Sebuah layanan, terutama layanan digital, seharusnya punya fitur-fitur canggih luar biasa yang menguntungkan penggunanya atau kostumernya. Tapi, ternyata ada satu layanan yang menyandang status unicorn yang punya fitur aneh bin ajaib yang bisa bikin kostumer rugi.
Perkenalkan, layanan itu bernama Grab.
Sore hari 1 November 2019, gue melakukan pemesanan ojek online di Grab. Ternyata saat itu ada voucher promo senilai Rp5.000,- Lumayan gue pikir, tarif yang seharusnya Rp14.000,- jadi hemat karena gue hanya perlu bayar Rp9.000,-.
Tapi, pencurian terjadi setelah itu. Iya, pencurian. Atau bisa gue katakan sebagai: maling.
Selesai menggunakan ojek online itu, gue sempet menghitung pengeluaran. Bukan karena gue orangnya perhitungan, tapi gue selalu detail dalam mencatat pendapatan dan pengeluaran. Gue mau bertanggung jawab atas uang gue sendiri, uang yang didapatkan dengan keringat sendiri. Bukan hal yang salah, kan?
Pencatatan pendapat dan pengeluaran itu biasanya gue lakukan tiap pagi abis Subuhan. Biar masih fresh, jadi bisa lebih fokus dan teliti. Nah, pagi hari 2 November 2019, gue melihat ada yang aneh di catatan pengeluaran: minus Rp10.000,-.
Oke, gue tau lu banyak uang, Rp10.000,- mungkin gak seberapa. Tapi bagi orang yang menghargai berapapun nominal uang yang didapet dari keringat sendiri, gue termasuk orang yang akan mempertahankan apa yang sudah jadi hak gue. Masalahnya, kalau selalu dapet minus kayak gini, nantinya akan berdampak ke keuangan gue di masa yang akan datang.
Usut punya usut, minus Rp10.000,- ini dari Grab. Gue yang baru aja ngecek ke mana aja pengeluaran uang gue kemarin itu kaget karena pengemudi Grab menarik OVO senilai Rp10.000,-. Seharusnya gue bayar Rp9.000,-, eh malah jadi Rp19.000,-.
Belum bisa disebut maling?
Oke, mungkin nih ya, mungkin. Pengemudi lagi butuh uang, tapi kenapa gak minta aja langsung? Pasti dikasih. Atau pengemudi salah pencet? Wanjir, salah pencet sempet ngetik dulu “10.000” mantul sekaly. Atau atau, pengemudi emang niat maling karena ada fitur “tambahan biaya ekstra” di aplikasi Grab?
Ealah, ternyata didukung Grab yang kayak gini. Kenapa pihak Grab bikin aplikasi yang punya fitur biar pengemudi bisa ambil uang kostumer seenaknya tanpa persetujuan dari kostumer itu? Ya ambilnya nggak seberapa, cuma Rp10.000,-, tapi itu tetap maling. MALING. M-A-L-I-N-G.
MALING
Dengan berat hati, gue melaporkan sang pengemudi ke Grab, bonus bintang 1. Tapi gimana kalau pengemudi di-suspend? Gimana kalau dia kepepet? Itu risiko pekerjaan. Makanya berbuat baik, bertanggung jawab, bukan jadi maling. Mau ikut-ikutan anggota DPR yang sering korupsi?
Selama Grab masih punya fitur ini, gue akhirnya memutuskan kalau nggak akan menggunakan layanan Grab lagi.
Goodbye, Grab!
