Kita Butuh Guru dan Mursyid, Tak Cuma Komputer dan Internet

Anak sekolah bersepeda bertemu guru sesudah subuh.

Diri kita adalah ‘human hologram’ kata ilmu antropologi-subjek, ‘kepompong’ kata para sufi. Itulah wujud mahluk manusia yang diciptakan dengan perangkat kemampuan indra dan kecerdasan super canggih. Dibalik itu, indra yang canggih itu ternyata bisa menjerat manusia ke jurang kesesatan ketika ia mempersepsikan fenomena alam dan sosio-budaya di lingkungan kehidupannya tanpa bimbingan seorang guru yang ahli. Mungkin itu iktibarnya mengapa Allah SWT menurunkan malaikat Jibril untuk mendampingi para Rasul Allah di berbagai saat ketika wahyu diturunkan, atau ketika ia memimpin umat. Tugasnya adalah membimbing, menjadi “guru”, menjadi “mursyid” para rasul, agar indra dan kecerdasan yang melengkapi kepompong, human hologram itu, tidak sesat dan menyesatkan justru karena kecanggihan indra yang dimiliki sangat potensil merekam kesalahan dalam memahami/menerjemahkan makna yang bakal menjadi bagian dari diri manusia itu. Itulah sebabnya kita membutuhkan guru dan mursyid, tidak cuma komputer dan internet. Apakah mereka, para mursyid, masih dilahirkan dan ada di lingkungan kita sekarang ini?