Kato Nan Ampek: Sebuah Pelajaran dari Perjalanan ke Tanah Minang

Perjalanan merupakan hal yang teramat sangat saya sukai. Melakukan perjalanan (terlebih sendiri) ke tempat-tempat jauh dan asing memberikan sensasi sendiri. Ada orang baru yang saya temui, ada tempat baru yang saya kunjungi, ada budaya baru yang saya ketahui, dan pada akhirnya ada hal baru yang saya pelajari. Bagi saya, perjalanan dan pelajaran adalah dua hal yang tidak perlu saling mencari tetapi mampu saling menemukan. (Duh, bahasanya nggak paham saya! 😅)

Perjalanan kali ini membawa saya ke sebuah daerah yang tidak asing, tapi benar-benar baru bagi saya: Sumatera Barat. Kota Padang merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang sudah jauh-jauh hari ingin saya datangi. Alhamdulillaah, Allah memberi saya kesempatan untuk mengunjungi tanah Minang itu, tanah yang kental akan adat, agama, dan nilai-nilai luhur kehidupan.

Setelah terlibat sebuah drama epik akibat kelalaian diri sendiri (I missed my flight cause I didn’t hear the call. Itu bikin saya muter-muter cari tiket penerbangan berikutnya 😥), akhirnya saya untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Bandara Internasional Minangkabau. Yeay! Seharusnya saya dijemput rekan kerja di bandara, tetapi karena ada agenda mendadak, rekan kerja saya batal menjemput. Thanks to online transportation, I can reach my destination safely.

Perjalanan ke Sumatera Barat ini sebenarnya perjalanan dinas. Saya di Padang hanya satu hari, dua hari sisanya di Solok. Perjalanan dari Kota Padang ke Kota Solok memakan waktu sekitar dua jam. Hari pertama saya habiskan untuk pekerjaan -alasan utama saya ke sana. Dua hari sisanya saya gunakan untuk mengeksplorasi beberapa tempat di Sumatera Barat, di Solok dan sekitarnya.

Namun, di sini saya tidak akan menceritakan dengan terperinci dan jelas tempat-tempat mana saja yang saya kunjungi. Saya akan menceritakan satu nilai luhur orang Minang. Entah kenapa hal ini lebih menarik hati saya dibandingkan tempat-tempat indah yang ada di sana. Keindahan tempat dapat dilihat mata, tapi keindahan nilai-nilai luhur hanya mampu ditangkap hati. (Beuuh, bahasamu Mbak!)

Sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia memiliki banyak sekali suku. Masing-masing suku memiliki sistem adat dan nilai-nilai luhur budaya yang khas. Begitu juga dengan masyarakat Minang. Mereka tidak hanya memiliki rumah adat dan pakaian adat yang indah tetapi lebih dari itu mereka juga memiliki banyak sekali nilai-nilai adat yang luhur dan indah.

Ketika saya berbincang dengan kawan saya, sempat saya bertanya banyak hal tentang nilai-nilai Minang ini. Dia menyebutkan salah satunya. “Di kami ada yang namanya Kato Nan Ampek (Kata Yang Empat)” kata Kak Devi sembari mengendalikan laju mobil -kami dalam perjalanan ke Solok saat itu. Dia melanjutkan, “Kato Nan Ampek merupakan cara bertutur kata ala orang Minang. Kato Mandaki, Kato Malereang, Kato Mandata dan Kato Manurun. Hendaklah diperhatikan etika berkomunikasi dengan orang tua, orang yang dituakan, teman sejawat dan orang di bawah kita.”

Jadi kalau dirincikan, Kato Nan Ampek itu adalah sebagai berikut.

1. Kato Mandaki

Kato Mandaki merupakan etika berbicara dengan orang tua atau orang yang lebih tua. Kepada orang tua atau orang yang lebih tua, hendaknya kita bertutur kata dengan lembut dan sopan, bertindak dengan sopan, dan mampu menghormati.

Mandaki berarti mendaki. Itu artinya, orang-orang yang sedang kita ajak berbicara merupakan orang-orang yang berada di atas kita secara hirarki jumlah tahun, atau hirarki hubungan keluarga, atau hubungan guru-murid.

2. Kato Malereang

Kato Malereang merupakan etika berbicara dengan orang yang dituakan secara adat atau orang-orang yang terhormat seperti orang-orang nagari (pemerintahan). Kepada orang-orang ini, hendaklah kita juga harus berbicara dengan lembut dan santun.

3. Kato Mandata

Kato Mandata merupakan cara bertutur kata kepada teman sejawat kita. Yakni kepada mereka yang seusia dengan kita. Kepada teman sebaya, tutur kata kita mungkin tidak sebagaimana kepada orang yang lebih tua, tetapi kata-kata itu tetap harus dalam koridor saling menghargai, saling menjaga perasaan, dan tidak menyinggung.

4. Kato Manurun

Kato Manurun digunakan saat berbicara kepada orang yang lebih muda dari kita, seperti orang tua kepada anak, kakak kepada adiknya, guru kepada muridnya. Kepada yang lebih muda itu tetaplah harus juga pandai menghargai dan tidak semena-mena. Tidak merasa paling tahu dan paling benar.

Meskipun masyarakat Minang terkesan keras dalam berkomunikasi, tetapi sebenarnya mereka memiliki standar etika yang sangat baik. Etika yang berasal dari nilai-nilai adat yang sangat perlu dijaga agar tetap lestari.

Dari masyarakat Minang kita dapat belajar bagaimana menempatkan diri kemudian bertutur kata serta berperilaku yang sesuai. Kita harus pandai melihat siapa kita dan siapa lawan bicara kita dan bagaimana seharusnya kita berbicara dan berperilaku dengannya. Etika berkomunikasi seperti ini saya kira penting untuk diterapkan baik untuk berkomunikasi secara langsung ataupun tidak langsung, seperti di social media.

Dari sini saya juga menyadari bahwa Indonesia memiliki begitu banyak nilai-nilai luhur, yang apabila tetap dijaga dan diterapkan tidak mustahil bahwa negeri ini akan menjadi negeri yang damai, adil dan makmur.

Bonus kopi hitam milik Uni Devi.