ingin bertemu dengan pembuat onar itu!” wanita itu berteriak-teriak sehingga tidak mungkin aku tidak mendengarnya. Akupun melihat keluar jendela dan mengharapkan semburat jingga memunculkan raganya di langit biru. Aku sudah tidak tega melihat wanita itu meraung-raung dengan asumsi bodohnya. Ingin sekali aku membantunya mengusir senja agar pria itu tetap duduk di hadapannya dan cangkir kopi kosong yang seharusnya tidak pernah bergeser semili pun sejak dua ribu tahun yang lalu. Para pengunjung mulai berbisik-bisik menanyakan siapa itu senja dan mengapa pria itu hendak membunuh suatu hal yang mustahil.

“Jangan bodoh, Mirna. Mana mungkin aku membunuh senja. Lihat saja, sudah dua ribu tahun lamanya tanganku engkau belenggu agar tidak menimbulkan pergeseran semili pun. Bagaimana caranya aku mampu membunuh senja?”

“Siapa suruh waktu itu kamu menggeser cangkir ini!”

“Kan hanya semili…..”

Para pengunjung pun terkesiap akan pengakuan si pria kalau ia pernah menggesernya barang semili. Bodoh, kupikir. Aku juga rela membelenggunya agar tidak menggerakkan cangkir itu semili pun. Terkadang, hal-hal kecil bisa membuat seseorang berpikiran hal-hal besar.

Sepertinya aku mulai memahami mengapa wanita itu menggila akan pergeseran cangkir kopi bodoh itu. Sedikit saja benda itu bergeser, ternyata akan sangat berarti. Kepalaku mulai dipenuhi oleh bayang-bayang fantasi. Hal memilukan apa lagi yang selanjutnya pria ini akan lakukan? Toko kopi itu perlahan mulai gaduh akan para pengunjung yang berbisik menanyakan apa yang selanjutnya akan terjadi. Mereka mulai memotret-motret lagi. Barangkali cangkir kopi kosong itu bergerak lagi dan sangat disayangkan untuk tidak diabadikan. Sebetulnya, aku sangat tergoda untuk melakukan hal serupa. Ah, buang-buang waktu saja. Lagipula, tiada kuasaku dalam mengusik kegilaan itu.

Kusesap lagi kopiku dengan hikmat, tetapi pandangan mataku tetap tertuju pada cangkir kopi kosong itu yang barangkali akan bergeser lagi. Wanita itu terlihat gusar, mulai menampakkan setengah kegilaannya. Matanya sekarang semerah darah, kantung matanya robek oleh tangisan sehingga membekaskan guratan luka tak berpola.

“Mir….” panggil pria itu setengah pasrah, “maafkan kekhilafanku tempo lalu sehingga membuatmu menjadi seperti ini. Sesungguhnya tiada arti bermakna di balik semua itu, bahkan hanya untuk sekadar meninggalkan tempat ini agar bisa bersua dengan Tuhan….”

Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, cangkir itu mulai bergerak lagi. Para pengunjung memotretnya. Tertawa terbahak-bahak.

“Malaikat mana yang hendak kau masak dalam kuali?” mata wanita itu terpejam, bibirnya bergetar. Tangannya mencengkram kursi yang didudukinya dengan amat kencang hingga bisa kulihat kukunya yang merangsek masuk ke dalam rotan itu. Aku ikut menggila. Benar saja sepertinya pria itu sengaja menggeser agar bisa pergi dari sana dan memasak sesosok malaikat. Bohong pria itu apabila tidak menggesernya. Wanita malang.

PRANG!!!

Pecah.

Cangkir kopi kosong sekarang sudah terlihat seperti kepingan harapan tak tersampaikan yang berserakan, begitu pula wanita itu. Bahkan, aku tidak bisa melihat setitik raganya lagi. Ah, benar, pikirku. Wanita itu sudah menemui ajalnya.

Pria itu berteriak pilu, berusaha melepas belenggu di tangannya. Para pengunjung mengabadikannya dengan rentetan suara cekrek. Mereka tertawa terbahak-bahak untuk kesekian kalinya. Meloncat kegirangan. Tak lama kemudian mereka tersadar bahwa hiburan kesukaannya sudah usai, seperti film yang sudah terputar habis. Aku tergoda untuk mengabadikannya juga dengan kameraku. Bodoh. Sudah kubilang aku tidak ada urusannya.

Kembali kusesap kopiku sedari tadi sudah sangat dingin dan tidak menggugah selera untuk terakhir kalinya. Aku beranjak dari kursiku yang sudah sekian lama aku duduki, yang hanya diperuntukkan untuk menyaksikan hal gila di toko kopi. Aku pun heran mengapa kegilaan itu sangat menghantuiku. Yakin, aku masih waras. Mereka saja yang gila, begitu pula dengan para pengunjung yang tiada hentinya menyibukkan diri mereka untuk mencampuri urusan orang lain. Cih, sangat hina.

DRRRTT!!

Terdengar suara itu lagi, mengalun memasukki telingaku sudah seperti melodi kematian. Aku tidak mempunyai keberanian untuk menengok ke arah datangnya suara. Kulanjutkan dengan paksa langkah kakiku menuju pintu utama toko kopi itu. Tidak ada apa-apa, aku yakin.

DRRRTT!!

Dengan hati yang mantap, kurogoh saku celanaku dan mengambil kamera yang sedari tadi meraung untuk digunakan.