Manusia dalam Kardus

BETAPA BERUNTUNGNYA HIDUP SEBAGAI SEORANG GILA.
Hidup, ya hidup saja. Melingkar, menyudut, berputar, terbalik, tanpa batas! Tak pernah sekalipun dirinya hidup di dalam kardus yang hanya dilubangi dengan diameter kecil seperti ini. Paling tidak, bisa begitu sampai si Maha Tinggi mengandanginya bak harimau buas saja.
Aku sudah tidak bisa menghitung berapa lama hidup yang kuhabiskan di dalam kardus ini, yang hanya Semesta lubangi sekitar satu sentimeter. Itu sih, sudah lubang yang amat besar. Pernah aku mengintip besar lubang kardus di seberang sana hanya separuh dari diameter lubang di kardusku. Mungkin, baginya tidak masalah. Toh,hanya dipergunakan untuk mengintip. Keluar dari kardus juga tidak bisa.
Sudah berhari-hari aku perhatikan seorang gila itu, yang tidak berkardus sepertiku, bebas berekspresi di ruang tanpa batas. Terkadang, aku bisa membayangkan seorang gila itu adalah aku yang bebas bergerak dengan banyak dimensi. Ah! Berapa banyak dimensi ruang gerakku sebenarnya? Satu? Dua? Bahkan aku pun tidak bisa mendefinisikan caraku bergerak. Bergeser sejengkal ke utara saja sudah bersinggungan dengan kardus lain. Betapa sempitnya ruang gerakku!
“Kau lihat tidak si Gila itu di luar?” Bisik seseorang dari kardus yang lain. Suaranya samar, terhantar melalui kardus-kardus yang menyelubungi kami. “Sudah seminggu dia terus bolak-balik mendongak dan menunduk. Lalu apa itu yang dia teriakkan? Sungguh mengganggu.”
“Zenit, nadir, zenit, nadir.” jawabku tanpa mengetahui betul arti dari perkataan seorang gila itu. Kudengar kardus sebelah bergerak gusar yang menghasilkan suara sruk amat banyak. Ada rasa gelisah yang merambat di telinga setengah kardusnya akan jawabanku.
Tak lama, seorang gila itu mulai mengais tanah gembur yang ia pijak sedari lahir. Aku pun membayangkan betapa lembutnya tanah itu ketika dipijak, tidak seperti tanah tandus yang terkadang membuat kakiku meleleh tak karuan. Ia mengais tanah itu lebih dalam hingga kedua tangannya dilumuri bercak-bercak tanah.
Nadirku.
Seseorang dari kardus lain mulai menyenggol kardusku dengan gusar. “Bicara apa sih dia? Dasar orang gila! Suka sekali mencari hal yang tidak nyata.”
“Mungkin ia sedang kehilangan sesuatu.” jawabku sembari terus memperhatikan si Gila yang dengan gagahnya masih mengobrak-abrik bongkahan tanah sambil memanggil si nadir itu.
“Ah, tak usah banyak bicara kamu. Memangnya kamu pernah merasakan suatu kehilangan? Bahkan warasmu pun belum hilang dan masih melekat erat bersama kardus di kepalamu itu! Lalu sekarang kau bicara soal kehilangan? Cih.”
Tak sedikit pun aku peduli akan cemoohan orang itu. Aku yakin betul soal kehilangan. Walaupun orang di dalam kardus itu berkata benar, namun aku telah diyakinkan dengan seringai buas seorang gila yang ternyata telah menemukan sebuah titik tak kasat mata dan menaruhnya tepat pada retina matanya. Seorang gila itu meraung. Ia mencakar kedua pipinya dengan teriakan pilu dan isak tangis yang menderu. Tersungkurlah ia jauh ke dalam bumi, lurus vertikal menuju sumbu Y, sambil merengek ingin zenit. Tak kuasaku mendengar kepiluannya dari dalam kardus, walaupun hanya terdengar samar-samar. Sudah lama sekali aku tidak mendengar sebuah kejelasan suara. Mungkin, seorang gila itu jauh lebih jelas lagi mendengar suaranya sendiri ketimbang apa yang aku dengar. Aku iri.
Aku melihatnya mulai kembali ke permukaan tanah. Matanya yang segelap bijih timah masih menatap kosong ke bawah. Wajahnya pucat, tidak memancarkan sedikitpun rona jingga. Tubuhnya telihat seperti daun-daun kering berserakan di jalanan. Terisak ia dalam sebuah kepedihan. Lalu, dari dalam lubang sebesar satu sentimeter ini, aku melihat bola mata hitamnya menatapku. Iya menatapku! Satu sekon, dua sekon, sebuah sihir! Ia mengalirkan rasa pedih itu hanya dengan melewati lubang kecil ini! Hebat si Gila itu. Tak pernah sebelumnya aku merasakan emosi seperti ini. Aku seperti terbius oleh kegilaannya!
Mataku mulai pedih tak karuan, namun aku tidak tahu harus apa. Tak ada o yang mampu mengelap kepedihan yang telah orang gila itu tularkan. Bahkan, kardus yang selalu menyelubungiku saja mustahil! Ah, pedih!
“Hei sinting! Berhenti memberi tatapan itu pada kami! Kardus-kardus yang kami kenakan diciptakan untuk tidak mengenal wajah-wajah sampah seperti itu! Kami masih waras! Kami dalam kardus!” teriak seseorang dari dalam kardus yang berjarak dua setengah meter dariku. Dalam hitungan sekon, orang itu sudah membakar habis lubang intipnya dan meyisakan dirinya dengan kardus yang sama sekali tidak berlubang.
Seorang gila itu tak menanggapi, ia hanya berguling-guling horizontal. Tak jelas arahnya. Dia mulai mendongak, menelusuri suatu hal yang sedang bergerak di atas. Aku tidak bisa melihat apa yang ia lihat. Itu sudah merupakan titik butaku. Aku hanya bisa melihat lurus ke depan, tidak kemana-mana.
Zenitku.
Siapa itu zenit? Apakah ia terlahir dari rahim yang sama dengan nadir? Andai saja bisa kulubangi kardus ini lebih besar lagi agar aku bisa mengikuti arah si Gila itu melihat sesuatu yang ada di atas sana, si zenit itu, entah di derajat berapa. Derajat pandangku hanya pada nol derajat, untuk merubahnya pada derajat 270 saja susahnya minta ampun. Mengapa derajat-derajatku tak punya kesamaan dengan seorang gila itu? Bagaimana kalau aku ingin seperti dia? Mustahil!
Si Gila mulai beranjak dari tempatnya berguling. Dua, tiga, empat langkah ia tapakki tanpa menyisakan sedikit keraguan. Lompatan beberapa kali ia lakukan hingga mendapati dirinya menapakki tangga langit yang memang sengaja Tuhan letakkan di suatu tempat. Si zenit selalu ia sebutkan setiap kali menaikki satu anak tangga. Mulutnya menganga lebar. Air liurnya tak karuan mengalir bak air bah yang siap menghancurkan kardus-kardus yang berjajar.
“Sekarang apa yang si sinting itu lakukan, sih?” seorang dalam kardus yang berdiri di belakangku mulai bertanya samar.
“Menaikki tangga langit, tak tahu mau kemana.”
“Halah! Apa itu tangga langit? Tak ada di sini yang namanya tangga langit! Warasmu masih melekat tidak sih? Kau tahu kan hanya ada kardus dan lubang di sini.”
Aku pun terdiam. Sebetulnya, seorang dalam kardus itu benar, kewarasan ini menjebakku hanya untuk melihat kardus dan lubangnya. Iya, hanya itu saja.
Gedebuk!
Si Gila jatuh dari langit! Wah! Matanya yang hitam pekat sekarang berubah menjadi sangat menyilaukan! Ah! Cahaya apa ini?
Dirinya lari berhamburan, tak karuan. Ia melingkar, menyudut, berputar, terbalik, tanpa batas! Warna-warni sorotan emosi sekarang melumuri wajahnya. Emosi apa ini? Aku pun merasakan pancaran-pancaran emosi itu. Jelas, jernih, penuh candu! Penuh candu!
Kulihat seorang gila itu terus-terusan berputar sambil terbahak-bahak. Dengan lantang, ia terus meneriakkan si zenit itu, yang rupanya belum aku ketahui juga hingga detik ini. Matanya yang menyilaukan kali ini menatap lurus ke dalam lubang di kardusku. Silau! Tak kuasaku menangkap sinar-sinar itu, namun penuh candu!
“HEI SINTING! BERHENTI MENULARKAN KEGILAANMU PADA KAMI! KARDUS INI ANTI GILA!” jerit seseorang dalam kardus yang ada di arah pukul sebelas. Ia terus meronta akan kesilauan emosi yang dipancarkan seorang gila itu. Namun, tak ada kuasanya menahan sebuah emosi yang ditularkan si Gila. Ia pun ikut tertawa terbahak-bahak.
Lucu sekali.
Lucu sekali.
Penuh candu!
Aku tertawa dari dalam kardus. Seseorang memukul kardusku dari arah kiri, namun tawaku semakin keras.
“Jangan tertawa! Kamu itu waras atau gila?” lalu ia memberikan tujuh pukulan berikutnya. Aku tidak peduli. Kegilaan ini luar biasa penuh candu. Persetan dengan kardus dan lubang intip, yang penting itu gila! Ya memang harus gila. Memangnya mau hidup dalam kardus terus?
Sekali-kali gila.
Dua kali gila.
Tiga kali gila juga tidak bayar dosa.
Berkali-kali gila, bisa kecanduan!
Tak lama, datang si Maha Tinggi dan dengan pasti menghampiri seorang gila, yang sedari tadi masih membagikan kepingan tawa. Terkurung ia dalam kardus sepertiku. Aku melolong penuh amukan. Aku meronta seperti tak kenal malu. Emosi apa ini? Wajarkah apabila terjadi di dalam kardus?
Tak bisa lagi aku melihat ekspresi bebas lepas. Tak bisa lagi kuperhatikan seseorang dengan milyaran dimensi gerak. Tak bisa lagi kulihat tangga langit yang diletakkan Tuhan dipanjat oleh makhlukNya. Tak adil! Tak adil! Dasar Maha Tinggi! Apa kuasamu akan kebebasan setiap manusia? Apa kuasamu dengan berani merantai setiap sendi aksi pada tubuh manusia?
Bangsat!
Tak sadarkah jika kalian, Maha Tinggi, adalah manusia juga?
Brengsek! Kegilaanku ini mulai nyata!
Dengan segera aku mencari zenit di atas langit dan nadir di inti bumi, lalu dengan sigap kuletakkan keduanya tepat pada retina mereka. Tak sedikitpun kuletakkan kepedulian akan kardus dengan lubang intip bodoh yang menyelubungiku ini. Ini bukan sebuah halangan. Aku akan terus menunggu hingga bertemu hari dimana mereka tersadar bahwa zenit dan nadirnya sudah kusatukan dalam satu gumpalan basi di retinanya. Dan di hari itu pula, mereka menyadari bahwa ajal sudah sedari tadi menunggu di depan lubang kardus yang hanya mereka lubangi kurang dari satu sentimeter.
