Anjing Berbulu Hitam itu

Anjing berbulu hitam yang sedang bersembunyi
dibalik gelap bayangan lampu penerangan jalan itu
adalah seekor anjing yang pendendam.
Yang membenci mobil merah yang sedang 
berhenti didepan rumahmu,
karena baru saja menindih sahabatnya, hingga
tidak bisa menggonggong lagi.

Anjing berbulu hitam itu,
kini senang sekali mengikutimu, hingga ke dalam
tidur yang paling kau senangi itu.
Anjing itu ingin sekali melolong,
dan membuat bulu kudukmu berdiri,
tapi pejam matamu membuatnya merinding sendiri,
dan kehabisan napas secara mendadak.

Anjing berbulu hitam itu,
kini mengalami sesak nafas setiap harinya,
mungkin karena terlalu sering kehujanan, dan
kedinginan setiap malamnya, dan 
terlalu sering menghirup asap knalpot mobil merahmu,
karena selalu mengejar mobilmu dari belakang.
Dan pada akhirnya, selalu tidak berhasil membuatmu menoleh,
lalu sepersekian detik kemudian,
mobilmu berbelok ke arah jalan raya, dan anjing itu lelah,
dan memutuskan untuk berhenti berusaha.

Hari ini kamu bertanya padaku, sambil menangis,

kemanakah anjing hitam yang selalu mengejarku setiap waktu?

Aku jawab dengan perasaan suka cita, bahwa anjing itu,
telah mati, dan perasaannya, telah aku bakar bersama peti mati.
Dan anjing itu, kini, sudah tidak lagi peduli,
pada dirimu, nona cantik.

Like what you read? Give Rio Adriano a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.