Bagi saya, paksaan yang paling kuat bukanlah secara fisik melainkan emosi. Paksaan itu bisa mewujud tekanan emosional yang membebani. Tuntutan di sekitar, harapan yang dilekatkan, tanggung jawab yang dibebankan, keharusan yang menjadi kewajiban. Hal tersebut membuat kita merasa berdosa jika tak mampu mewujudkannya. Lalu kita mencari beragam cara untuk bisa memenuhi semua itu, hingga (untuk saya sendiri) mengabaikan apa yang sesungguhnya ada dalam hati.

Terlebih jika kita lahir di lingkungan dimana seolah hidup kita bergantung pada 'omongan orang’. Meskipun mereka cuman bisa berkomentar atau sedikitnya memberi saran, ternyata bisa memberi dampak besar. Keputusan kita pun diadili dengan 'apa kata orang nanti’.

Melepaskan diri dari belenggu tersebut, menuntut konsekuensi: kita harus kuat dan berani. Membuat saya berpikir, nampaknya hidup sebagai pengecut akan lebih mudah dijalani dengan menampilkan kebahagiaan semu lewat materi.

Tapi benarkah itu yang dicari?

Angin berubah arah serta merta. Kemudian saya sadar, saya tidak menginginkan kehidupan yang kering dan kosong.

Untuk perlahan lepas dari belenggu itu, saya butuh waktu cukup lama dan keberanian yang cukup besar. Menghadapi segala prasangka dan rasa kecewa keluarga. Membuat saya merasa berdosa.

Saya mencoba kuat, untuk kembali pada pilihan yang menurut saya benar dan tepat. Setidaknya bagi saya sendiri.

Karena rasanya saya tidak akan mampu hidup sebagai bukan diri saya demi kebahagiaan orang lain yang juga tidak bisa saya jamin.

#random #curhat #linglung

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.