Catatan Mengikuti Mega Scale-Up Clinic Endeavour bersama Program BEKUP (BEKRAF for Pre-Startup)

Ini kesempatan pertama saya bisa mengikuti acara besar tentang Startup, yaitu acara dari Endeavour. Terimakasih untuk program BEKUP yang sudah memberikan kesempatan untuk saya agar bisa ikut ke acara ini. Semuanya free ditanggung oleh program BEKUP. Padahal ini adalah acara besar yang cukup mahal.

Endeavour merupakan organisasi skala internasional yang memang fokus membangun ekosistem entrepreneur dengan sistem mentoring dan coaching. Nah di acara ini memang fokusnya adalah itu, saya bisa dapat kesempatan di mentoring 1-on-1 langsung dengan entrepreneur-entrepreneur sukses. Bukan hanya sekedar sukses, tapi sangat sukses.

Baba Rafi, E-Fishery, Elang, 500 Startup sampai sekelas Acer dan Microsoft juga ada. Bayangkan, entrepreneur sekelas Yasa Singgih menjadi Mentee disini. Kebayangkan gimana kelas mentornya kalo menteenya aja Yasa Singgih?

Acara ini digelar dari pagi jam 7.00 sampai jam 21.00. Dibagi menjadi 2 sesi, yaitu sesi talkshow dari pagi sampai siang, dan siang sampai malamnya baru sesi mentoring 1-on-1. Selama seluruh rangkaian acara tidak lupa juga selalu diselingi sesi coffee break sambil networking dengan sesama peserta maupun mentor.

Saya sangat senang dengan sesi talkshownya. Karena para panelis yang diundang juga nama-nama besar seperti Nadiem Makarim Gojek, Ahmad Zaky Bukalapak, hingga Khailee dari 500 Startup. Sehingga otomatis materi yang dibawakan pun sangat berkualitas. Pelajaran dan quote-quote yang saya resapi lumayan banyak.

Diantaranya dari sesi mega trend saya ingat :

  1. “Saya orangnya optimistik. Semua trend global di masa depan yang menunjukkan kehancuran itu bukanlah doomsday bagi saya. Melainkan opportunity yang besar”

Dari sesi tim dan kultur saya ingat :

  1. “Membangun bisnis atau startup itu 100% tentang membangun Tim. Bukan membangun produk. Tim yang baik dan bahagia pasti menghasilkan produk yang keren.”
  2. “Lingkungan kerja yang keren akan mengundang talent yang keren pula.”

Dari sesi value saya ingat :

  1. “Tanamkan selalu nilai dan visi perusahaan pada karyawan setiap hari. Karena hanya itulah yang akan mendrive mereka untuk ikut bersama-sama maju.”

Dari sesi kehidupan bahagia seorang founder startup saya ingat :

  1. “Jangan lupa untuk hidup dan bahagia selama membangun startup. Kerja keras itu sangat adiktif, tapi hidup bahagia sebagai personal juga sangat penting”
  2. “Saya mulai membagi waktu-waktu mana untuk keluarga, untuk personal, dan untuk startup saya. Karena semua harus balance”
  3. “Jika kita tidak bahagia secara personal, bagaimana bisa kita membangun bisnis yang besar?”

Dan dari sesi terakhir mengenai bagaimana memperoleh visi seorang founder saya ingat :

  1. “Saya selalu ingin memperbaiki segala hal untuk menjadi lebih efisien. Itu yang mendrive Go-Jek bisa menjadi seperti sekarang”
  2. “Saya memperoleh visi saya setelah melihat sendiri bagaimana UKM 10 tahun yang lalu memperoleh omset 10 juta/bulan dan saat ini masih memperoleh omset yang sama. Tidak ada growth sama sekali.”

Kesimpulannya adalah : Saya harus bahagia dan balance dalam kehidupan bisnis dan personal saya, selalu optimistik dalam melihat suatu masalah, lebih memperhatikan tim, dan juga memperoleh visi harus berdasarkan diri kita sendiri.

Setelah Isoma, barulah saya mengikuti sesi 1-on-1 mentoring. Saya berkesempatan mengikuti materi Finance & Fundraising dan Talent Management.

Pertama saya mengikuti sesi Finance & Fundraising. Ini benar-benar pengalaman berharga, karena saya bisa ngobrol dengan 3 orang sukses. Yaitu pak Roderick dari VC Sinar Mas, Mr. Cowan dari Synergy Efficiency, dan juga Pak Fajrin dari Bukalapak. Berikut adalah pelajaran yang saya ingat :

Dari Pak Roderick :

  1. Jangan berikan saham receh perusahaan ke banyak orang. Misal kasih 0.05 % saham, tapi ke 100 orang. Lebih baik ke 1 atau 2 orang saja tapi sekalian kasih 10%. Karena semakin banyak investor, semakin pusing mengurusinya.
  2. Seluruh uang yang masuk dari pendanaan investor di tiap stage, sama sekali tidak masuk ke kantong pemilik saham. Tapi ke perusahaan.
  3. Seluruh uang yang masuk dari proses akuisisi perusahaan, masuk ke kantong para pemilik saham.
  4. Seluruh uang yang masuk dari proses pembelian saham oleh orang lain, masuk ke kantong si pemilik saham yang dibeli sahamnya.
  5. Saham yang dimiliki oleh founder, karyawan, maupun investor di startup kita, tidak akan bisa jadi duit selama startup kita belum di akuisisi, IPO, atau saham kita dibeli orang lain.

Dari Mr. Cowan :

  1. Jangan cari funding atau share saham hanya untuk uang. Tapi carilah “smart” money. Misal berilah saham pada profesor yang bisa membantu memberi advice dalam perkembangan produk, atau pada mentor yang bisa membantu memberikan advice rutin dan mengenalkan startup kita pada relasinya.
  2. Lebih baik cari pendanaan dari pinjaman teman/keluarga atau crowdfunding dibanding memberi saham receh pada mereka.

Dari Pak Fajrin :

  1. Rilis dulu produknya dan ada traction, baru minta pendanaan. Karena Bukalapak pun tidak laku ke investor dulu saat platformnya belum jadi.
  2. Bisa share saham ke mentor untuk kasih mentoring rutin tiap bulan sekitar 3% saham.

Pada sesi dua Talent Management, saya bertemu dengan Mr. Lars dari Icehouse, Bu Mariko dari Kitabisa.com, dan Bu Erika dari Kornferry.com. Berikut adalah pelajaran-pelajaran yang saya ingat :

Mr. Lars :

  1. Sebagai CEO, sebagai decider, dan sebagai pemimpin, harus bisa memberikan ketegasan yang baik untuk sistem walaupun itu membuat tidak nyaman tim.
  2. Sesuatu yang baik dan pertumbuhan yang cepat itu selalu diikuti oleh ketidaknyamanan. Namun itu harus. Growth itu tidak nyaman, tapi harus.
  3. Kesalahan bukan pada orangnya, tapi fokuslah pada pekerjaannya.

Bu Mariko :

  1. Lebih baik pecat founder dari awal jika memang tidak bisa mengikuti komitmen daripada pusing di akhir.
  2. Tanyakan prioritas startup kita pada co-founder kita. Apakah yang pertama atau yang ke 10 dalam hidup mereka?
  3. Kultur tim hanya bisa dibangun jika orang-orangnya bersentuhan dan berinteraksi langsung. Tidak bisa jika hanya remote.

Bu Erika :

  1. Fokus pada proses recruitment di awal jika ingin memperoleh talent yang bagus.
  2. Tips mendapatkan talent yang diinginkan adalah, kita harus menentukan terlebih dahulu soft skill apa yang ingin kita dapatkan dari posisi tersebut. Misal, kita membuka lowongan untuk kepala desainer. Maka softskill yang diperlukan adalah orangnya harus kreatif, inisiatif, dan bisa memimpin tim. Setelah itu baru kita cari pertanyaan-pertanyaan interview yang bisa mendapatkan jawaban untuk softskill diatas. Misal untuk inisiatif, kita bisa berikan pertanyaan “Pekerjaan besar apa yang kamu pernah lakukan diluar dari jobdesk kamu saat kerja di perusahaan sebelumnya?”

Kira-kira itu semua adalah pelajaran, quotes, dan pesan yang saya pelajari selama mengikuti acara kemarin. Yang paling penting sih saya dapat kontak-kontak langsung mereka. Saya pun sudah coba follow up melalui email untuk reminder kalau saya adalah mentee mereka kemarin. Dan ternyata beberapa sudah membalas. Ini keren sekali.

Kalau ada acara begini lagi saya pasti mau ikut. Terima kasih BEKUP untuk semua kesempatannya!

Like what you read? Give Rizal Rahman a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.