Bintang

Wodhr
“And We have certainly beautified the nearest heaven with stars” - (QS 67 : 5)

Aku belajar sedikit keindahan alam semesta dari beliau. Beliau memang seseorang yang bisa memaknai alam dengan pandangan yang luar biasa. Seringkali aku iri karena terkadang, melalui wajah beliau tercerminkan kekaguman yang luar biasa akan alam semesta, seakan-akan yang beliau lihat merupakan hal-hal yang luar biasa menakjubkan, disaat yang aku lihat hanyalah malam biasa yang ditaburkan oleh bintik-bintik berkilau di seluruh penjuru langit. Aku ingin bisa melihat melalui mata dan pikirannya.

Warna oranye adalah warna kesukaan beliau. Saat aku bertanya kenapa, dengan sederhananya beliau menjawab bahwa ia menyukai warna di kala senja. Saat itu lagi-lagi aku hanya terdiam dan bertanya-tanya, apa bagusnya? Walau hanya sebatas di dunia pikir karena tak tega melihat rasa ketakjubannya akan alam semesta, ciptaan-Nya.

Aku teringat, saat aku kecil, di saat-saat aku belum menjadi seseorang yang “sok” sibuk. Beliau sering membangunkanku, kemudian kita duduk di pelataran rumah, menyaksikan langit di kala malam. Seringkali aku marah, karena aku begitu mengantuk, tapi tak tega menyatakannya karena sekali lagi, beliau seakan hanyut dalam keindahan bintang-bintang. Aku masih ingat cerita-cerita yang ia selipkan, yang kebanyakan berbunyi tentang kebesaran Tuhan, supaya aku tak terlalu bosan menunggunya.

Sekarang, aku mulai merasakan keindahan langit di kala malam yang telah begitu larut.

Sekarang aku pun mulai merasakan indahnya warna oranye di kala senja.

Aku mulai menyukai warna hijau melebihi warna biru. Karena benar apa yang beliau pernah katakan, warna hijau itu begitu menyejukkan, dan ia ingin aku menjadi seperti penyejuk bagi orang lain. Aku ingin beliau tahu, aku mengusahakannya.


Aku sering terbangun dalam keheningan malam dan yang aku pikirkan hanya beliau dan bintang-bintang. Kemudian, aku kan mulai mengingat cerita-cerita tentang alam semesta yang pernah beliau ceritakan. Seakan-akan, hati menyuruhku untuk menghapalkannya, agar kelak aku bisa melanjutkan ceritanya ke orang yang aku sayangi, seperti apa yang beliau rasakan kepadaku.

Dan aku berharap Tuhan menyampaikan perasaan dan rinduku kepadanya melalui bintang-bintang yang dekat dengan surga-Nya.

Dengan segala ketulusan dan kehangatan. Aku mulai merasakan kebesaran Tuhan melalui keindahan alam semesta. Terima kasih telah mengajariku begitu banyak hal.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.