Tentang Statistik dan Jomblo Bahagia

Baru-baru ini, Badan Pusat Statistik (BPS) meluncurkan hasil dari Indeks Tingkat Kebahagiaan Indonesia 2017. Banyak pihak sibuk “mengeksploitasi” salah satu komponen data bahwa yang belum menikah, meraih indeks kebahagiaan tertinggi sebesar 71.53%. Sebenarnya, nilai ini hanya berbeda cukup tipis dengan indeks kebahagiaan pada mereka yang menikah, 71.09%.

Entah kenapa, mereka-mereka malah “mengeksploitasi” hal tersebut. Mungkin mereka heran, kalau orang yang belum menikah itu, kok bisa lebih bahagia? Padahal, seperti yang kita tahu, konstruksi sosial seringkali menggugat kebahagiaan yang sebenarnya bisa dirasakan semua orang, namun dipersempit hanya untuk mereka-mereka yang berpasangan. Lebih tepatnya, menikah. Sampai-sampai kampanye nikah dan nikah yang disegerakan kalau mampu pun makin marak di sosial media.

Tapi, apakah belum menikah disini hanya untuk orang-orang jomblo? Rasanya pemikirannya sempit juga. Belum menikah, tentu dalam artian belum ada ikatan resmi yang disahkan. Maka, sebenarnya orang-orang yang pacaran pun sebenarnya masih termasuk dalam orang yang belum menikah. Karena, status pacaran tidak diakui oleh pemerintah, tepatnya. Betul, kan?

Alih-alih kita membahas arti lajang dalam belum menikah dalam artian lajang betulan ataupun dua lajang memadu kasih tapi belum menikah, sebenarnya kita mungkin mesti lebih banyak berpikir soal konstruksi sosial dan kebahagiaan ini sendiri. Jujur, sampai hari ini saya masih bertanya-tanya. Benarkah para lajang yang betulan lajang benar-benar berbahagia dan tak merasa insecure terhadap godaan orang-orang diluar sana yang menganggap bahwa bahagia itu adalah ketika berpasangan?

Saya rasa, setiap orang tentu tak mau dituding munafik dalam menjawab pertanyaan ini. Rasa ingin memiliki pastinya terjadi di pikiran orang-orang tersebut. Memiliki hati, memiliki rasa. Semua pasti memiliki keinginan yang sama. Meskipun demikian, seringkali orang-orang ini tak yakin dengan rasa tersebut. Apakah memang karena mereka menginginkan, membutuhkan atau terkena “desakan” orang-orang disekitar dan juga pop culture seperti televisi dan media sosial?

Bukan sok-sok menghayati kebahagiaan, yang katanya sering berasal dari hal-hal yang kita nikmati hari ini dan ada di sekitar kita. Namun, apa jadinya cinta jika rasa insecure malah lebih kita rasa? Saya pernah mengalami situasi insecure. Membuat saya salah langkah dan akhirnya saya pun tak bersama dengan orang tersebut. Meskipun demikian, untungnya ini masih termasuk tahap “pemula”, karena toh saya masih bisa dikatakan polos untuk urusan beginian. Lah?

Orang menikmati konstruksi sosial berpasangan lebih baik dan lebih bahagia. Mereka merasa bahwa bahagia adalah ketika pengakuan itu ada. Rasa-rasanya wajar kalau manusia sibuk mencari pengakuan dari orang lain, yang membuktikan bahwa ada hal yang “sukses” diraih oleh manusia itu. Namun, predikat “sukses” macam mana yang dimaksud? Predikat yang bisa jadi bahan subordinasi kepada manusia yang belum atau tidak “sukses” mencapai hal tersebut, maksudnya?

Predikat “sukses” disini tentu tak bisa disamakan antar satu manusia dengan manusia yang lain, dimana bagi sebagian menganggap menikah disegerakan adalah “sukses”, sementara sebagian yang lain menganggap bahwa memperjuangkan pemerataan pendidikan adalah “sukses”. Maka, memang sebenarnya tak ada alasan untuk menekan “kesuksesan” hanya pada hal-hal soal berpasangan, seakan tanpa pasangan hidup tak berarti dan tanpa pasangan sama dengan egois dengan melulu mendahulukan hal-hal diluar hal tersebut.

Selain menunjukkan bahwa ada kuasa yang simbolis, “kesuksesan” yang dipatok pun menjadikan kita tak melihat kebahagiaan dalam wajah yang utuh. Kita tak mampu memilih dan tak mampu mempertanggungjawabkan pilihan tersebut. Pada akhirnya, kembali lagi rasa insecure yang tiada henti, yang membuat “lambemu tumpeh” makin marak.

Daripada sibuk memikirkan bagaimana cara agar data statistik tersebut tidak disalahgunakan oleh jomblo, lebih baik kita mikir agar bagaimana caranya membuat para jomblowan dan jomblowati merasa menjadi dirinya sendiri dan merasa berdaya. Tidak melulu menjadi bahan bully, apalagi bahan “gorengan” yang bagus seperti garam impor, beras “plastik” mantul-mantul dan tagihan listrik yang tiba-tiba melonjak drastis.

Ikuti Riset Mandiri ala IniKritikGue soal penggunaan media di generasi millenial dan Gen Z dengan klik s.id/risetmandiri. Terima kasih.