Melihat Cerita Lama

Masa di Jogja semakin habis digilas ruang dan waktu, pada akhirnya tanggungjawab yang sempat membuat pundakku hampir rubuh itu telah lenyap, terganti dengan beban baru yang siap tidak siap harus diletakan lagi dipundak yang sedang mencoba kokoh ini. Jogja menjadi pemanis cerita di usiaku yang hampir menuju 24 tahun. Segala cerita duka ataupun lara.

Diam-diam aku berterimakasih banyak teruntuk segala sesuatu yang pernah terjadi di kota ini. Dan aku ingin di detik-detik terakhir ini aku ingin melakukan perpisahan terbaik, sebaik ia menyambutku pertama kali bertamu di tempat ini.

Beberapa hari lalu, aku membuat proposal perjalanan yang aku ajukan ke teman baikku, tanpa fafifu ia pun menyetujui. Sedikit cerita, kami bertemu saat kami di beri tugas oleh kampus untuk KKN di tahun 2016 lalu, kesukaan akan beberapa hal yang sama membuat kami dekat. Lebih dari itu dia teman berbicara yang menyenangkan.

KKN berlalu tapi kami masih sering bertemu. Dan yang terjadi, maka terjadilah.

— Misi perjalanan dalam proposal itu pada akhirnya kami mulai pada hari ini, Tanggal 24 Oktober 2018. Kami mengawali perjalanan kami dengan menelusuri jejak lagkah tempat pertama kami bertemu, sekedar ingin merasakan Soto di angkringan dekat masjid yang rasanya sedap tak ada ampun itu. Tapi kami harus merelakan harapan kami lebur ketika menjumpai tempat yang kita tuju tutup. Alhamdulillahnya, masih ada tempat lain yang dulu sering kami kunjungi ketika kami ingin memanjakan lidah. Mie Ayam Bakso Wonogiri, letaknya searah dengan tujuan utama kami — kiri jalan.

Setelah mengisi perut kami melanjutkan perjalanan — menuju kopi merapi.

Foto ini diambil pada tahun 2016 lalu

Pertama kenalan dengan tempat ini di tahun 2016 lalu lengkap dengan musik kroncong yang terdengar di seluruh penjuru ruangan. Kesan pertama, tentu saja aku tidak menyangka jika ada tempat ngopi yang enak di tengah alas. (Jalan yang dilalui untuk menuju lokasi ini yang membuat aku tidak yakin) Tapi tentu, dengan begini tempat ini menjadi tempat penepian yang paripurna. Damai bukan main. Hawa pegunungan yang sejuk dan jauh dari keramaian. Lagu kesukaan juga bisa diperdengarkan untuk menggenapkan.

Dan hari ini segalanya terasa jauh berbeda. Bukan saja tata ruang yang sedikit berubah. Melainkan suasana — antara pikiran dan hati. Baru kali ini rasanya aku bisa benar-benar menikmati penepian.

— Setelah memesan menu, kami memilih duduk di bangku atas, sayang Gunung merapi sedang berselimut mendung. Jika tidak aku yakin suasana ini akan terasa jauh lebih sempurna. Tidak lama berselang pesanan kami datang. Temanku memesan robusta susu dan mendoan, sedang aku memesan robusta merapi dan kacang rebus.

Obrolan dimulai dengan pengantar membaca kembali cerita lama — dan berakhir dengan masa depan yang sama-sama sedang kami khawatirkan. Dan pertanyaan yang sempat aku sendiri tak paham betul apa jawabannya, hari ini terjawab. Tidaklah Tuhan menulis cerita hambaNya dengan sia-sia. Hari ini aku semakin percaya bahwa rasa sakit itu benar-benar menguatkan — bahwa apa yang menurut kita tidak baik terkdang cara kerjanya berlawanan dengan yang dirasakan. Ujian adalah cara Allah memberi bacaan terbaik untuk mencari apa yang menjadi pesan dibaliknya.

Kamipun pulang dengan perasaan senang — membawa pesan masing-masing tentang apa yang kami peroleh hari ini. Kemudian semuanya berlalu~

menjadi kenangan.