
BREXIT: equally bad for both EU & UK unity
If UK & EU praise it’s unity, BREXIT is the definitely a major backlash
“Itu (keluarnya UK dari UE) sangat tidak demokratis dan tidak dapat diterima. Skotlandia menghadapi prospek karena dikeluarkan dari UE tanpa kehendak kami sendiri” adalah respon keras dari Nicola Strugeon setelah diumumkannya hasil referendum yang menyatakan UK akan keluar dari Uni Eropa. Berbeda dengan sebagian besar wilayah di Inggris dan Wales, Mayoritas penduduk Skotlandia (62%) memang memilih untuk tetap bertahan di Uni Eropa. Mereka beralasan bertahan di UE membuat arus perdagangan ke eropa lebih mudah, kesempatan bekerja lebih terbuka, dan terhindar dari bahaya resesi.

Singkat cerita, UK adalah negara kesatuan dengan sistem monarki konstitusional yang terdiri dari 4 negara: Inggris, Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara. Sebagai kekuatan ekonomi tradisional, UK sudah lama menyanjung “kesatuannya”. Namun pada September 2014, ujian untuk menjaga kesatuannya dimulai. Skotlandia mengadakan referendum untuk menentukan sikap keluar/tidak dari negara persekutuannya. Hasilnya? 55% ingin tetap bersama dan 45% sisanya ingin keluar. Walaupun memilih untuk tetap bersama dengan UK namun benih disintegrasi sudah tercium dan mencapai lebih dari sepertiga warga Skotlandia. Nah, ditambah dengan hasil referendum terbaru nampaknya membuat Skotlandia ingin cepat merdeka.
Wabah perpecahan juga cepat menyebar ke tetangga seberangnya, Irlandia Utara dimana 56% populasi memilih untuk remain. Tak tanggung-tanggung Wakil Menteri Utama Irlandia Utara, Martin McGuinness menyerukan untuk melangsungkan referendum untuk bergabung dengan Republik Irlandia yang sudah menjadi anggota UE.
Jika dilihat dari indikasi diatas, kita dapat berasumsi jika memang union jack tak akan lama bertahan. Setelah satu per satu negara anggotanya merasa dikecewakan dan aspirasinya tak terpenuhi.

Tak lama setelah hasil referendum keluar, giliran negara-negara Eropa lainnya berkomentar. Salah satu kandidat terkuat Presiden Perancis dari Partai National Front, Marine Le Pen terang-terangan memuji pilihan warga UK untuk keluar dari UE. Bagi Le Pen, EU merupakan sumber kekacauan dari masalah tingginya angka pengangguran, imigran, hingga terorisme. Terbatasnya otoritas kebijakan ekonomi negara anggota ditengarai menjadi bukti jika UE tak memiliki masa depan. Di hari yang sama approval rate Presiden incumbent Perancis Francois Hollande mencapai level terendah dalam sejarah hanya 14%. Sebagai jangkar ekonomi di UE bersama Jerman, Keluarnya UK memang menjadi tamparan keras bagi Perancis.
Sebagai mitra terdekat UK, Swedia juga mengambil ancang-ancang untuk keluar dari UE. Walaupun survey terbaru menyatakan tidak lebih dari 40% warga Swedia untuk keluar, namun ketakutan sudah sangat terlihat. Margot Wallstrom, Menteri Luar Negeri Swedia menyatakan “Ini (Keluarnya UK) akan berpengaruh kepada anggota UE lainnya, Jika UK bisa keluar, maka sudah seharusnya kita juga mengadakan referendum, dan mungkin kita juga patutnya keluar”. Besarnya arus imigran yang masuk ke Swedia semakin memantik simpati kelompok eurosceptics, mereka yang skeptis terhadap masa depan UE.

Tak hanya Perancis dan Swedia, negara anggota UE lainnya juga bereaksi serupa. Sebut saja Belanda dibawah komando Geert Wilders, Politisi kontroversial yang sempat tenar setelah menayangkan kartun Nabi Muhammadi di televisi ini memimpin Party for Freedom Belanda untuk terus memperjuangkan referendum.
Jika diibaratkan dengan duel tinju, kedua kubu baik UK dan UE benar-benar saling menyakiti. Hasil BREXIT meruntuhkan hagemoni UK sebagai negara kesatuan, juga sukses membangun pesimisme akan masa depan Uni Eropa.