GIGIL

Ini gigil paling meresahkan yang aku alami setelah sekian lama. Aku tak tahu apa penyebabnya kali ini, tapi jelas bukan hal baik. Terakhir aku mengalaminya, sebuah kampung nyaris habis dilalap kebakaran.

Kalian mungkin bingung dengan hubungan antara gigil yang kurasakan dan kebakaran yang menimpa sebuah kampung. Aku pun begitu pada mulanya. Tapi setelah sekian lama dan sekian kalinya, aku mulai menemukan pola dari dua hal itu: gigil dan bencana.

Menurut ibu, aku sudah mengalami ini sejak kecil. Ia bilang aku adalah bayi paling sehat yang pernah ia temui. Semenjak tangisan pertamaku ketika lahir, tak pernah lagi aku merengek karena sakit ataupun demam. Apa pun yang terjadi, aku tak pernah dihinggapi sakit. Begitu terus sampai aku berumur lima tahun lebih beberapa minggu.

Saat itu, tanpa ada sebab yang jelas, aku mengalami apa yang menurut ibuku sebagai demam dengan gigil paling mengerikan yang bisa dialami seorang bocah. Panasku tinggi sekali,aku menangis meraung-raung. Ibuku kalang kabut berusaha menenangkanku dengan segala kudang-kudang dan kidung-kidung yang ia hafal. Tetap tidak mempan.

Hingga bapak dan ibu akhirnya memutuskan membawaku ke rumah sakit. Tengah malam mereka mencari pinjaman kendaraan dan membawaku ke unit gawat darurat terdekat yang bisa mereka temui. Pukul satu tepat aku dirawat di IGD, kritis, dokter tak berani menjanjikan apa pun. Pukul lima pagi, gunung berapi terbesar di pulau ini meletus. Pukul tujuh pagi tepat, ayah dan ibu sudah membawaku pulang. Seolah tak ada demam yang hampir membunuhku beberapa jam sebelumnya.

Sejak saat itu, tiap aku mengalami demam, pasti ada satu hal buruk yang akan terjadi. Semakin buruk gigil demamku, semakin mengkhawatirkan bencana yang terjadi. Tak sering memang aku mengalami demam separah saat gunung berapi terbesar di pulau ini meletus dan meluluhlantakkan banyak daerah di sekitarnya. Aku seringnya hanya mengalami masuk angin dengan kejadian-kejadian buruk ringan yang mengikutinya. Seingatku baru empat kali aku mengalami demam yang nyaris separah waktu umurku lima tahun itu. Semua demam itu pasti diikuti dengan malapetaka. Seperti sebuah nubuat yang niscaya.

Kalian mungkin berpikir kalau memiliki kemampuan ini akan sangat bermanfaat buatku. Aku bisa mengubah jalan takdir karena dapat memperkirakan bahwa sebentar lagi ada hal buruk yang akan terjadi atau setidaknya membuatku jadi waspada. Tapi percayalah, tak pernah sekalipun dalam hidupku yang hampir seperempat abad ini, aku bisa mencegah apapun itu yang hendak terjadi. Tak sekalipun!

Maka hal itulah yang menggelisahkanku dua hari ini. Apa penyebab demamku? Teman-teman semua khawatir meskipun mereka tak tahu arti sesungguhnya dari gigilku ini. Mereka hanya tahu aku orang yang tahan banting dan nyaris tak pernah sakit. Jadi ketika sekali ini saja aku demam dan tampak begitu pucat, bahkan bagi mereka pun ini adalah hal yang tak biasa.

“Kawan, apa-apaan wajahmu itu? Dan kenapa kau menggigil? Kau sakit?”, tanya Wanto begitu aku keluar dari kamar kos.

“Entahlah, sepertinya aku sedikit demam, yang jelas aku kedinginan sekali,” jawabku.

“Ah, ini pasti karena kau hujan-hujanan tempo hari. Ya, kan?” tanya Wanto.

Dilamun badai pun aku tak masuk angin kalau memang tak ada bencana yang akan datang. Tapi kuanggukkan saja kepalaku daripada harus kujelaskan semuanya. Bisa-bisa si kawan ini menganggapku meracau karena demam tinggi.

“Ya, bisa jadi,” jawabku pelan.

“Kau tahu apa yang bisa membuatmu merasa lebih baik?” tanya Wantomemancing.

“Apa?”

“Burjo, Kawan! Percayalah tak ada yang tak bisa diperbaiki oleh semangkuk burjo hangat!” kata Wanto bersemangat.

“Termasuk motor bututmu?” kataku.

“Kampret!” maki Wanto kesal.

Demi mendengar itu aku pun tertawa. Wanto memang keranjingan bubur kacang hijau atau yang lebih senang ia sebut burjo. Baginya tak ada waktu yang tak tepat untuk menikmati semangkuk burjo. Dunia boleh kiamat, katanya suatu waktu, asal ia sudah selesai dengan burjonya.

“Ya sudah, ayo ikut aku ke burjo Mang Udin. Sudah banyak yang berkumpul di sana. Ada beberapa anak baru yang ikut gabung. Kata Iva ada yang manis juga, lho,” ujarnya semangat.

Sesampainya di sana, tanpa menyia-nyiakan lebih banyak waktu, Wanto memesan dua mangkuk burjo. Untukku dan untuknya. Aku langsung bergabung dengan kawan-kawan yang sudah lebih dulu di sana.

Di meja itu aku kembali dicecar pertanyaan-pertanyaan perihal keadaanku saat ini. Semua pertanyaan itu tak pelak membuatku makin khawatir. Pertanyaan-pertanyaan itu membuktikan satu hal: demam ini cukup parah untuk dihiraukan. Lelah dengan itu, aku berusaha mengalihkan arah pembicaraan dengan menanyakan soal anak-anak baru yang akan bergabung itu.

“Nah, kebetulan itu mereka datang,” tunjuk Iva.

Aku menoleh ke arah yang ditunjuk Iva. Ada beberapa orang yang memang berjalan ke arah kami. Di antara mereka ada satu orang gadis yang langsung melambaikan tangan sambil berteriak kecil memanggil Iva. Semakin dekat, makin terasa ada yang aneh. Bukan di wajahnya karena memang tak ada yang salah dari penampilan gadis itu. Hanya saja ia nampak familiar.

“Lho, ternyata Mas ini temannya Mbak Iva dan Mas Wanto, ya?” gadis itu tiba-tiba bertanya padaku begitu sampai di meja kami. “Dan, ya ampun! Mas pucat sekali. Mas sakit? Demam ya? Pasti karena waktu itu bantu nuntun motorku yang mogok pas hujan-hujan.”

Ia bicara dan bicara terus. Aku hanya menatapnya saja karena memang tak ada kesempatan untuk gantian bicara. Kepalaku tiba-tiba kembali pusing. Dingin. Mataku berkunang-kunang dan kenapa pula aku menggigil sehebat ini. Seluruh dunia sepertinya berputar dan berputar dan berputar. Dingin. Kawan-kawanku panik. Mereka terdengar jauh sekali. Semua mengabur. Aku menggigil.

Gadis itu. Motornya yang mogok di tengah hujan. Bibir tipisnya yang seolah menari kian kemari saat bicara. Mata hitamnya yang memohon. Aku yang kemudian sok ksatria menuntunkan motornya alih-alih berteduh karena waktu sudah kian malam dan ia harus segera pulang. Ia yang bicara dan terus bicara. Perjalanan yang jauh dan basah. Aku yang entah mengapa tak keberatan.

Pemahaman itu menabrakku seketika.

Demi Tuhan.

Bencana benar-benar akan terjadi.