“Gendheng … gilo-gilo baso …,” kata Pak Rosihan Anwar: Catatan Dari Seminar Pendidikan Apresiasi Seni Universitas Negeri Jakarta (2007)

Catatan: Tulisan ini saya posting di ruang Note fb saya pada 2 April 2009, tetapi sampai hari ini topik yang dibicarakan masih relevan. RS.

“Saya adalah produk kolonialisme, … saya iri pada kalian …” kata Rosihan Anwar mengomentari para pembicara dalam “Seminar Pendidikan Apresiasi Seni” yang diselenggarakan Akademi Jakarta dan Universitas Negeri Jakarta, 10/9/07. Tokoh wartawan ini mengatakan pendekatan apresiasi seni di jamannya (1930-an) jauh berbeda dari substansi yang dibicarakan dalam seminar itu. Seni tradisi kurang diperhatikan. Apalagi dalam konteks sosial-budayanya. Pendidikan apresiasi seni yang ditawarkan para pembicara membuatnya “iri”, sekaligus bangga atas kekayaan tradisi bangsa ini. Bila apresiasinya dilakukan dengan benar akan melahirkan kemampuan memahami konsep yang melatarinya. Menurutnya, dahulu tidak begitu. Agar bisa tampil, katanya, ia main ukulele. Jenis musik yang populer masa itu. Minatnya pada tari adalah dansa-dansi gaya orang Barat “seperti tango” atau irama lainnya, dan itu dilakukan di Jakarta, karena ketika itu kursusnya terdapat dimana-mana.

Memang, menengok ke belakang, setelah Thomas Edison menemukan alat rekam suara, phonograph, tahun 1877, pengaruh industri hiburan (seperti musik yang dimainkan Pak Rosihan Anwar itu) mewabah ke seluruh dunia. Di Indonesia masuknya melalui jalur radio kolonial Belanda. Tahun 1925 radio BRV (Bataviaasche Radio Vereeniging) yang kemudian berubah nama menjadi NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij), 1934, adalah radio kolonial yang menyiarkan lagu-lagu Barat produk industri itu. Catatan penulis Hungaria yang pernah tinggal dan menjadi Tuan Kebun di Tanah Deli, Ladislao Székely, mendeskripsikan kelompok teater Bangsawan di Medan memainkan lagu-lagu “hit” Eropah dan Amerika awal abad 20 seperti: It’s a Long Long Way to Tipperary (lagu yang populer semasa Perang Dunia I), dan Yankee Doodle yang dimainkan trio (piano dan 2 biola). Suami penulis Belanda, Madelon Lulof ini dalam bukunya Tropic Fever berkomentar “The fellows played so out of tune that one’s ears ached, …” katanya, (Székely, 1989:295). Di belahan dunia lain, musik dansa-dansi yang disebut Pak Rosihan diatas, pertamakali “meledak” dalam industri musik melalui hit “Alexander’s Ragtime Band” yang dipimpin Irving Berlin, 1911, di Amerika. Pola gerak tarian awalnya diperkenalkan di Paris oleh pasangan suami istri, Vernon dan Irene Castle. Tahun 1912 jenis musik ini semakin populer di tengah-tengah elit Eropah dan Amerika. Pengaruh inilah yang menjadi trend di jamannya Pak Rosihan Anwar itu. Setelah Perang Dunia II, popularitas jenis musik rekaman pengiring dansa-dansi ini tergeser oleh popularitas artis penyanyi bintang (Sanjek, 1991:13).

Alexander’s Ragtime Band—Irving Berlin 1911 (Courtesy YouTube)

Pengakuan Rosihan Anwar diatas mengindikasikan apresiasi kaum intelektual di jaman sebelum merdeka pun sudah diwarnai oleh pengaruh industri hiburan. Mungkin tak berbeda dengan situasi sekarang, pengetahuan seni tradisi tidak menjadi perhatian. Namun, menurutnya, dengan keterbatasan pengetahuan itu, sekolahnya di Kayu Tanam, Sumatra Barat, menghasilkan seniman-seniman hebat seperti Syaiful Bahri (musik), Asrul Sani (sastra & film), dan sejumlah tokoh nasional lainnya. Di akhir komentarnya ia bergurau: untuk menumbuhkan kreativitas, seniman seharusnya “gendheng” atau “gilo-gilo baso,” (gila), katanya. Benarkah demikian? Apakah pendekatan pendidikan yang merangsang kreativitas dikedepankan dalam pendidikan apresiasi seni sekarang?

F. Widayanto menyatakan hal yang bertolak belakang: tidak mendorong kreativitas. Pemaksaan sistem yang tidak tepat di sekolah-sekolah formal justru “memasung” kebebasan anak untuk berkembang. Daya fantasi anak yang seharusnya diberdayakan justru rusak oleh pendekatan “penyeragaman,” kata seniman keramik lulusan ITB ini. Endo Suanda mengidentifikasi masalah lebih tajam: pengajaran dengan kaidah seni Barat “warisan pemerintah kolonial” tidak sinkron dengan budaya spesifik di Indonesia. Hasilnya bertentangan dan melahirkan pandangan etnosentris: buruk, bukan seni, dll. Lalu, untuk Indonesia yang multi kultur ini, kaidah mana yang akan dipakai? Apakah ada pendekatan Nusantara? Kalau lokal: yang mana? Pendekatan politik “puncak-puncak” akan mengeliminasi bentuk-bentuk kesenian dari budaya masyarakat berpopulasi kecil atau budaya pendatang. Kalau pendekatannya adalah geografis, maka yang akan dihadapi adalah heterogenitas dan sempit/luasnya keberadaan budaya di dalam suatu wilayah administratif. Lalu apa jalan keluarnya?

Endo menawarkan pengalaman Lembaga Pendidikan Seni Nusantara yang dipimpinnya yaitu pendekatan topik atau tematik (misalnya kelompok seni musik yang menggunakan gong, tkelompok tekstil, topeng, dll.) bukan pendekatan kategori (seperti tari, teater, musik, dan seni rupa). Menurutnya pendekatan topikal lebih bisa menampung keberagaman kesenian lokal; lebih terfokus. Apresiasi seni bisa diarahkan kepada konteks sosial. Sasarannya adalah kepekaan, keberminatan, keterlibatan, dan kepedulian peserta didik. Metode pengajaran silang budaya menjadi sangat penting bagi guru-guru. Uraian apresiasi seni melalui disiplin yang didasari kultur spesifik di lingkungan keluarga, sebagaimana disampaikan pembicara Retno Maruti merupakan cara yang jauh lebih efektif bagi kehidupan bermasyarakat. Meski contoh uraiannya adalah kesenian Jawa, tetapi masyarakat adat lain seharusnya memanfaatkan kekayaan dan potensi budayanya sendiri. “Bukan harus Jawa,” katanya.

Gitar terbuat dari bahan bambu, hasil eksperimen dan pengembangan pendidikan LPSN yang dirintis dan dipimpin Endo Suanda (Lembaga Pendidikan Seni Nusantara) (Courtesy YouTube)

Setiawan Sabana melihat perlunya paradigma baru dalam pendidikan apresiasi seni di pendidikan tinggi. Menurutnya pendidikan tinggi yang bertujuan “mencetak” seniman, tak lebih dari pendekatan sanggar. Yang diperlukan adalah keseimbangan antar bobot kesenimanan dan bobot keilmuan yang berorientasi pada potensi multikultural negeri ini. Ini bisa dicapai melalui pendekatan multi disiplin ilmu dan sikap keterbukaan, kata guru besar Fakultas Seni Rupa ITB ini.

Noorca M. Massardi, wartawan dan penulis novel, mengritik kemandulan pendidikan apresiasi seni terhadap SDM yang bergerak dalam dunia media. Menurutnya “pengelola media tidak perduli pada seni.” Kritik seni tidak berkembang. Ulasan-ulasan tentang seni tak lebih dari sekedar laporan jurnalistik. Proses dan makna yang ingin disampaikan seniman tidak tersentuh, katanya. Calon wartawan tidak berminat meliput dunia seni. Alasannya “tidak menarik”, “tidak menguasai” dan “takut”.

Dari seminar itu tergurat kesimpulan bahwa pendidikan (apresiasi) seni di negeri yang kaya ekspresi budaya ini gagal. Benarkah demikian? Bila benar, apa jalan keluarnya? Apakah model pendidikan yang ditawarkan LPSN, topikal dan tematik, bisa mengatasi permasalahan? Mungkin yang harus disepakati terlebih dahulu adalah kenyataan bahwa konsep-konsep kesenian yang unik dan plural itu seharus tidak boleh dibiarkan terberangus oleh pendekatan pendidikan yang seragam. Sampai sejauh ini pendekatan topikal dan tematis adalah pilihan yang tampaknya jauh lebih menjanjikan. Persoalannya apakah pemerintah mau mengakui dan menjadikan konsep ini sebagai salah satu alternatip pendidikan seni di samping gagasan lain yang mungkin muncul di masa yang akan datang? Mungkin jalan yang pertama adalah segera menyasap perilaku budaya “imperialisme birokratik” lembaga-lembaga pengambil kebijakan pendidikan di negeri ini. “Imperialisme birokratik” juga “gendheng … gilo-gilo baso.” Bukankah begitu, Pak Rosihan?

Bahan bacaan:

Székely, Ladislao. 1989. Tropic Fever: The Adventures of Planter in Sumatra, transl. Marion Saunders (Singapore: Oxford University Press).

Sanjek, Russell, & David Sanjel. 1991. American Popular Music Business in the 20th Century, (New York: Oxford University Press).

Kumpulan Makalah Seminar Pendidikan Apresiasi Seni, diselenggarakan Akademi Jakarta & Universitas Negeri Jakarta 10 September 2007

Jakarta, 2 April 2009, updating/revisi tulisan tanggal 19 dan 12 September 2007
©rizaldisiagian

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Rizaldi Siagian’s story.