Polemik Pertanian Indonesia: Ada Apa?

Rio Satria
Nov 1 · 4 min read
Image Credits: CNN Indonesia

Indonesia dikenal dengan sebutan negara agraris yang memiliki sumber daya alam maupun manusia dalam sektor pertanian. Tersebarnya lahan pertanian maupun perkebunan yang asri di berbagai pulau di Indonesia menjadi sektor yang cukup menjanjikan bagi Indonesia. Mengapa begitu? Karena sektor pertanian menjadi langkah pertama dalam menurunkan angka kemiskinan karena sekitar 60% penduduk desa di sekitar hutan di Pulau Jawa yang menggantungkan hidup di bidang pertanian, masih tergolong miskin. Selain itu, ketersediaan sumber daya tersebut juga merefleksikan masalah yang lebih kompleks dalam sektor pertanian di Indonesia yang menjadi tantangan tersendiri bagai pemerintah maupun LSM. Tantangan yang utama seperti: menurunnya jumlah petani yang berimbas pada produktivitas dari industri pertanian, tidak terpenuhinya kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia yang mengharuskan pemerintah melakukan impor beras, dan belum adanya regulasi dan sistem yang jelas terkait dana desa di Indonesia.

Menurunnya jumlah petani tercermin dari data BPS yang menunjukkan jumlah pekerja di sektor pertanian turun dari 35,9 juta orang atau sekitar 30% dari jumlah total pekerja pada tahun 2017 menjadi 35,7 juta atau sekitar 29% dari total pekerja di Indonesia pada tahun 2018. Stigma yang berkembang dalam masyarakat adalah petani dekat dengan kemiskinan banyak membuat orang-orang menghindari profesi petani, pun petani membesarkan anak-anak mereka untuk menjadi “lebih” dari orang tuanya. Stigma tersebut membuat regenerasi petani menurun. Lalu bagaimana untuk mengimbangi menurunnya jumlah petani dengan tetap meningkatkan produksi bahan pangan Indonesia? Mekanisasi alat pertanian mungkin bias menjadi jawaban dari permasalahan tersebut. Sebagai asumsi kasar, data yang diutarakan oleh Mantan Dubes RI untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal, menunjukkan satu petani di Amerika memberi makan 235 orang sementara satu petani Indonesia hanya memberikan 3 hingga 4 orang. Dengan begitu, mekanisasi dapat meningkatkan produktivitas walau menurunnya jumlah petani. Namun, apakah petani Indonesia siap menghadapi tersebut? Perlu adanya program pelatihan yang mendasar, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi yang rutin dan berkisambungan untuk memulai Gerakan mekanisasi industri pertanian dalam bentuk kelompok tani atau koperasi desa. Perlu diingat pula mekanisasi akan berdampak ke faktor sosial daerah, dimana akan membuat perpindahan ke sektor non-pertanian akan meningkat. Akan tetapi, hal tersebut bias ditekan dengan adanya program studi pertanian di berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia yang tidak hanya berfokus pada pengembangan bibit unggul/varietas jenis tanaman, namun juga ke arah pembuatan dan pengembangan teknologi dalam proses pertanian.

Masalah berikutnya yang menjadi tugas berat pemerintah adalah terkait impor beras. Beras merupakan makanan pokok mayoritas masyarakat Indonesia. Sehingga, jika produktivitas dalam negeri menurun, hal tersebut akan berdampak pada kebutuhan nasional. Menurut data statistik dari BPS, impor beras kembali meninggi pada tahun 2018 yaitu sebesar 2,14 juta ton. Buah dari impor beras secara rutin akan berdampak ke menimbunnya stok beras di Bulog. Hal tersebut disebabkan karena adanya ketidakselarasan data yang ada. Kurangnya keefektivitasan komunikasi dua arah antar lembaga menjadi penyebab hal tersebut terjadi. Untuk mendapatkan data yang valid dari luasnya Indonesia, perlu adanya integritas kerja dalam mencari data. Tidak hanya menjadi pekerjaan utama BPS, Kementerian, dan Bulog, namun juga menjadi tanggung jawab Perguruan Tinggi yang di dalamnya memiliki program studi ilmu pertanian. Salah satu bentuk luaran dari tindakan tersebut adalah terbentuknya peta data tanah berbasis android. Karena dari data valid yang diperoleh akan menghasilkan kebijakan negara.

Belum adanya regulasi dana desa yang jelas dapat meningkatkan potensi korupsi di kalangan pemegang otoritas desa. Sedangkan dana yang tak sedikit tersebut sudah dipersiapkan untuk dimanfaatkan sebagai pemberdayaan desa. Kurangnya kapasitas untuk membuat perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan menjadi momok utama bagi aparat desa dalam menyerap dana tersebut. Alhasil, korupsi dana desa menjamur di beberapa tempat. Kesalahan ini berawal dari pemberian dana tanpa memberi kapasitas yang cukup bagai peranngkat desa. Maka dari itu, langkah pertama yang dapat dilakukan untuk menekan angka korupsi dana desa adalah meningkatkan kapasitas perangkat desa melalui program-program pelatihan, monitoring, dan evaluasi. Sosialisasi ini juga diberikan kepada kelompok-kelompok desa lainnya, seperti kelompok tani, posyandu, dan koperasi sebagai bentuk pengawasan aparat desa. Lalu, pemerintah harus jauh lebih mengenali segala jenis modus korupsi agar dapat terdeteksi lebih dini, sehingga tindakan penyelewengan dana dapat segera dicegah. Ketika ada keseimbangan di dana desa dengan penyerapan yang efektif, hal tersebut dapat membantu produktivitas pertanian yang secara langsung membantu perekonomian pembangunan dan hasil pangan di Indonesia.

Polemik pertanian dan desa di Indonesia akan selalu menjadi permasalahan besar jika tidak ada tindakan konkret dan masif yang dijalankan. Tidak semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah untuk membereskan masalah tersebut satu per satu, namun perlu adanya bantuan tangan dari akademisi maupun pakar yang tidak hanya dari ilmu pertanian saja. Seperti yang telah dijabarkan di atas, bahwa polemik ini tidak hanya mengandung unsur ilmu pertanian saja, ekonomi, politik, sosial, hubungan luar negeri, teknologi dapat turut memberikan sumbangsih yang besar dalam industri pertanian di Indonesia.

Rio Satria

Written by

A scholar who is keen to learn more because I know I need to read more

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade