Memangnya kenapa?
“Gimana? Udah isi belum?”
“Anaknya udah berapa?”
“Udah punya anak belum?”
Pilihan jawaban dari semua pertanyaan yang dilontarkan tersebut tetap sama. Hanya sudah dan belum yang diikuti sebuah angka. Setelah itu, ada pula yang akan menambahkan pertanyaannya menjadi berbagai macam pertanyaan atau pernyataan sulit dan mengejutkan lainnya.
“Ah gapapa, kan baru nikah ya. Katanya, 8 bulan waktu adaptasi (alat reproduksi) untuk siap dibuahi dan membuahi. Maklum aja, kalau udah lebih baru.. Emang udah berapa lama nikahnya?”
“Wah, kurang tokcer nih..”
“Kamu mau enak atau mau isi? Kalau mau isi, jangan tiap hari makanya.. Kalau mau 2 hari sekali aja..”
“Kamu gendutan deh sekarang, lagi hamil ya?”
“Kenapa belum punya?! Makanya, jangan ditunda-tunda kalau punya anak itu!”
Dan berbagai kombinasi pertanyaan lainnya yang tidak bisa kita duga datangnya dalam bentuk apa, lebih abstrak dari kepercayaan bahwa hamil dan melahirkan tidak ada sangkut pautnya dengan yang Maha Kuasa.
Dalam berkomunikasi pertanyaan diajukan untuk mendapatkan informasi mengenai sebuah ketidaktahuan sehingga manusia dapat saling memahami. Akan tetapi hal tersebut kerap sulit tercapai, karena makna tersurat dan tersirat yang melekat pada setiap pertanyaan. Lantas bagaimana Adam dan Hawa dapat saling memahami meskipun dengan segala keterbatasan teknologi, cara berkomunikasi dan bahasa yang mereka miliki saat itu?

Adam dan Hawa sebagai Homo Sapiens pertama di Bumi memiliki kemampuan berkomunikasi, berpikir dan berimajinasi dengan bahasa yang mereka miliki saat itu. Dapat disebut bahwa mereka memiliki kemampuan dan cara berkomunikasi yang setara dan mirip dengan manusia saat ini. Sebutan primitif tidak lagi melekat pada manusia saat ini hanya karena kemajuan teknologi dan perangkat yang kita miliki berkembang jauh dibandingkan Adam dan Hawa.
Yang berubah hanyalah kemajuan dari pola komunikasi yang dilakukan Adam dan Hawa. Sehingga awalnya diwakilkan dengan gerakan tangan serta meniru bunyi-bunyian di sekitar mereka berkembang menjadi lukisan gua serta gambar atau simbol yang dituangkan pada tablet berupa cuneiform lalu akhirnya muncul huruf alfabet. Kemunculan huruf alfabet yang membuat manusia saat ini bisa menyampaikan isi pikiran kapan pun mereka inginkan dalam bentuk lisan mau pun tulisan.
Layaknya manusia saat ini, mereka pun hidup berkelompok dengan tujuan bertahan hidup serta berkomunikasi satu sama lain. Dahulu yang menjadi perbincangan sesama adalah binatang apa yang akan diburu atau bagaimana agar tidak mati dimakan hewan buas malam ini. Semuanya terbatas pada kebutuhan esensial sehingga yang disampaikan tidak memiliki makna tersirat. Karena tentu saja sebagai manusia primitif, keberlangsungan mereka untuk tetap hidup cukup menyibukkan isi kepala mereka karena keterbatasan teknologi dan alat saat itu. Hal ini pula yang justru membuat mereka dapat lebih mudah saling memahami.
Seiring dengan perubahan pola komunikasi yang dipengaruhi kemajuan teknologi, hal yang menjadi penting untuk dibicarakan pun menjadi luas lingkupnya. Itu kenapa pertanyaan yang mungkin terdengar ambigu, intrusif atau bahkan tidak sopan semakin sering terdengar pada akhirnya membuat saling memahami menjadi sebuah kemewahan. Pola komunikasi manusia terus berubah mengikuti jaman. Masuk akal tidak?
Lantas, mengapa ambigu? Mengapa intrusif? Mengapa tidak sopan?
Manusia yang secara kodratnya merupakan makhluk sosial sejak jaman Adam dan Hawa, akan selalu berinteraksi dengan manusia lain. Interaksi yang dilakukan bisa didasari dari berbagai motif. Maksudnya bisa berasal dari kebutuhan transaksional semata, rasa empati dan simpati atau kepuasaan ego.
Sehingga, ambigu itu datang dari motif yang diinginkan dari penanya terhadap yang ditanya itu apa. Apakah dia sedang mengalami hal yang sama sehingga dia ingin mendapatkan saran untuk kondisi dirinya? Atau dia pernah mengalami hal yang sama maka dia ingin berbagi cerita kesuksesannya?
Bahkan bentuk pertanyaan-pertanyaan tersebut kerap manusia asosiasikan dengan doa yang tentunya perwujudan dari rasa empati dan simpati. Tapi, bukankah doa diucapkan dalam kerahasiaan?
Tidak jarang pula manusia sebagai makhluk hidup yang paling egois tanpa hati ini hanya bermaksud menyakiti tanpa peduli jawabannya itu sudah atau belum. Apakah 1, 2 atau 3. Pokoknya, dia ingin meningkatkan posisinya dibandingkan mereka yang jawabannya kurang dari mereka.
Sebetulnya lebih mudah untuk menanggapi hal ini dengan sikap ngawur tapi bagi manusia yang berharap untuk mencapai posisi lebih mulia yaitu, manusia dewasa. Maka akan lebih mudah menanggapi pertanyaan dan pernyataan mengejutkan tersebut dengan rasional seperti, “Memangnya kenapa?”. Tujuannya, agar motif dari mereka yang melemparkan pertanyaan ini menjadi jelas karena ada manusia yang melakukan tindakan secara spontan atau tidak sadar dan tanpa maksud jahat. Maka, pembicaraan yang tadinya berpusat pada kamu manusia yang belum hamil akan berubah berpusat pada mereka manusia yang bertanya.
Tapi, jangan berharap bahwa manusia seperti ini akan hilang dari lingkungan sosial kita. Mereka akan selalu ada, menggantikan leluhurnya untuk meneruskan tradisi ambigu ini. Yang bisa kita lakukan hanya tanya kembali saja, “Memangnya kenapa?”.
