Suksesi Jiwa

Rizky (Icis) Budi
Sep 5, 2018 · 2 min read

Untuk seorang biologis yang paham betul mengenai konsep ekologi pasti sudah tidak asing lagi dengan yang namanya suksesi. Suksesi merupakan suatu proses perubahan dalam suatu komunitas yang berlangsung ke satu arah secara teratur. Hal ini disebabkan oleh “modifikasi lingkungan” dalam komunitas atau ekosistem tersebut.

Kalau kita tela’ah lebih dalam lagi, sepertinya suksesi ini memiliki kemiripan dengan siklus hidup manusia yang melingkupi kegiatan bersosial di muka bumi. Ya, saya menulis siklus karena ‘waktu’ pada kehidupan ini tidak berputar, namun bersiklus. Siklus dengan aktivitas dan template yang serupa tapi tak sama akan dialami oleh sebagian besar umat manusia secara terus menerus.

Lalu apa hubungannya suksesi dengan siklus hidup? pada suksesi, hutan sebagai contoh ekosistem memiliki kemegahan tersendiri seperti fauna-fauna anggun yang menetap di tepian sungai serta pohon yang menjulang tinggi digoyangkan oleh angin sepoi-sepoi sembari menerbangkan polen-polen untuk melanjutkan siklus hidup hutan tersebut.

Namun suatu saat terjadi bencana entah dari bencana alam maupun ulah manusia yang menyebabkan kerusakan fatal pada hutan nan indah tersebut sehingga tejadi kebakaran yang membumihanguskan sebagian lahan hutan.

Sakit? Tentu,

Perih? Jelas,

putus asa? Bisa jadi.

Bangkit?….

Tentunya kita tahu apa yang akan terjadi dengan hutan pasca kebarakan tersebut, ya, suksesi. Lahan hitam bertabur salju arang yang menghujani sungai bagaikan espresso mengalir di sepanjang sungai hutan, lambat laun akan mengalami pertumbuhan spesies baru. Spesies baru ini akan menggerogoti tanah bekas kebarakan dan menumbuhkan vegetasi-vegetasi baru serta menghidupkan kembali suasana asri hutan ke sediakala, bahkan bisa jadi lebih indah.

Layaknya siklus kehidupan, suksesi juga terjadi pada kahidupan manusia khususnya anak muda usia umur 20-an tahun (Dikutip dari buku Gita Savitri : Rentang Kisah), dimana terjadi gejolak jiwa yang mengombang-ambingkan emosi diri dalam menghadapi lingkungan sekitar. “modifikasi lingkungan” yang disebutkan dapat berupa konflik batin (overthinking, insecure,dll) , konflik populasi (kompetisi, misunderstanding, dll) atau permasalahan lainnya yang berujung pada stress berat atau depresi.

Namun yang harus diyakini adalah bencana alam dan kejolak jiwa tersebut ada sebabnya. Tuhan YME selalu mengawasi dan memiliki masterplan atas kejadian-kejadian yang berlangsung. Hikmah yang diambil bisa berbeda-beda tergantung perspektif masing-masing orang tetapi satu hal yang pasti adalah kejadian-kejadian tersebut bukan tanpa sebab. Karena probelama yang dialami hutan tadi dengan kejolak jiwa manusia ini harus berakhir dengan suatu muara yaitu suksesi.

Suksesi jiwa bisa ditandai dengan kejenuhan atas stress itu sendiri. Memang pada dasarnya hidup ini adalah pilihan, maka pilihlah untuk bosan berada didalam zona depresi dan stress tersebut. Keluarlah untuk mencari zona nyaman yang baru. Tumbuhkan spesies baru dalam benak diri untuk dapat menumbuhkan vegetasi-vegatasi seperti teman-teman yang terus menyemangati dan menghangatkan jiwa. HIngga akhirnya berkembang menjadi suatu ekosistem asri yang mempengaruhi satu dengan yang lainnya agar menjadi keseimbangan ekosistem terbarukan.

Sesungguhnya hidup ini berputar bagaikan roda kadang diatas, kadang di bawah. Namun kita bisa mempercepat posisi dibawah dengan bangkit untuk suksesi jiwa sehingga bisa berada di atas roda. Serta perlambat perputaran roda saat kita berada di atas dengan bersyukur atas segala sesuatu yang diberikan oleh semesta ini.

27032018-Rizkicis