Mengapa Medium?

Sudah lama sekali saya tidak menulis. Saya bukannya seseorang yang rajin sekali menulis dan menghasilkan tulisan-tulisan inspiratif, saya hanya mantan remaja yang pernah menghabiskan waktu menjelang tidurnya dengan menulis di buku harian. Meskipun tidak sering, hal itu masih saya lakukan bahkan saat saya sudah berubah menjadi makhluk yang dipanggil ‘ibu’ oleh beberapa kolega kerja. Bagi saya, menulis adalah memberi ruang kepada hati untuk mengungkapkan rasa bahagia, sedih, kecewa, khawatir, menyesal dan bersyukur. Menulis juga berarti memberi ruang kepada akal untuk menelaah dan merefleksikan apapun yang dilihat mata, didengar telinga atau yang dirasakan hati.

Medium adalah ruang yang memberi saya kesempatan untuk melanjutkan ritual sebelum tidur saya. Sebuah wajah sederhana tapi indah dan dapat digunakan dengan mudah. Yang lebih penting, tidak banyak teman saya yang memakainya. Ketertutupan adalah nilai tambah.

Medium menawarkan berbagai pilihan penulis. Itu saya suka. Dan lagi, di Medium ini, menurut pengamatan saya yang sangat singkat dan dangkal, diisi dengan orang-orang yang gemar membaca dan menulis. Jika saya mengikuti akun mereka, saya akan mendapatkan bermacam rekomendasi buku, website, atau penulis.

Sampai saat ini, saya menyukai Medium dengan segala ke-sederhana-tapi-elegan-annya.

Depok, 18 April 2016

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Riyanti W’s story.