Bajawa, Kampung Adat Tololela dan Gurusina

Riska Damayanti
Sep 25, 2017 · 3 min read

Saya mengasosiasikan kota (dan orang, kadang-kadang) dengan warna. Kalau Larantuka berwarna biru dan putih, Ruteng hijau dan kuning, maka Bajawa ini merah dan jingga. Mungkin karena ingatan pertama saya akan Bajawa adalah warna langitnya saat matahari terbenam…mungkin juga karena ada yang berbaju merah dengan senyum menawan #eh.

Langit matahari terbenam yang paling indah saya temui adalah di Wolo Bobo. “Wolo” adalah bahasa Ngada untuk gunung, hampir mirip dengan bahasa Manggarai untuk gunung yaitu “Golo”. Dengan latar belakang Gunung Inerie, di suatu sore kami melihat langit berwarna kuning dan ungu, dengan pusaran awan seperti gulali.

Sore hari dari puncak Wolo Bobo
Gunung Inerie, dan langit sore hari dilihat dari puncak Wolo Bobo

Gunung Inerie sendiri memang memesona. Berbentuk segitiga hampir sempurna, tak salah ia menyandang nama Ine (Ibu) yang Rie (cantik, anggun).

Gunung Inerie, dilihat dari Manulalu Villa. Lalu fotonya miring #ahsudahlah

Berkunjung ke Bajawa tentunya belum lengkap tanpa mengunjungi desa-desa adat yang ada di sana. Terdapat sekitar 12 desa adat, termasuk Desa Bena yang paling terkenal. Tapi ada banyak desa lain, misalnya Desa Belaraghi, Kampung Luba, dan juga Kampung Tololela dan Gurusina yang saya tampilkan di sini.

Untuk menuju Kampung Tololela, kamu bisa trekking dari Desa Bena sekitar 30 — 40 menit. Dipandu oleh guide, pastikan kamu sampai di Kampung Tololela sore hari, karena pemandangannya sungguh aduhai, kawan. Jangan tertipu dengan bagian depan kampung yang terlihat kecil, karena kalau kalian jalan terus masuk ke dalam, masih ada kampung bawah — dan dari kampung bawah ini kamu bisa melihat Gunung Deru.

Kampung Tololela (bagian atas)
Kampung Tololela (bagian bawah), dengan Gunung Deru di kejauhan

Kamu bisa menginap di salah satu rumah adat itu, tersedia kasur berikut kelambu, dan sudah termasuk makan malam dan sarapan untuk keesokan harinya. Ada banyak aktifitas yang bisa kamu lakukan di sini, misalnya melihat proses pemintalan benang dan juga pembuatan kain tenun berikut gantungan kunci atau gelang dengan benang pewarnaan alami (jangan lupa membelinya untuk oleh-oleh), ikut memasak dengan tungku batu dan kayu api, belajar memainkan alat musik bambu yang disebut Bombardom, ataupun duduk-duduk menikmati pemandangan dengan segelas kopi dan pisang rebus!

Pembuatan tenun dengan benang pewarnaan alami
Hasil kerajinan tenun dari kampung Tololela, Gurusina dan Bena (foto kredit ke Andre Sigalingging)
Pemintalan benang kapas, sarapan pisang dan talas kukus dengan ikan goreng dan sambal

Setelah menikmati kampung Tololela, lanjutkan trekking turun melewati kampung Gurusina. Berbeda dengan Tololela, di Gurusina kamu akan menikmati kampung dengan batu-batu megalitikum yang lebih besar.

Kampung Gurusina
Kampung Gurusina, dari pintu masuk
Kampung Gurusina, dari bawah.

Masih ada satu tempat lagi di kawasan itu, yaitu pemandian air panas di Malanage. Nah, sekarang kamu sudah siap untuk kembali ke Bajawa dan berbelanja di Pasar Boubou. Ada satu jenis pisang yang hanya bisa kamu dapatkan di sini, berwarna merah. Berbagai jenis beras dan kacang-kacangan juga menarik untuk dicoba.

Pisang merah yang berukuran besar dan sangat manis, beras dan kacang-kacangan

Selamat menikmati kota Bajawa yang dingin!

Riska Damayanti

Written by

Orang Indonesia, menulis tentang tempat dan kenangannya, suka kegiatan luar ruangan, sering nyengir. Saya ada di @riska.asaya @asayacoffee.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade