Tentang Kegelisahan

2 bulan terakhir ini saya banyak mengalami kegelisahan. Saya terjebak dalam area yang sangat nyaman yang ketika kenyamanan itu pergi saya akan hampa karena sangat dimanjakan keadaan. Rasanya seperti ingin mengambang di angkasa luar yang berada di dalam samudera. Saya tahu persis apa yang membuat kegelisahan ini datang dan tinggal, Namun saya mengalami kesulitan untuk mengusirnya pergi. Ya siapa sih yang tidak berusaha untuk selalu positif seperti Kak Seto atau quotes-quotes Pinterest? Tapi apakah kegelisahan itu memang seharusnya diusir?

Kemudian di beberapa obrolan dengan teman-teman, tanpa ditanya, sebagian teman-teman saya pun memiliki kegelisahan yang seirama. Ada yang gelisah mengejar beasiswa, kekuatan hubungan, tabungan pernikahan, jenjang karir dan lain-lain. Pada intinya adalah, saat ini semua orang tengah berjuang — sangat berjuang untuk keluar dari kegelisahan. Saya jadi merasa tidak sendirian dalam perjuangan ini.

Padahal sebenarnya saya sendirian.

Karena saya dan teman-teman saya berada dalam perang yang berbeda.

Dalam fase ini, (diluar membahagiakan orangtua)bayangkan kita teh dituntut untuk bisa berjalan seimbang diantara ketaqwaan, karir, kehidupan sosial, keuangan, asmara, sampai kesehatan dalam satu timeline.

Dengan kata lain, gimana caranya buat gua bersosialisasi, bersenang-senang tapi masih dalam ridho Tuhan, sambil mengatur keuangan agar tidak defisit yang dimana berarti gimana caranya gua merencanakan jenjang karir 2 tahun kedepan sambil memperbaiki diri dan mempersiapkan seorang pasangan untuk menikah, dan tentu saja menjaga pola makan dan rutin berolahraga agar badan tetap bugar?

Oh satu lagi, — dan selalu menebar aura positif. Hal ini pun membuat saya jadi sering membatin pusing siah diiringi Istighfar. Jika dipikir memang terasa sangat banyak dan membebani, Jika tidak dipikir, nanti jam 2 malam juga pasti kepikir saat susah tidur. Ini semua seperti hantu.

“our constant efforts to eliminate the negative… is what causes us to feel so insecure, anxious, uncertain, or unhappy,” — Oliver Bukerman

Pusing, akhirnya saya mencoba untuk terbuka dan memeluk kegelisahan-kegelisahan itu. Saya memberi waktu pada diri saya sendiri untuk bergelisah ria dan menerima semua kekurangan yang ada dalam diri saya(masih dalam proses sampai detik ini), kemudian saya berusaha tidak lagi menjerit-jerit mengusirnya pergi. Saya mencoba menyentuhnya dan mengajaknya berbicara pelan-pelan, kemudian bercermin apakah ia memiliki relevansi dengan hal-hal yang ingin saya capai? Menurut KBBI, gelisah/ge·li·sah/ a tidak tenteram, selalu merasa khawatir (tentang suasana hati); tidak tenang (tentang tidur); tidak sabar lagi dalam menanti dan sebagainya; — disana tertulis tidak sabar lagi dalam menanti, jangan-jangan kegelisahan ini memang sebuah proses yang harus dilewati untuk mencapai sesuatu.

Teman saya pernah bilang yang jadi masalah sebenarnya ada di kelemahan kita dalam menerima sesuatu. Entah itu yang buruk atau yang baik sekalipun. Ternyata benar, setelah memberi waktu untuk benar-benar larut dalam kegelisahan, saya menjadi lelah karena terlalu kencang memeluk, namun saya jadi faham tentang langkah yang akan saya ambil.

Mulai sekarang saya berusaha untuk mengontrol diri dan tidak memusuhi kegelisahan. Karena saya baru sadar kegelisahan saya sebenarnya adalah proses awal untuk melangkah. Saya tidak akan mengusirnya pergi, tapi lebih kepada mengajaknya berdiskusi.

Karena toh,

hidup terlalu singkat untuk dijalani biasa-biasa saja — Dee Lestari

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.