From D to C

Saya belum pernah jatuh cinta begitu dalam pada sebuah tempat atau pada seseorang (saya nggak yakin yang kedua ini) sehingga saya akan sangat sulit dan sedih manakala (disebabkan oleh suatu alasan yang menurut saya jelas dan logis) saya harus meninggalkannya. Tidak ada yang begitu istimewa di dunia ini. Demikian juga dengan Kota Depok yang tidak terlalu saya kenal dengan baik. Meskipun selama lima tahun saya tinggal dan berpindah-pindah di dalamnya, sama sekali tidak membuat saya mengerti mengapa saya harus tetap tinggal di sana.

bukankah masih banyak tempat untuk didatangi? bukankah masih banyak orang yang perlu dikenali?

Enam bulan setelah saya merencanakannya, saya pun pindah, ke sebuah tempat yang sulit untuk ditebak -saya memang tidak pandai menebak apapun. Tempat ini jauh dari toko buku dan pusat perbelanjaan -it should be good-, apalagi tempat ngadem 24 jam yang ada fasilitas wifi gratis, tidak ada. Dari perspektif ekonomi, kondisi demikian cukup ideal untuk memangkas pengeluaran-pengeluaran sia-sia yang sering terjadi karena khilaf.

Sudah hampir tiga bulan saya tinggal di Condet, sebuah wilayah yang panas saat malam dan sangat panas saat siang. Saya tinggal tidak jauh dari tempat saya bekerja, yakni PKPU-ini adalah alasan terkuat saya pindah dari Depok. Condet, atau Jalan Raya Condet, berbatasan dengan Jl. TB Simatupang di sebelah selatan, dan berbatasan denga Jl. Dewi Sartika di sebelah utara. Tidak ada transportasi umum di sepanjang jalan ini kecuali metromini 53 -yang jarang datang dan cukup rawan copet-, taksi, ojek, dan transportasi umum berbasis aplikasi. Dari utara ke selatan, ada beberapa tempat yang cukup menyolok mata, yakni:

RINDAM. Kalau jalan kaki dari tempat tinggal saya, saya perlu waktu 15–20 menit untuk sampai tempat ini. Tempat ini sangat hijau, karena memang cat tembok bangunan-bangunannya berwarna hijau. Bahkan orang-orang di dalamnya sering pakai pakaian hijau. Lapangannya luas. Dan saya suka yang hijau dan luas. Ini yang membuat saya selalu ingin lari ke sana setiap pagi dan tidak pernah berhasil karena kasur saya selalu lebih indah di pagi hari.

Tempat ini sering dijadikan tempat konser, baik konser dangdut, acara musik tv yang banyak ngobrolin kehidupan orang lain (kalau ini konser bukan ya?), band legendaris favorit saya Sheila on 7, sampai penyanyi solo legendaris Iwan Fals yang suaranya membuat jantung saya seperti ingin berhenti memompa darah karena ingin ikut menikmati suaranya. Tapiiiii, selama tiga bulan saya di sini belum sekalipun saya masuk ke RINDAM, baik buat olahraga maupun buat nonton musik. Mungkin karena saya perempuan pemalu dan akan tiba-tiba bertingkah sangat bodoh kalau harus masuk ke wilayah yang isinya hampir laki-laki semua. (Semoga nanti kamu mau nemenin saya olahraga pagi dan nonton konser ya, Su. Nggak harus ke RINDAM kok. Asal sama kamu mah aku mau ke mana aja. Asal jangan ke neraka aja ya, Su! Cause I am gonna stand by you but I don’t want to walk trough hell even with you! Dear, suami masa depan!)

Tempat kedua yang menyolok adalah rerukoan. Ada di sebelah kanan jalan raya kalau dari arah TB. Simatupang. Tempat ini jadi tempat -terpaksa- yang sering saya kunjungi karena dua mesin kartu ATM saya, yakni Muamalat dan BSM (nggak apa-apa yang sebut merk, sekalian promosi perbankan syariah wkwk) ada di sini dan cuma di sini adanya di sepanjang Jalan Raya Condet. Jaraknya sekitar 5–10 dari RINDAM dan dipisahkan jalan raya. Masuk ruko ini harus membayar 2.000 rupuiah kepada Tukang Parkir. Kalau tidak mau lebih baik jalan kaki atau naik ojek saja dan tidak usah bawa motor atau mobil sendiri.

Selanjutnya adalah kantor POS INDONESIA yang berada di sebelah kanan jalan raya kalau dari arah TB Simatupang. Saya sering mengunjungi POS INDONESIA (atau kadang JNE) karena saya sering mengirim baik surat ataupun paket untuk orang tua, teman-teman, atau adik-adik di kampung halaman. Ya, saya setradisional itu mau mengirim SURAT di tengah kehidupan modern Jakarta. Ketersediaan jasa pengiriman barang ini agaknya akan sangat jadi pertimbangan saya untuk memilih tempat tinggal, hahaha.

Tempat lain yang setiap Senin-Jumat saya kunjungi adalah tentu saja tempat saya berkontribusi (bukan bekerja) untuk perbaikan masyarakat, yakni PKPU Lembaga Kemanusiaan. Sepanjang Jalan Raya Condet terdapat tiga kantor PKPU, yakni Kantor Bagian Marketing dan Komunikasi di sebelah kiri jalan (dari arah TB Simatupang ya) samping BNI ATM Center; kemudian ada Kantor Bagian Administrasi dan Keuangan, sebelah kanan jalan setelah POS INDONESIA, dan satu lagi Kantor Bagian Pendayagunaan yang jaraknya sekitar 2 menit dari Kantor Bagian Administrasi dan Keuangan. Nah, di kantor yang terakhir ini nih saya setiap hari membuat perencanaan proyek-proyek untuk pemberdayaan masyarakat, mengontrol implementasinya serta mengawal pelaporannya.

Tempat lain yang setiap hari saya tempati adalah tentu saja tempat tinggal saya di Condet ini. Letaknya persis di belakang Mushalla Al Awwabin Jalan Kayu Manis. Lokasi paling strategis karena 2 menit ke kantor, 2 menit ke tempat-tempat makan enak dan terjangkau harganya. Dekat mushalla menjadi nilai tambah.

Ok. Berlanjut ke tempat berikutnya. Beberapa tempat makan yang sering juga saya kunjungi: Warteg belakang MEGA BAJA yang selalu disebut sebagai Warteg MEGA BAJA. Ini menjadi favoritnya anak-anak di kantor karena rasanya kayak masakan rumah banget, dan beli nasi setengah porsi udah kayak satu porsi di warteg lain; BEBEK NGAMUK yang letaknya di sebelah kiri jalan setelah SPBU dekat BATA, ini juga menu favorit makan siangnya kami di kantor, atau kadang kalau lembur, kita delivery order di sini. Sambalnya mantap!!!

Nah, terakhir nih. COTTON COMBED: Back to Basic, tempat beli kaos polos yang tokonya baru pindah ke Jalan Raya Condet. Yang terakhir ini belum pernah dikunjungi sih. Sebelumnya masih beli di toko lama. Well, suatu hari insyaallaah ke sana (ini niat untuk khilaf ya?).

Cuma segitu yang baru saya tahu soal Condet. Masih permukaan banget. Sebenarnya tahu juga sedikit daerah Kayu Manis yang ada tempat makan pinggir Sungai Ciliwung. Pokoknya di sepanjang Jalan Kayu Manis ada beberapa klinik, dan banyak tempat makan, termasuk Gado-gado Bu Yati yang selalu punya antrian pembeli sangat panjang.

Semoga tulisan ini bisa jadi terapi saya (yang suka jalan-jalan tapi buta peta) supaya sedikit paham tentang tempat tinggal. wkwk

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.