Saya teringat suatu pagi saya menonton Ngaji Budaya di youtube. Waktu itu pembicaranya mbah Sudjiwo Tedjo dan ustadz tetap di Ngaji Budaya tersebut, Ustadz Salim A Fillah. Mbah Tedjo waktu itu bilang: “saya ini bajingan…” setelah sesi beliau, Ustadz Salim menanggapi, “Memang ajaran nabi Adam ‘alaihissalam itu merendahkan, menghinakan diri. Beliau ini (nunjuk mbah Tedjo) cuma mengamalkan bagaimana Nabiyullah Adam bersikap: Rabbana zhalamna anfusana wa illam taghfirlana watarhamna lana kuunana minal khoosiriin. Orang yang ngikutin nenek moyang kita itu ya merendah-rendahkan diri.”
Tentu ustadz Salim menjelaskan sambil menasihati Mbah Tedjo waktu itu. Menasihati seorang dalang, sufi, dan peminat filsafat tentu beda dengan menasihati jamaah majelis taklim di masjid. Ada diksi, cara, dan laku yang khusus untuk masing-masing lawan bicara.
Sekarang saya melihat ke dalam diri. Seorang diri yang kadang-kadang ingin dan mau tak mau berada di peran penyampai pesan. Sebagaimana banyak trainer — bahkan mungkin penyair bilang : teko hanya akan mengeluarkan isinya. Dengan apa saya mengisi kepala dan hati, itulah yang akan keluar dari lisan dan sikap.
Saya sedang berkaca diri.
Pada masa-masa tertentu, saya sadar. Itulah saat saya baru saja akan beristighfar. Saat itu adalah ketika saya sadar sedang lalai, berpikiran negatif, atau malah bermaksiat — dengan atau tanpa disadari. Bahwa betapa split kepribadian saya ini; kadang taat kadang… ya begitu tadi, harus sering eling dan banyak-banyak istighfar. Kok bisa saya sebentar-sebentar seolah bertolak belakang satu sama lain di lain waktu.
Cermin diri yang saya tuangkan lewat tulisan ini terdorong oleh perasaan ketika sore kemarin saya membaca sebuah trending di twitter. Cerita (lebih tepatnya curahan hati) seorang istri yang ditinggal cerai oleh suaminya. Mantan suami pemilik curahan hati meninggalkan dirinya setelah menikah lagi dengan seorang perempuan lain. Terlepas apakah benar masa lalu istri muda ini bukan seorang perempuan yang baik-baik atau bukan ketika pertama bertemu dengan mantan suami pemilik curahan hati, dan apakah pemilik curahan hati berlebihan, kita berlepas saja. Mari kita serahkan kepada Allah yang memberikan petunjuk dan penghakiman. Curhat ini menarik menurut saya karena sang mantan suami adalah seorang pengelola kanal dakwah di Youtube. Betul, tulisan ini adalah tanggapan saya tentang #layanganputus.
Kembali ke teko hanya mengeluarkan isinya.
Saya pikir saya bukan seorang sekuler jika memercayai bahwa jiwa manusia itu terbagi dalam beberapa dimensi pikiran. Ada kognitif, afektif, dan psikomotor. Dalam dikotomi Emmanuel Kant, ada logika, perasaan, dan iman. Tiga pertama beda dengan tiga kedua, saya sebutkan untuk menguatkan betapa banyaknya teori yang membahas kejiwaan manusia (sanggahan: dasar keilmuan saya bukan psikologi).
Berangkat dari pemahaman tersebut, bagaimana mungkin seorang pemilik kanal dakwah di Youtube dihujani label bejat oleh warganet secara bertubi-tubi? Apakah kita hendak semakin membenci pendakwah karena ternyata mereka juga sama saja seperti kita?
Suatu kali saya membaca prosa di tumblr (maafkan lupa penulis/akunnya siapa), kendati tema tulisan tersebut roman, ada sebaris kalimat bijak yang masih saya ingat hingga sekarang. Kurang lebih begini:
Kita berpura-pura buku yang kita baca, film yang kita tonton, keseharian yang kita lalui tidak memengaruhi kita. Padahal sejatinya dengan perilaku tersebut kita sedang membohongi diri sendiri.
Sejak merasakan Tuhan sama pentingnya seperti mengenal Tuhan kata Fauz Noor (yang diungkapkan dengan sedikit liar dalam Tapak Sabda), tentu agama bukan hanya urusan logika atau kognitif. Agama adalah satu paket tauhid dan akhlak, syariat dan tazkiyatunnafs, serta nash-naskah dan pengamalan. Saya yang masih split kepribadian mungkin masih berlebihan dalam salah satunya; mungkin mantan suami pemilik curhat #layanganputus juga.
Lalu meskipun telanjur viral, tidak selayaknya kita menghakimi pelaku dalam curhat tersebut. Entah butuh berapa video dan pos yang mencerahkan yang harus disebar oleh mantan suami dalam curhat layangan putus untuk membuat warganet sadar, bahwa kita bisa jadi tidak lebih baik dari beliau. Sungguh kita bukan makhluk kapabel untuk menghitung lebih berat mana kebaikan dan keburukan seseorang.
Sebab itu jugalah saya sudah hampir tidak pernah berlagak ustadz atau dai jika punya pandangan dalam suatu kejadian. Saya lebih suka dikenal sebagai pribadi yang lengkap sepenuhnya yang kadang baik kadang buruk. Lebih baik mengaku bajingan supaya tidak lupa diri. Saya masih sering split, pengakuan itu juga harus lebih saya seringkan di dalam doa.
Semoga kita istiqomah menjadi pendosa (yang terus menyadari dan berusaha memperbaiki diri di hadapan-Nya).
___
Rio Pale | Bandung, 5 November 2019
Di sela-sela menjadi mc training kantor.
