Tempat Aku Pulang

Lagu ini yg selalu paling pertama ku ingat, tiap kali ku habiskan waktu dalam pesawat.
“Tempat Aku Pulang” — Fiersa Besari

Tidak lagi ada sedih yg ingin ku umbar keras-keras. Selemah-lemahnya aku menjabarkan rasa sakit, airmata tak lagi mampu jadi pereda kenapa aku berakhir kecewa.

Bukan perihal siapa yg menjadi pemenang disetiap perdebatan kita, tapi rindumu yg kerap meluap-luap tanpa sebab, buatku enggan menentang apapun yg tanpa sadar sering kali berulang-ulang kau ucap yg lalu disudahi dengan ribuan kata maaf.

Entah kemana tahun-tahun berlalu, dan lagi-lagi ini jadi pulangku yang entah keberapa kepada kamu. Dan lalu dengan bodoh nya, kamu selalu enggan melupakan aku atau akunya yg terlalu pandai membuatmu jatuh kepelukan ku berkali-kali, pun aku tak tahu.

Tidak pernah ada sakit yg tak bisa sembuh oleh kamu. Kamu yg slalu jadi pereda kecewa-kecewa yg bisa-bisanya dengan tiba-tiba dititip oleh mereka-mereka yg pernah mengaku benar-benar begitu cinta aku.

Kali ini mungkin terasa asing, kembali ku nampak semacam tak berujung pada kepergian lagi. Tak heran jika kamu malah jadi bertanya-tanya kenapa aku ingin tetap tinggal. Tapi sayang, rasaku tidak pernah benar-benar mati. Meski sering kali dikecewakan siapa-siapa yg pernah begitu aku inginkan tapi tak pernah benar-benar menginginkan ku dalam porsi yg sama, aku tak pernah kehilangan akal tentang bagaimana rasanya jatuh cinta lagi.

Jadi, jika kali ini kamu adalah apa yg paling aku inginkan untuk ku genggam erat-erat karena kuyakini tidak akan ada kecewa yg pernah kamu gali untuk menguburku dan kenangan kita suatu saat nanti. Aku mohon, percayalah... kali ini aku benar-benar cinta. 
Dan kemudian kamu tidak lagi menjadi penyembuh luka dan persimpangan yg lagi-lagi seenaknya ku tinggalkan.

Keraguanmu kuwajarkan, tapi penuduhanmu atas sikap-sikapku yg banyak kuubah tapi dinilai tak pernah berubah membuat ku geram atas kebersamaan kita. Kita dua orang yang pernah sepenuh-penuhnya percaya tentang satu sama lain di atas ketidakbersamaan kita karena pengejaran dan obsesi tingkat tinggi atas karir kita masing-masing.

Kesalnya, kali ini kita bisa seketika menjadi dua orang yang berjalan pada kebersamaaan tapi hilang percaya atas eksistensi satu sama lain.

Kalau begitu, aku pilih kita yang tidak pernah sama-sama tapi slalu yakin suatu saat kita bisa saling cinta. Daripada, kita yang katanya sedang bersama tapi ditemani dengan curiga curiga dan curiga.

Seperti mengulang yg sudah-sudah dan kamu yg slalu siap kehilangan aku. Padahal kali ini, disisi yg lain aku tidak ingin apa-apa yg kita sudah pernah.

Like what you read? Give rinigitanusajagadhita a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.