HOW READY ARE PEOPLE FOR CASHLESS SOCIETY

Risky Alhamdhan
Nov 5 · 5 min read

( Seberapa Siapkah Orang menghadapi Masyarakat Non-tunai? )

Penulis Summary : Risky Al Hamdhan

Di zaman yang semakin canggih dan dengan bergaungnya Revolusi Industri menyebabkan perubahan pola dari yang semua bersifat konvensional tradisional beralih ke serba teknologi. Tidak menutup kemungkinan pada sektor keuangan juga menggunakan sistem berbasis teknologi tersebut yang dikenal dengan Financial Technology yang menjadi salah satu alat yang efektif untuk mencapai sebuah inklusi keuangan yang baik. Pemerintah juga mulai mengembangkan layanan keuangan digital yang mendorong pada masyarakat non-tunai dibarengi dengan pembangunan infrastruktur baik itu fisik maupun digital. Namun peralihan sistem ini memerlukan partisipasi dan tingkat kesiapan masyarakat yang cukup, karena sebuah sistem dibuat untuk memudahkan pelayanan kepada masyarakat itu sendiri, sehingga dengan adanya sistem/ teknologi ini bisa berjalan dengan efisien dan sustainable. Untuk itu masyarakat perlu adanya edukasi dan sosialisasi guna menyamakan persepsi kesiapan antara yang tinggal di daerah pedesaan dan perkotaan.

Jurnal ini akan membahas tentang hasil empiris yang menunjukkan seberapa besar kesiapan masyarakat kesiapan berkorelasi tinggi dengan kualitas dari infrastruktur pendukung. Dengan memasukkan beberapa faktor demografi yang sudah melakukan survei pada 993 orang dewasa di suatu provinsi di Indonesia dengan menggunakan metode pengambilan sampel proporsional. Diestimasi menggunakan perhitungan ordinary least square.

Membahas mengenai kesiapan masyarakat tanpa uang tunai tidak lepas dari persoalan inklusi keuangan sebagai upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Inklusi keuangan didefinisikan sebagai akses awal ke lembaga keungan formal dengan biaya yang dapat dijangkau oleh masyarakat dan menitikberatkan kepada kemiskinan. Didalam jurnal ini difokuskan kepada pelaksanaan digital jasa keuangan di Indonesia yang merupakan bagian dari inklusi keuangan, yang mana dengan menggunakan teknologi dapat dianggap mampu meningkatkan tingkat inklusi keuangan serta dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi (ICT) menjadi penting dalam pengembangan keuangan.

Mulai tahun 2014 Pemerintah Indonesia melalui Bank Indonesia berkomitmen mempercepat tingkat inklusi keuangan dengan memperluas akses terutama untuk masyarakat yang tidak memiliki rekening bank dan underbanked society yaitu masyarakat yang sudah punya akses dengan layanan keuangan tapi masih sangat sederhana, misalnya hanya tabungan. Untuk itu Bank Indonesia telah membuat beberapa inovasi melalui pengenalan jasa keungan digital (DFS) yang sebelumnya dikenal sebagai program Branchless Banking.

Pada intinya jurnal ini meneliti tentang faktor-faktor penentu kesiapan yang dirasakan orang terhadap pelaksanaan jasa keuangan digital yang pada gilirannya akan menyebabkan masyarakat tanpa uang tunai yang berfokus pada penggunaan uang elektronik untuk pembayaran dan kegiatan lainnya. Sampel terdiri dari 993 orang dewasa yang tinggal di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan metode wawancara mendalam untuk memastikan bahwa responden sepenuhnya memahi tentang apa yang peneliti minta. Responden dipilih dengan kriteria berusia lebih dari 17 tahun, memiliki ponsel dan memiliki pekerjaan dan sampel didistribusikan di seluruh kabupaten.

Tabel 1 : Deskripsi Statistik Variable

Hasilnya adalah untuk kesiapan masyarakat rata-ratanya 14,606 dan untuk rata-rata indeks pada persepsi kualitas infrastruktur adalah 43,299. Responden terbesar adalah laki-laki sebesar 60,2 persen, sedangkan rata-rata pendidikan responden adalah antara SMA dan sarjana di perguruan tinggi. Pendapatan rata-rata responden adalah 2,603 yang berarti dalam interval 2–3 juta rupiah perbulan.

Table 3 : Hasil Regresi

Sedangkan tabel diatas menyajikan hasil regresi yang mana variabel dependen adalah indeks untuk mewakili kesiapan dalam pelaksanaan jasa keuangan digital. Disertakan juga beberapa faktor penentu untuk menjelaskan variabel dependen termasuk infrastruktur, karakteristik demografi, kondisi sosial ekonomi,dll. Dan hasilnya menunjukkan bahwa infrastruktur memiliki hubungan positif dan signifikat terkait dengan kesiapan yang dirasakan dalam pelaksanaan sistem cashless atau non-tunai. Beralih ke demografi, peneliti menemukan bahwa semakin tinggi pendidikan itu memiliki kesiapan yang lebih tinggi pada untuk terlibat dalam jasa keuanga digital. Dan juga usia berkolerasi negatif yang berarti bahwa orang muda lebih siap untuk menggunakan jasa keuangan digital. Ini mungkin disebabkan karena orang-orang muda lebih akrab dan intens dalam berhubungan dengan teknologi dan sistem informasi. Sedikit bukti juga ditemukan bahwa responden laki-laki memiliki tingkat kesiapan yang lebih tinggi dari responden perempuan, karena laki-laki dikenal luas sebagai pribadi yang lebih percaya diri dan berani mengambil resiko daripada perempuan. Juga dengan orang-orang yang mempunyai pendapatan yang lebih tinggi lebih siap dalam menghadapi layanan keuangan digital. Dapat dikatakan bahwa dengan pendapatan yang lebih tinggi, orang memiliki keterlibatan besar dengan layanan perbankan, dsb.

Mengacu dengan semakin banyaknya fitur teknologi keuangan atau fintech termasuk didalamnya uang elektronik, pembayaran mobile, pendanaan bersama, pinjmana peer-to-peer dan lain-lain. Namun, juga harus dicatat bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam tingkat kesiapan dalam pelaksanaan jasa keuangan digital di seluruh individu, daerah dan negara. Ini menyiratkan bahwa tingkat kesiapan di masing-masing individu dan daerah dianggap penting dalam sejauh mana jasa keuangan digital akan dilaksanakan. Jikalau tingkat kesiapan dari masyarakat masih kurang berarti bahwa pelaksanaan jasa keuangan digital tidak bisa efektif.

Peneliti mengemukakan bahwa setidaknya ada tiga faktor penting yang menentukan kesiapan terhadap pelaksanaan jasa keuangan digital. Yang pertama adalah infrastruktur, lebih khusus infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi. Kedua, beberapa faktor demografi yang berhubungan dengan tingkat literasi keuangan seperti pendidikan dan usia dalam hal kesiapan untuk menggunakan jasa keuangan digital. Terakhir adalah karateristik daerah yang mana semakin tinggi tingkat melek finansial dari orang-orang di daerah, maka kesediaan untuk terlibat dalam lembaga keuangan formal akan lebih besar.

Catatan penting lainnya adalah terkait dengan risiko. Seperti yang kita ketahui bahwa jasa keuangan digital sebagai inovasi keuangan, di satu sisi, dapat menyebabkan pertumbuhan bank yang lebih cepat. Di sisi lain, bagaimanapun juga membuat kerapuhan perbankan terutama di masa krisis. Oleh karena itu, kualitas regulasi harus menjamin keamanan dan harus bijak dalam pengambilan resiko yang berlebihan.

Sumber Jurnal :

HOW READY ARE PEOPLE FOR CASHLESS SOCIETY?

Irwan Trinugroho, Hunik Sri Runing Sawitri, Muh Juan Suam Toro, Siti Khoiriyah, Arief Budi Santoso

Jurnal Keuangan dan Perbankan, 21(1) : 105–112, 2017

Nationally Accredited : No. 040 / P / 2014

Link Jurnal : http://jurnal.unmer.ac.id/index.php/jkdp/article/view/1231

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade