MEMBANGUN KEBUDAYAAN DENGAN EJAAN BAHASA


Ketika ejaan diperbarui pada awal 1970an, umumya orang ingat pada perubahan penulisan ejaan tertentu, misalnya “tj” (tjowok) diganti dengan “c” (cowok). Apa boleh buat, sampai di abad 21 kekacauan berbahasa tulis masih banyak terjadi. Implikasinya mengarah pada sesat berpikir. Kalau tak percaya, coba bayangkan sebuah kalimat berseru “tadi siang Alquran kita dibiarkan di langgar!” Orang ramai yang membaca mungkin akan marah besar. Mereka menyangka bahwa yang dimaksudkan adalah “tadi siang Alquran kita dibiarkan dilanggar!”

Ketika ejaan diperbarui pada awal 1970an, umumya orang ingat pada perubahan penulisan ejaan tertentu, misalnya “tj” (tjowok) diganti dengan “c” (cowok). Apa boleh buat, sampai di abad 21 kekacauan berbahasa tulis masih banyak terjadi. Implikasinya mengarah pada sesat berpikir. Kalau tak percaya, coba bayangkan sebuah kalimat berseru “tadi siang Alquran kita dibiarkan di langgar!” Orang ramai yang membaca mungkin akan marah besar. Mereka menyangka bahwa yang dimaksudkan adalah “tadi siang Alquran kita dibiarkan dilanggar!”

Ini berarti ada yang gagal dari niat pembaruan ejaan puluhan tahun yang lalu itu. Mungkin karena Pusat Bahasa yang jadi pendorong ikthiar nasional hanya sibuk dengan perkara cara menulis yang berubah atau mungkin mungkin repot dengan ide perubahan bersama antara Melayu-Indonesia dan Melayu-Malaysia dalam ejaan. Kita semua tidak sadar bahwa membangun ejaan sesungguhnya bukan sekadar perubahan penulisan namun juga menegaskan perubahan kebudayaan. Sehingga, kita gagal (atau mungkin belum) membangun budaya berbahasa tulis itu sendiri.

Kita hidup dalam kebudayaan beraksara. Walter Ong dengan bukunya yang termasyur itu, Orality and Literary menunjukkan bahwa “beraksara” itu memiliki implikasi yang besar dalam kebudayaan. Terutama jika dibandingkan dengan kebudayaan yang hampir sepenuhnya mengandalkan komunikasi ekspresi lisan. “Teknologi tulisan,” kata Ong, mengubah kesadaran manusia. Berbeda dengan kebudayaan lisan, aksara memberi bentuk linear kepada pikiran kita. Oleh karena itu, terbuka dan terdoronglah kita untuk bersikap analitis. Salah satu contoh terkenal dalam sejarah adalah ketika orang Yunani mulai menghayati alfabet. Dunia pemikirannya pun berubah. Tidak lagi berdasarkan kisah lisan Homeros, melainkan bersama Plato, yang mampu mengurai persoalan hidup dan jalan pikiran yang tajam. Begitu juga halnya budaya lisan bangsa Arab yang berubah drastis setelah turunnya Alquran. Tidak hanya budaya ejaan bahasa tulis Arab yang diperbaiki tapi juga kebudayaan berpikirnya secara menyeluruh.

Memang ada yang hilang dalam kebudayaan aksara, tapi bisakah kita mengabaikan betapa pentingnya kini sikap analitis dalam berbahasa dan berpikir? Tidak hanya untuk melahirkan seorang Plato, tapi juga buat soal yang lebih sehari-hari. Misalnya ketika kita harus menggugat sebuah perlakuan yang kita anggap secara seenaknya menafsirkan hukum. Kita hanya bisa menggugat secara efektif jika bisa bertanding tafsir atas kata-kata dalam peraturan itu. Adu tafsir pada dasarnya adalah adu analisis.

Ada sebuah teori (saya lupa entah siapa yang menyatakan), bahwa masyarakat yang terbiasa dengan aksara tidak mudah dihasut. Mereka akan lebih mampu menyimak kembali dan menguraikan informasi yang diperoleh.***